
"Bu Guru ... Bapak, Bu ... Bapak."
Suara tangisan Kartika pecah seketika membuat Bulan hanya mampu merengkuh anak kecil itu dalam pelukannya.
Bulan belum tahu apa yang membuat Kartika tersedu sedan seperti sekarang ini. Namun, Bulan yakin bahwa semua ini berhubungan dengan Bapaknya.
"Tika, ada apa?" hanya itu yang mampu Bulan ucapkan sembari memeluk Tika.
Tiada jawaban, tangisan Kartika justru semakin menyayat hati. Akhirnya Bulan hanya mampu memeluk Tika dan mengelus lembut punggungnya. Menyalurkan kekuatan dan kepedulian kepada Tika melalui pelukannya.
Beberapa saat Tika masih menangis, hingga akhirnya Tika mampu berbicara dengan suara yang dibarengi isakan.
"Bb-bapak ... sudah tidak ada Bu."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un" ucap Bulan dengan lirih.
Tiada lagi kata yang bisa terucap, Bulan pun larut dalam kesedihan bersama dengan Kartika. Beban yang sangat berat bagi anak sekecil Kartika.
Malapetaka ini benar-benar membuat seorang anak menjadi yatim atau piatu, dan tidak ada yang mau menjadi Kartika harus kehilangan salah satu orang tuanya di usia yang masih sangat kecil. Hidup tanpa figur seorang Bapak tentu akan sangat susah bagi Kartika.
Ibu Sundari pun turut memeluk Bulan dan Kartika bersamaan. Ketiganya larut dalam tangisan pilu dan kesedihan.
"Tadi pihak Rumah Sakit telepon, memberitahu kalau kondisi Pak Sutino semakin turun karena ada komorbid (penyakit penyerta; sebuah istilah dalam dunia kedokteran yang menggambarkan kondisi bahwa ada penyakit lain yang dialami selain dari penyakit utamanya). Sudah dilakukan transfusi darah, tetapi tidak berhasil. Siang ini akan langsung dimakamkan." cerita Bu Sundari kepada Bulan.
Bulan hanya mampu mendengarkan. Akan tetapi, mulutnya seakan kelu. Pikirannya kalut dalam kesedihan bersama dengan Kartika.
"Bu Guru, bolehkah Tika menghadiri pemakaman Bapak?" tanya Tika dengan mencoba mengusap air matanya.
Bulan menatap Kartika. "Kartika kuat?"
Kartika pun menganggukkan kepalanya. "Ya, Tika akan berusaha kuat."
Bulan kembali memeluk anak kecil itu. "Kita semua turut kehilangan Tika. Akan tetapi, Allah sayang kepada Bapak. Semoga Tika selalu kuat ya ... jangan merasa sendiri. Anggap kami ini juga sebagai keluargamu."
"Ya Bu Guru ... tetapi, sekarang Tika jadi tidak punya Bapak."
__ADS_1
Tangisan Kartika kembali pecah, dan Bulan hanya mampu memeluk dan menguatkan muridnya itu.
"Tika, sekarang ganti baju. Bu Guru temani ya. Walaupun kita hanya bisa melihat dari kejauhan tidak apa-apa ya?"
Kembali Kartika menganggukkan kepalanya.
Selesai mengganti baju, merapikan rambut, dan mengenakan masker. Rupanya ada tamu yang datang ke kediaman Bulan.
"Assalammualaikum...." sapa tamu itu sembari mengetuk pintu rumah Bulan.
Bu Sundari pun keluar dari kamar Bulan untuk melihat siapakah yang datang ke rumahnya.
"Waalaikumsalam...." sahut Bu Sundari ketika telah sampai di depan pintu.
"Sugeng siyang (selamat siang), saya Bintang, Bu ... temannya Bulan."
Rupanya Bintang yang datang ke rumah Bulan saat itu.
"Oh Mas Bintang, mari silakan masuk dulu. Ada keperluan apa?" tanya Bu Sundari yang mempersilakan Bintang untuk masuk.
"Saya ingin bertemu Bulan, Bu ... ada kabar yang Rumah Sakit tentang Bapak Sutino, Bapaknya Kartika. Kebetulan beliau adalah tetangga saya." ucap Bintang dengan sopan.
Tidak berselang lama, Bulan keluar dari kamarnya bersama Kartika. Pemandangan pertama yang Bintang lihat adalah pada mata Bulan yang sembab. Bintang menduga bahwa Bulan pasti menangis bersama Kartika. Bulan adalah gadis yang lembut dan mudah berempati dengan orang lain, maka Bintang pun menebak bahwa temannya ini usai menangis.
