
Usai dari tempat pemakaman, Bintang mengantarkan Kartika dan Ibunya untuk pulang ke rumahnya. Di sisi lain, Bintang nampak masih menunggu Bulan.
"Mau langsung pulang?" tanyanya sembari mengamati Bulan yang bersiap dengan sepeda motornya.
Bulan pun tersenyum. "Iya, sudah hampir sore. Tapi, aku pengen makan mie ayam dulu di depan. Laper banget seharian sampai belum makan." jawab Bulan sembari satu tangan memegangi perut lantaran terasa lapar.
"Yuk, aku temenin makan. Aku juga belum sempat makan." ucap Bintang dengan entengnya.
"Ya sudah, ketemu di warung mie ayam di ujung jalan itu ya." Ucap Bulan.
Kemudian Bulan melajukan terlebih dahulu sepeda motornya, sementara Bintang juga mengikuti dari belakang dengan mobilnya. Begitu sampai di warung mie ayam, Bulan langsung memesan dua porsi, satu untuknya dan satu lagi untuk Bintang.
Sementara ketika Bintang tiba, dia langsung duduk di depan Bulan. "Sudah pesan?" tanyanya sembari merapikan posisi maskernya.
Bulan pun mengangguk. "Iya sudah ... tetapi, aku belum pesan minumannya. Kamu mau apa biar aku pesankan."
"Aku mau es teh saja, kamu apa? Biar aku saja yang pesankan." Ucapnya yang menawarkan kepada Bulan ingin meminum apa.
"Euhm, aku es teh kampul (es teh yang diberi potongan jeruk) aja." Sahut Bulan.
Bintang pun lantas memesan minuman kepada penjual Mie Ayam itu.
Hanya beberapa menit mereka menunggu, kini semangkok Mie Ayam telah tersaji di hadapan mereka masing-masing. Bulan membiarkan sejenak, kemudian mengambil saus dan sambal. Baru saja dia akan menuangkan saus ke dalam Mie Ayamnya, ada seseorang yang memanggilnya.
"Loh, Bulan ... kok di sini?"
Bulan lantas menoleh pada sumber suara itu. Rupanya yang menanyainya adalah Ibunya Surya.
Menyadari bahwa itu adalah ibunya tunangannya, Bulan pun berdiri dan menghampiri ibunya Surya. "Nggih Bu, ini baru mau makan." sahut Bulan dengan sopan.
"Sering makan Mie Ayam di sini tow?" tanyanya.
Bulan pun menggelengkan kepalanya. "Baru pertama kali, Bu. Tadi abis dari rumah murid, mampir makan dulu sebelum pulang Bu." jawab Bulan.
__ADS_1
Ibunya Surya lantas melihat pada Bintang yang masih duduk di bangku. "Makan sama siapa Mbak?" tanyanya dengan wajah yang nampak curiga.
"Oh, sama temen Bu ... temannya Bulan dan Surya juga waktu SMA, namanya Bintang."
Merasa namanya disebut, Bintang pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Ibunya Surya.
Sementara Ibunya Surya yang membeli Mie Ayam dibungkus sudah selesai. "Ya sudah, Ibu duluan ya. Besok main ke rumah, Mbak ... nengokin Bapak dan Ibu." ucapnya.
Bulan pun mengangguk. "Nggih Bu, besok Bulan main ke rumah. Ngantos-atos (hati-hati dalam bahasa Jawa) Bu...."
Usia menyapa dan menemui Ibunya Surya, Bulan lantas kembali duduk dan bersiap menikmati Mie Ayamnya.
"Ayo, Bin ... dimakan. Kok kamu malahan belum mulai makan?" tanya Bulan kepada Bintang.
"Aku nungguin kamu." jawabnya dengan santai.
Bulan kemudian menaruh saus, sambal, acar mentimun, dan juga potongan daun bawang ke Mie Ayam nya. Setelahnya barulah dia mulai memakannya, mengisi perutnya yang memang telah kerongcongan sejak tadi.
Bulan hanya tertawa. "Kalau Mie Ayam enaknya pedes, Bin ... makannya jadi puas."
"Ya tapi jangan banyak-banyak, nanti kamu sakit perut." lagi kata Bintang memperingatkan.
Setelahnya keduanya sama-sama menikmati seporsi Mie Ayam itu.
"Mau tambah rambak?" Bintang menawari Bulan dengan rambak yang dikemas dalam plastik kecil.
