
Malam itu, usai pulang dari Legend Cafe rupanya Bintang setia mengekori sepeda motor yang Bulan naiki dari belakang. Sehingga lampu sepeda motor dari Bintang seolah menjadi pelita bagi Bulan di kegelapan malam itu.
Dalam diam dan terus melajukan sepeda motor maticnya, Bulan tersenyum dalam hati.
Kamu sosok yang berhati hangat Bintang. Sekalipun sikapmu terkadang nampak dingin, tetapi hatimu hangat. Kebaikan hatimu begitu terasa.
Dengan bergumam dalam hati, Bulan beberapa kali melihat sosok Bintang yang juga mengendarai sepeda motor yang nampak dari rear gear visionnya. Pria itu juga nampak tenang dan tidak terburu-buru. Membiarkan sepeda motor keduanya beriringan menembus jalanan kota Jogjakarta di malam itu.
Perjalanan keduanya pun berakhir, saat Bulan sudah menghentikan sepeda motornya di depan pintu gerbang rumahnya. Bintang pun melakukan hal yang sama, menghentikan sejenak sepeda motornya.
"Sudah sampai di rumah, Bin ... makasih ya sudah dianterin sampai rumah." ucapnya tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bulan.
Bintang pun menganggukkan kepala dan tersenyum. "Sama-sama Bulan... makasih ya buat hari ini." ucapnya.
"Makasih buat hari ini, maksudnya?" tanya Bulan yang bertanya apa maksud dari ucapan Bintang itu.
Sedikit menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, Bintang pun tersenyum. "Untuk buka puasa kita dan untuk sholat kita bersama. Terima kasih."
Mendengar apa yang diucapkan oleh Bintang, tiba-tiba saja jantungnya seolah mengalami debaran kecil. Bukan untuk buka puasanya, tetapi untuk sholat pertama yang mereka jalankan.
Hampir saja usai sholat, Bulan hendak menjabat tangan Bintang. Namun dia urungkan, karena Bintang saat ini hanya temannya. Akan tetapi, saat pria itu mengatakan ingin menuntun Sholat, hati Bulan rasanya benar-benar berdebar.
Bulan pun mengangguk pias. "Sama-sama ... makasih juga sudah dianterin sampai rumah." ucapnya dengan tulus.
"Lain kali ngabuburit bareng mau enggak Bulan?" rupanya Bintang masih berusaha, dia ingin mengajak Bulan untuk ngabuburit bersama.
Gadis itu hanya diam sesekali matanya berkedip, pikirannya tentunya menimbang-nimbang haruskah dia mengikuti ajakan Bintang untuk ngabuburit bersama.
"Mau ke mana emangnya?" tanya Bulan pada akhirnya.
"Ke mana pun kamu mau ... asalkan masih di Jogja." ucap pria itu sembari tersenyum.
__ADS_1
Bulan pun mengangguk pelan. "Kapan-kapan ya, tergantung izin dari Bapak dan Ibu." jawabnya.
Bintang pun menerima ucapan Bulan tersebut. Sekalipun begitu ingin, tetapi Bintang juga tidak ingin memaksa Bulan. Biarkan gadis itu bergerak sesuai dengan kata hatinya.
"Ya sudah ... sudah malam, aku pamit ya Bulan. Selamat malam." pamitnya kemudian menaiki sepeda motornya dan seperti biasa pria itu melambaikan tangannya kepada Bulan.
Sementara Bulan masih berdiri di depan pintu gerbangnya. Gadis itu masih melihat kepergian Bintang hingga punggung pria itu menghilang. Perlahan-lahan, Bulan menghela napasnya dan dia memegangi dadanya dengan debaran jantung yang seolah melebihi ambang batasnya.
Debaran yang membuat gadis itu tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya sembari menuntun sepeda motornya memasuki rumahnya.
...🌸🌸🌸...
Sementara itu di Makassar, Surya masih saja diam. Pikiran pria itu masih saja kalut. Sama halnya dengan Bulan, bulan ini juga menjadi puasa pertama bagi Surya harus jauh dari keluarga dan juga dari Bulan.
Setelah memutuskan untuk mengambil jeda dengan Bulan, Surya lebih banyak menyendiri di kamarnya. Kadang juga dia memilih menongkrong seorang diri di tepi Pantai Losari.
