Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Biarkan Hati yang Memilih


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, Bulan pun merasa bahwa hatinya sudah sepenuhnya beres. Waktu yang kian berjalan memang digunakan gadis itu untuk terus instrospeksi diri dan mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatinya. Kini, gadis itu pun merasa bahwa dia memang telah selesai dengan cerita lamanya bersama Surya. Baginya, buku ceritanya bersama telah selesai, Bulan siap menutup buku tersebut. Membiarkan kisahnya yang lama akan menjadi kenangan dalam hidupnya. Saat hidup memberikannya waktu dan kesempatan untuk memilih, Bulan mengggunakannya untuk memilih. Sekalipun pilihannya mungkin merugikan beberapa pihak termasuk Surya dan keluarganya.


Akan tetapi, mau bagaimana pun begitulah hidup. Terkadang terjadi peristiwa-peristiwa dramatis dalam hidup dan saat itu terjadi, manusia tidak bisa mengelaknya. Hanya bisa terus menjalaninya, dan terus berharap semoga hari-hari ke depan akan senantiasa baik adanya.


Kali ini untuk mengisi kesendiriannya, Bulan memilih untuk mengunjungi salah satu kafe yang instagramable di kota Jogja, kafe bernama Secret Garden Jogja itu memiliki desain yang unik karena menggabungkan konsep khas Jawa dan juga modern dalam satu tempat. Di dalam kafe ini terdapat bangunan rumah Joglo yang eksentrik hadir di tengah pedesaan yang cukup jauh dari keramaian. Serta suasana outdoor yang asri menjadi pilihan untuk spot foto di kafe tersebut.


Di kafe inilah, Bulan memilih memesan segelas Es Karamel Grande dan sebuah dessert yang bernama Secret Lava. Menikmati sore di kafe yang asri dan romantis membuat gadis itu seketika teringat pada sosok Bintang. Baru saja dia memikirkan Bintang, tanpa di sengaja pria itu pun sudah berdiri di hadapannya.


"Kita ketemu tanpa sengaja di sini Bulan ...," sapanya sembari tersenyum menatap Bulan.


Gadis itu pun nampak membola dengan sempurna kedua matanya dan tidak menyangka bahwa orang yang baru saja dia pikirkan kini justru tengah berdiri di hadapannya. "Eh, Bin ... bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanya Bulan kepada Bintang.


"Aku boleh gabung ... biar enggak duduk sendirian," ucap Bintang yang masih berdiri di hadapan Bulan.


Bulan pun menganggukkan kepala dan mempersilakan Bintang untuk duduk bersamanya, "boleh ... duduk aja."


Bintang lantas melepas tas ransel di punggungnya dan kemudian mengambil duduk di hadapan Bulan, pria itu kemudian tersenyum kepada Bulan, "jadi aku tadi abis dari rumah teman, rumahnya tepat di sebelah kafe ini. Jujur saja, aku melihat sepeda motormu di luar, jadinya aku mampir, sapa tahu bisa bertemu sama kamu." Pria itu menjawab dengan penuh percaya diri saat ini.


Bulan lantas mengernyitkan keningnya, "kamu hafal sepeda motorku?" Tanyanya kepada Bintang.

__ADS_1


"Iya ... bahkan aku hafal plat nomornya." Pria itu menjawab sembari tertawa, mungkin memang lucu, tetapi faktanya Bintang sampai hafal nomor plat sepeda motor Bulan.


Mendengar jawaban Bintang, Bulan pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ternyata dalam diam, Bintang memang tahu banyak hal tentangnya. Bulan lantas nampak berpikir, sebenarnya sebesar dan sedalam apa perasaan yang dimiliki oleh pria bernama Bintang itu kepadanya, "sampai segitunya ya kamu hafal plat nomor sepeda motorku?" Kali ini Bulan bertanya hanya untuk menggodai Bintang saja.


"Iya tahu ... AB ----," jawabnya.


Bulan lantas menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa Bintang hingga menghafal nomor plat sepeda motornya. "Ya ampun Bin ... sampai plat sepeda motorku saja kamu hafal loh."


Bintang pun turut tertawa, dia juga awalnya tidak mengira akan tahu banyak hal tentang Bulan, tetapi karena dia tertarik, maka rasa tertarik itulah yang membuatnya untuk ingin mengenal Bulan lebih dalam dan mengetahui lebih banyak hal tentang Bulan. "Bagaimana lagi Bulan, bukan aku yang mau sebenarnya, tetapi hatimu yang memilih untuk selalu mengingatmu, dan otakku yang merekamnya ikut terus mengingatnya." jawabnya sembari tertawa.


"Kenapa bisa begitu Bin?" Tanya Bulan sembari menatap wajah pria yang kini duduk di hadapannya itu.


Anggukan samar yang diberikan oleh Bulan cukup memberi jawaban bahwa pria itu memang harus menjawab pertanyaan Bulan. Hingga kemudian, Bintang menatap Bulan, dan kemudian membuka suaranya, "kamu boleh percaya atau tidak. Namun, saat seseorang tertarik kepada seseorang yang lain, alam bawah sadarnya akan menuntunnya untuk terus mencari tahu dan mengingat segala hal tentang orang tersebut. Mungkin, aku pun demikian. Sudah lama hatiku ini tertarik padamu, maka hati ini yang memilih dan membimbing kinerja otakku untuk menyimpan semua hal tentangmu. Aku bukan gombal loh, tetapi faktanya begitu. Rasa tertarik itulah yang membuatku terus tahu banyak hal tentang kamu." Bintang bercerita dengan sungguh-sungguh, kali ini ucapannya bukan sekadar bualan, bertahun-tahun menyukai Bulan maka pria itu perlahan pun terus mengamati Bulan dan menyimpan segala hal dalam hati dan pikirannya semua hal mengenai Bulan.


