Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Harus Jujur


__ADS_3

Sementara itu di Jogjakarta, Bulan masih bertelepon dengan Surya. Gadis itu pun sama kalutnya dengan Surya. Apa yang terjadi hari ini bersama Bintang, tidak bisa dia lupakan begitu saja.


"Aku tidak menyangka, kalian jauh-jauh ke sana untuk melupakan itu. Seharusnya ada hati yang harus kamu jaga, tetapi kamu tega, Bulan." ucap Surya dengan nada yang begitu dalam.


Terdengar nada penuh kekecewaan dalam setiap kata yang keluar dari mulut pria itu.


Bulan memegangi kepalanya. Semua ini terlalu berat baginya. Ingin berkata jujur, sudah pasti Surya akan marah besar. Tidak berkata jujur, perasaannya juga tidak tenang.


Gadis ayu itu mulai menatap cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya. Melihat kembali hubungannya dan Surya yang sudah berjalan untuk waktu yang lama. Kemudian, Bulan pun menghela napasnya perlahan.


"Aku selalu berusaha menjaga hatimu, Surya ... sayangnya, hari ini aku gagal." ungkapnya dengan berusaha berkata jujur walau apa pun konsekuensi yang akan dia dapatkan.


Di seberang sana Surya nampak mengernyitkan keningnya. Pria itu berpikir apa yang gagal, apa sudah Bulan lakukan bersama dengan Bintang?


"Kegagalan apa yang kamu lakukan hari ini?" tanya Surya kepadanya.


"Baiklah ... aku akan berkata jujur, tetapi tolong dengarkan aku dulu." ucap Bulan dengan memupuk keyakinan di dalam dirinya.


"Katakanlah...." sahut Surya pada akhirnya.


"Sebelumnya maafkan aku, Surya ... di Kedung Kayang tadi, ada kekhilafan yang aku lakukan bersama Bintang." ucap Bulan perlahan.


Berbicara perihal kekhilafan sudah pasti, Surya memikirkan yang bukan-bukan. Terlebih kekhilafan yang terjadi antara pria dan wanita sudah pasti akan menjurus ke dalam hubungan yang terlarang.


Pria itu nampak mengacak rambutnya secara kasar dan mulai berpikiran yang tidak-tidak.


"Kekhilafan apa maksudmu?" tanya Surya dengan begitu cepat.


Belum mulai menjawab pertanyaan Surya, rupanya Bulan sudah terlebih dahulu meneteskan air mata dan memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Tadi di sana ... aku dan Bintang berciuman."


Air matanya berderai berbarengan dengan pengakuannya. Gadis itu hanya ingin berkata jujur dan tidak menyembunyikan sesuatu dari Surya. Lebih baik dia jujur dengan mulutnya sendiri, daripada Surya mendengar hal yang tidak-tidak dari orang lain.

__ADS_1


"Ciuman?" tanya Surya lagi, dia seolah tak percaya dengan pengakuan Bulan bahwa dirinya telah berciuman dengan Bintang.


Dalam hati, Surya tentu sangat marah dan kecewa dengan pengakuan dari Bulan. Dia yang selama enam tahun berhubungan dengan Bulan, hanya pernah memeluknya dan mencium pipinya. Akan tetapi, sekarang kekasihnya itu mengakui bahwa dia telah berciuman dengan Bintang.


"Ii ... iya. Kami berdua berciuman." ucapnya sembari terisak.


Sesungguhnya ciuman itu tidak murni kesalahan Bulan, semua itu terjadi karena Bintang lah yang terlebih dahulu menciumnya. Sayangnya, dirinya sempat terbuai dengan permainan bibir dan lidah yang dimulai oleh Bintang itu.


"Kamu tega, Bulan ... selama enam tahun, kamu tidak pernah membiarkanmu untuk menciummu. Padahal aku yang lebih berhak karena aku akan kekasihmu. Semua ini tidak adil Bulan. Lebih baik, kita mengambil jeda terlebih dahulu untuk hubungan kita berdua." ucap Surya yang kemudian mengakhiri panggilan selulernya dengan Bulan.


...🌸🌸🌸...