Pun demikian dengan malam ini, Surya memilih untuk kembali menyambangi Pantai Losari. Membiarkan angin malam di tepi pantai itu menerpanya. Berharap dinginnya angin malam bisa mendinginkan hati, perasaan, dan juga pikirannya.
Mengambil jeda dalam sebuah hubungan bukan hal yang mudah bagi Surya. Mungkin sebelumnya, pria itu terlampau emosi saat mengucapkan jeda. Akan tetapi, berdiri dalam pendapatnya apa yang sudah Bulan lakukan sangat menyakiti Surya.
Saat dia sedang duduk, rupanya suara seorang wanita memanggilnya.
"Surya ... kamu ngapain malam-malam di sini?"
Surya pun menoleh dan mencari sumber suara, ternyata di belakangnya tengah berdiri Arunika.
Lantas Surya pun tersenyum dan membalas sapaan Arunika itu.
"Hei Nika ... ini duduk-duduk saja. Nongkrong." sahutnya dengan cepat.
"Boleh gabung?" tanya Arunika sebelum memutuskan untuk duduk di sebelah Surya.
__ADS_1
Pria itu pun mengangguk pelan dan mempersilakan Arunika untuk turut bergabung. "Silakan saja Nika ... kamu sendirian?"
"Iya ... aku sendirian. Tadi abis buka puasa, pengen menghirup udara segar. Jadinya aku ke sini deh. Tumben kamu ke sini malam-malam." tanyanya penasaran kepada Surya yang pergi ke Pantai Losari malam-malam.
Surya pun mengedikkan bahunya. "Aku hanya mencari udara segar saja. Tidak ada hiburan juga di sini." ucapnya dengan tidak bersemangat.
Arunika pun tertawa. "Kamu kayak lagi ada masalah saja. Kalau ada masalah cerita saja." ucap Arunika yang merasa saat itu Surya sedang banyak pikiran sehingga pergi ke Pantai Losari di malam hari.
Dengusan kecil terdengar dari Surya. "Setelah sekian lama, akhirnya aku tahu siapa gadis yang disukai oleh Bintang selama ini."
Satu kalimat yang membuat tawa Arunika sebelumnya hilang. Gadis itu kini menatap Surya dan membuka telinganya, berharap Surya akan melanjutkan ceritanya.
"Siapa?" tanyanya singkat.
"Bulan ... ya, selama ini ternyata Bintang menyukai Bulan."
Senyuman getir jelas tercetak di wajah Surya. Sebenarnya Surya pun tidak menyangka bahwa sahabatnya ternyata menyukai kekasihnya.
Mendengar cerita Surya, Arunika hanya menganggukkan kepala. Sedikit lengkungan terbit di sudut bibirnya.
Dalam diam, Arunika mencoba mengingat kembali memori saat masih kuliah dulu. Di mana Bintang yang sering kali terpergok tengah menatap Bulan. Bintang yang tidak segan untuk menolong Bulan. Apakah semua itu bahasa cinta dari seorang Bintang untuk Bulan.
Arunika lantas merasa lega. Setelah sekian waktu berlalu teka-teki siapa gadis yang disukai Bintang pun akhirnya terungkap.
"O ... rupanya Bulan. Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Arunika kepada Surya.
"Beberapa bulan yang lalu aku sempat menelpon Bintang dan dia mengakui bahwa dia telah menyukai Bulan sejak kami sama-sama masih SMA. Waktu yang sangat lama bukan? Aku terlambat menyadarinya. Kenapa aku tidak menyadari gerak-gerik dan perilaku Bintang selama ini. Padahal aku temannya. Tahukah kamu bagaimana perasaanku?" tanya pria itu dengan lirih.
Sementara Arunika mencoba untuk mendengarkan sebaik mungkin.
"Di satu sisi adalah sahabatku, dan di satu sisi adalah kekasihku. Situasi yang rumit dan pelik. Situasi yang membuatku pusing tujuh keliling. Bertambah rumit karena Bintang sudah mengatakan kepada Bulan bahwa dia mencintainya." cerita Surya dengan panjang lebar.
__ADS_1
Helaan napas terdengar menyertai pengakuan Surya malam itu.
Sementara Arunika yang menjadi seorang pendengar, dia memahami bahwa situasi Surya saat ini begitu pelik. Di satu sisi kekasihnya, dan di sisi lain adalah sahabatnya.