Jawaban yang membuat Bulan seakan tidak percaya, bagaimana bisa seseorang yang hanya tertarik kemudian bisa menyimpan semua hal tentang orang yang disukainya itu. Bulan lantas tersenyum, "Aku masih bingung, kenapa bisa begitu ya?" Tanyanya.


Menyadari bahwa ucapannya mungkin terkesan berlebihan, Bintang akhirnya hanya tertawa."Sudah tidak usah dipikirkan yang pasti aku tahu banyak hal tentang kamu. Tidak semua sih, tetapi aku cukup mengenalmu. Dan, pengennya sih aku bisa mengenalmu lebih dalam lagi. Rasanya sudah beberapa bulan berlalu sejak pertemuan kita di Kaliurang dulu, apakah sekarang aku bisa meminta jawabannya? Sekarang kita berada di tanggal yang sama, dan sudah dua bulan berlalu, apakah aku bisa menerima jawaban darimu?" Tanya Bintang dengan wajah yang terlihat serius.


Memang sudah dua bulan berlalu sejak pertemuannya dengan Bulan di Kaliurang, dia hanya ingin meminta jawaban yang diberikan oleh Bulan. Saat itu, Bulan berkata bahwa dirinya membutuhkan waktu dan sekarang, Bintang pun meminta jawabannya. Baginya dua bulan adalah waktu yang cukup untuk membereskan hatinya.

__ADS_1


Di satu sisi Bulan barulah mengingat, bahwa sekarang mereka memang berada di tanggal yang sama pada bulan yang berbeda, gadis itu nampak menundukkan kepalanya sembari menggigit bibir bagian dalamnya. Hanya mampu terdiam dan tidak tahu harus bagaimana.


Menyadari sikap diamnya Bulan, Bintang pun nampak menghela nafasnya, "jika memang belum ada jawabannya tidak apa-apa, aku keluar dulu sebentar ya ... masih ada barang yang tertinggal di rumah temanku. Nanti aku balik ke sini lagi." Pria itu pun lantas berdiri dan kembali menggendong tas ranselnya berwarna hitam di satu bahunya, kemudian dia terus berjalan keluar dari area kafe.


Secret Garden Kafe memang berdiri di area persawahan, maka Bintang pun memilih berjalan menuju rumah temannya melewati area persawahan itu. Niatnya memang untuk mengambil sebuah barang yang masih tertinggal di rumah temannya. Akan tetapi, saat Bintang berjalan menyusuri pematang sawah itu, sebuah suara yang sangat familiar di indera pendengarannya pun memanggilnya, "Bin ... Bintang ... tunggu aku."


Perlahan Bintang berbalik dan mencari arah sumber suara itu, rupanya dari kejauhan nampak Bulan yang terlihat berlari menghampirinya. Jarak keduanya tinggal beberapa meter saja, Bulan menghentikan kakinya yang berlari sejenak. Menetralkan nafasnya lantaran berlari keluar dari kafe untuk mengejar Bintang. Hal yang sama pun dilakukan oleh Bintang, pria itu cukup kaget melihat Bulan yang berlari mengejarnya.


Menyadari di hadapannya Bintang telah berhenti, Bulan lantas kembali berlari, mengayuh kakinya secepat dan sekuat mungkin, hingga deru nafasnya terengah-engah untuk berlari dan mendapatkan Bintang yang hanya berjarak beberapa meter saja di hadapannya. Begitu jarak keduanya telah terkikis, Bulan masih dengan nafasnya yang terengah-engahnya menatap Bintang, dua matanya nampak berkaca-kaca, bibirnya seolah kelu, tetapi Bulan harus berbicara sekarang ini.


"Bin, jawabanku iya." Satu kalimat jawaban yang diucapkan oleh Bulan membuat Bintang seakan tidak percaya. Di hadapannya kini berdiri gadis cantik yang sudah beberapa tahun dicintainya dalam diam.


Mendengar ucapan yang diberikan oleh Bulan, tas ransel di satu punggung pria itu merosot begitu saja ke tanah, dengan meyakinkan dirinya sendiri Bintang berjalan beberapa langkah dan lantas memberanikan diri untuk memeluk gadis yang sudah lama dicintainya itu. Merengkuhnya begitu erat. Bak gayung bersambut, Bulan pun membalas pelukan Bintang itu untuk kali pertama, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu.


Membiarkan keheningan, disertai deru nafasnya keduanya, disaksikan oleh hijaunya sawah yang bergoyang lantaran semilir angin yang menerpanya, keduanya sama-sama berpelukan di pematang sawah yang kala itu sangat sepi.


Perlahan, Bintang mengurai pelukannya dan menggenggam kedua tangan Bulan,"kamu yakin dengan jawabanmu?"


"Iya ... aku yakin." sahut Bulan dengan penuh keyakinan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2