Di Jogjakarta, perkataan 'jeda' yang diucapkan Surya sangat menyakiti perasaan Bulan. Akan tetapi, dia tahu bahwa saat ini dialah pihak yang salah. Dialah yang memilih jujur dan berbicara tentang pengakuan Bintang dan ciuman keduanya di bawah guyuran hujan yang begitu deras.


Membiarkan rasa sakit menjalar di seluruh jantungnya, Bulan memilih bangkit dan berdiri di depan kaca kamarnya yang mengarah pada jalanan perumahan yang berada di depan rumahnya. Gadis itu terisak sembari satu tangannya berada di dada.


*Sesakit ini harga dari kejujuranku, Surya. Namun, aku harus jujur. Aku tidak mau menutupi apa pun darimu. Karena itu, maafkan aku Surya....


Dalam hal ini aku yang salah. Tidak seharusnya aku melanggar batas dengan Bintang. Maafkan aku*....


Jujur saja, Bulan tak pernah menyangka bahwa Surya akan mengucapkan kata jeda. Celakanya, Bulan tidak pernah tahu akan sampai kapan jeda yang diucapkan Surya itu akan berlanjut.


Menyalahkan orang lain tidak ada gunanya, karena Bulan tahu dalam hal ini adalah dirinya yang salah. Maka Bulan berusaha ikhlas menerima jeda yang diucapkan Surya.


Setelahnya, Bulan melepaskan cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya. Dia menyimpan cincin pertunangan itu.


*Maaf Surya, selama masa jeda ini. Aku akan melepas cincin ini. Ketika masa jeda dari hubungan kita usai, barulah aku akan mengenakan cincin ini kembali.


Maaf karena kejujuranku justru melukaimu. Namun, jika aku tidak jujur, aku sama saja membohongi kamu. Maaf Surya. Aku hanya bisa meminta maaf karena akulah yang salah.


Akan tetapi, satu hari ini tidak bisa ditarik kembali. Pengakuan cinta dari Bintang dan ciuman yang kami lakukan berdua tidak bisa dihapus begitu saja*.


Air mata berlinangan tiada henti di kedua pipi gadis cantik itu, hingga wajahnya terlihat begitu sayu.

__ADS_1


Kenapa kamu menciumku Bintang?


Kenapa kamu mengatakan perasaanmu kepadaku...


Kini, aku yang harus menanggungnya...


Semua sakit dan perih ini harus aku rasakan...


Inilah harga dari kejujuranku kepada Surya...


Hubungan kami berdua terjeda...


Hubungan kami berdua goyah rasanya...


Dan, kamu pun memberi andil dalam jedanya hubungan kami ini...


...🌸🌸🌸...


Sementara itu di Makassar, Surya memilih untuk keluar dari kamar kostnya. Dengan mengenakan jaket dan masker yang menutupi separuh wajahnya, pria itu melajukan sepeda motornya menuju Pantai Losari, Makassar.


Dengan tatapan kosong, Surya duduk di sepanjang Pantai Losari merasakan deburan ombak yang datang menyapa dan terpaan angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Pria itu berdiri di tepi Pantai Losari dan berteriak dengan kencang.


"Aaarrrghhh...." teriakannya menggema di pantai itu, hingga beberapa pasang mata yang berada di sana memperhatikan Surya.


Puas berteriak, Surya memilih duduk di tempat ikonik Kota Makassar itu.


*Kamu benar-benar tega, Bulan....


Pengakuan cinta dari Bintang saja sudah sangat menyakitiku, terlebih mendengar kalian berdua berciuman.


Aku terluka Bulan....


aku sangat terluka dengan perbuatanmu dan juga Bintang....

__ADS_1


Waktu enam tahun terasa sia-sia. Kekhilafan yang kamu ucapkan dengan jujur, sangat melukai perasaanku, Bulan. Aku tidak ingin mendengarnya, tetapi terlanjur mendengarnya. Aku ingin menerimanya, sayangnya hatiku tidak bisa. Terlalu sakit, Bulan ... dan semua ini terjadi karena kamu dan Bintanglah yang menyebabkannya. Kalian berdua tega*.


__ADS_2