"Hei Bulan ... maaf aku kemari karena ingin menyampaikan berita duka." ucap Bintang dengan lirih. Sebelum menyampaikan kabar yang dia ketahui dari para tetangganya, terlebih dahulu Bintang melirik sekilas pada Kartika yang masih terisak.
Bulan lantas membawa Kartika untuk duduk di kursi, di sebelah Bintang.
"Kami sudah tahu, Bintang." ucap Bulan sembari meneteskan air matanya.
Bintang pun tak bergeming, dia hanya mampu menundukkan kepalanya. Membiarkan sejenak bagi Bulan menata hatinya.
"Aku akan mengantarkan Tika ke pemakaman, Bintang." ucap Bulan.
Bintang pun merubah posisi duduknya dan kini menatap Bulan. "Biar aku yang akan mengantar kalian. Kami baru sedih dan menangis, sebaiknya jangan pergi seorang diri." ucap Bintang.
__ADS_1
Bu Sundari pun setuju. "Benar Bulan, kamu baru bersedih. Pikiran dan hati kamu sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik, kalian diantar Nak Bintang saja. Ibu juga tidak akan membiarkanmu jika harus membawa sepeda motor bersama Tika."
Mendengar nasihat dari Ibunya, pada akhirnya Bulan pun menyetujui. "Apa kami tidak merepotkanmu, Bin?"
Bintang lantas menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali, Bulan. Ayo, aku akan mengantar kalian berdua."
Akhirnya Bulan dan Kartika pergi ke pemakaman dengan diantar Bintang. Begitu sampai di pemakaman, mobil ambulance yang membawa jenazah Bapak Sutino, Ayahnya Kartika pun baru tiba.
Kembali Kartika menangis dengan histeris. Melepas kepergian Ayahanda tercinta tidaklah mudah. Kartika hanya menangis dan meraung. Dunianya seakan runtuh saat melihat bagaimana sosok Ayah yang sangat dikasihinya telah dimakamkan di dalam tanah merah. Bahkan kondisi terakhirnya pun, Tika tidak bisa melihat. Lebih menyakitkan, tidak ada pesan terakhir yang disampaikan sang Ayah kepadanya.
"Bapak ... kenapa Bapak ninggalin Tika, Pak." suara bercampur isakan tangis terdengar begitu pilu.
Bulan pun turut menangis dan memeluk Kartika.
"Kartika yang sabar ... yang kuat ya. Kartika masih punya Bu Guru."
Usai jenazah almarhum Bapak Sutino dimakamkan, Kartika mendekat pada nisan yang terpasang di sana dan gundukan tanah merah yang dipenuhi taburan bunga.
"Bapak ... kenapa Bapak ninggalin Tika, Pak. Tika sayang sama Bapak."
Derai air mata seolah tercurah begitu saja di atas gundakan tanah yang masih basah itu. Bulan hanya mampu memberikan waktu sejenak bagi Tika. Memberikan waktu bagi anak kecil menumpahkan semua rasa sedihnya.
Bulan turut berjongkok tidak jauh di sisi Tika. Keduanya larut dalam duka hingga tidak menghiraukan matahari yang semakin terik di atas kepalanya.
Hingga akhirnya Bintang datang dan memayungi keduanya. Pria itu hanya diam, tetapi payung yang dia bawa memberi keteduhan bagi Kartika dan juga Bulan.
Menyadari bahwa keadaan di sekitarnya tidak terasa terik, Bulan sedikit mendongakkan kepalanya guna melihat siapa yang telah menudunginya dan Kartika dengan sebuah payung.
"Bintang ... terima kasih." ucap Bulan dengan lirih.
Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Kalian masih ingin di sini?"
Bulan hanya menatap Kartika yang masih sedih dan meraung dalam tangisannya. "Tika, kita pulang dulu yuk. Besok kita tengokin Bapak lagi ya ... kita kirim doa untuk Bapak."
Hingga akhirnya Tika menganggukkan kepalanya. "Baik Bu Guru...."
__ADS_1
Bersama dengan Bintang yang memayungi keduanya, Bulan dan Kartika kembali memasuki mobil Bintang.
"Terima kasih sudah menolong kami, Bintang...." ucap Bulan dengan suaranya yang masih terisak.