Bulan pun mengangguk. "Boleh ... satu aja, Bin. Makasih ya."
"Kamu sering makan Mie Ayam di sini ya?" tanya Bintang kepada Bulan.
Sembari menyumpit Mie Ayam dan memasukkan ke dalam mulutnya, Bulan menggelengkan kepalanya. "Belum, ini baru pertama kali makan di sini. Aku laper soalnya, jadi isi perut dulu abis ini pulang. Lha kamu sesiang nganterin kami, kerjamu gimana Bin?"
"Kerjakan fleksibel kok. Pake handphone juga udah bisa kerja. Nanti malam juga bisa kerja." sahut Bintang.
__ADS_1
"Emang yang dikerjakan apa Bin?" tanya Bulan.
"Aku di bagian Web Desain, jadi ya membuat situs, memperbaiki broken link (link yang eror), buat algoritma juga, banyak kerjaannya cuma bisa dikerjakan di rumah kok asal ada internet."
Bulan mendengarkan setiap penjelasan Bintang. Bekerja di bidang teknologi informasi nampaknya begitu menarik bagi Bulan.
"Enak kerja dari rumah? Atau dari kantor Bin?" lagi Bulan bertanya kepada Bintang.
"Tergantung sih, tapi kalau aku enak kerja dari kantor karena jam kerjanya pasti kan. Kalau dari rumah, justru kerja lebih dari 8 jam sehari. Terus kalau server bermasalahan agak repot juga." Jawabnya.
"Sama kayak guru, enak kerja di sekolah tapi ngajar di sekolah juga, bukan ngajar oleh. Kalau tatap muka itu lebih enak, kalau jarak jauh ini lebih banyak kerjaannya." cerita Bulan tentang pekerjaannya.
Bintang pun memperhatikan Bulan yang sedang bercerita. Bekerja dari rumah memang ada plus dan minusnya. Akan tetapi, setiap profesi pekerjaan tentu punya tantangannya sendiri-sendiri.
Akhirnya keduanya pun juga telah selesai menyantap habis Mie Ayam. Bintang langsung berdiri terlebih dahulu dan membayar makanan yang mereka makan berdua.
Saat Bulan menyusul hendak membayar, Bintang menolaknya.
"Gak usah, Bulan ... udah aku bayar. Kamu mau langsung pulang? Hati-hati ya di jalan. Kapan kamu mau bikin kue bolu, aku tungguin kue nya." ucap Bintang sambil memasukkan uang kembalian ke dalam dompetnya.
Bulan hanya tersenyum. "Nanti kalau aku bikin, aku hubunginya. Nunggu dulu waktu yang agak senggang. Ya sudah, aku pulang ya Bin. Makasih traktirannya. Hati-hati ya...."
Usai berpamitan Bulan langsung mengendarai sepeda motornya dan kembali pulang ke rumahnya. Sementara Bintang pun juga kembali ke rumahnya.
...🌸🌸🌸...
Sementara itu di Makassar, Surya baru saja menerima telepon dari Ibunya yang mengabari bahwa Ibunya baru saja bertemu dengan Bulan di warung Mie Ayam yang tidak jauh dari rumahnya.
Mendengar cerita dari Ibunya yang mengatakan bahwa Bulan sedang makan Mie Ayam bersama seorang teman laki-laki membuat Surya seketika diserang cemburu.
"Apa kamu sering jalan dengan Bintang sekarang Bulan? Apa jarak yang jauh ini membuatmu tidak memberitahuku kalau kamu makan Mie Ayam bersama Bintang? Sekalipun hanya hal kecil, seharusnya kamu memberitahu aku, Bulan. Daripada aku mendengar tentangmu dari Ibuku atau dari orang lain, aku lebih lega jika kamu yang meminta izin sendiri padaku. Apakah susah mengirimkan pesan dan meminta izin untuk makan Mie Ayam dengan Bintang kepadaku?"
Surya seketika merasa resah. Pria itu rasanya ingin segera pulang ke Jogjakarta, menemui kekasihnya dan meminta penjelasan secara langsung. Akan tetapi, Surya lagi-lagi tak bisa berbuat banyak. Tentu saja dia cemburu saat Ibunya bercerita bahwa Bulan sedang memakan Mie Ayam dengan seorang pria, dan pria itu adalah Bintang.
__ADS_1