Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Respons Orang Tua Bulan


__ADS_3

"Sebenarnya, saya datang kemari untuk meminta izin kepada Bapak dan Ibu kalau saya sebenarnya menyukai Bulan," ucap Bintang dengan yakin. Sekalipun jantungnya berdetak begitu cepatnya dan dia takut menghadapi kenyataan bilamana orang tua Bulan menolaknya, tetapi pria itu tetap berkeyakinan untuk menyatakan niatannya kepada kedua orang tua.


Bapak Hartono dan Bu Sundari sebenarnya tidak terlalu terkejut. Sebagai orang tua, mereka memiliki kacamata bahwa pria bernama Bintang ini dari gelagatnya memang tampak menyukai Bulan. Akan tetapi, mereka tidak menyangka bahwa sekarang ini pria tersebut menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia menyukai Bulan.


"Kamu sendiri bagaimana Bulan? ke depannya, hubungan ini yang menjalani kan kamu. Bapak dan Ibu hanya merestui saja." giliran Pak Hartono yang kini bertanya kepada Bulan.


Mengerjap. Bulan lantas menatap Bintang sekilas, hingga gadis itu perlahan menganggukkan kepalanya, "barusan Bulan menerima Bintang, Pak." jawabnya dengan lirih.


"Mas Bintang yakin menyukai Bulan?" tanya Bu Sundari kepada Bintang.


Pria yang semula menundukkan kepalanya itu, perlahan mengangkat wajahnya guna menatap Bu Sundari yang kini duduk di hadapannya, "saya sangat menyukai Bulan, Bu," jawabnya seolah tak gentar mengakui besarnya perasaan yang dia miliki untuk Bulan.


Di dalam hatinya Bu Sundari merasa lega, ada pria yang datang ke rumah dan menyatakan perasaannya dengan baik-baik, berniat meminta restu kepada orang tua secara langsung. Bahkan cara Bintang bersikap, bertutur kata, dan memandang Bulan sudahlah cukup menjadi bukti bahwa pria itu benar-benar menyukai Bulan.


"Baik kalau begitu Mas Bintang ... kalau memang Bulan sudah menerima Mas Bintang, Bapak dan Ibu cuma bisa merestui. Tolong dijaga anak Bapak ini. Jangan dirusak. Semoga bersama Mas Bintang, anak Bapak ini akan benar-benar melangkah menuju pernikahan." Bapak Hartono berkata dengan sungguh-sungguh. Dalam hatinya dia mengakui bahwa dia pun ingin Bulan dan Bintang berakhir di pernikahan yang sah dan sakral tentunya.


Hingga kemudian Bu Sundari giliran yang membuka suaranya, "Ibu pun sama seperti Bapak. Titip Bulan ... dijalani baik-baik, saling menjaga. Memulai sebuah hubungan itu mudah, yang susah itu membinanya. Semoga apa yang kalian berdua rasakan saat ini benar-benar adalah sebuah perasaan yang kuat dan tulus."


"Kamu juga ya Bulan ... dijalani dengan baik." Pesan Pak Hartono kepada putrinya itu.

__ADS_1


Baik Bulan dan Bintang terlihat begitu lega rasanya, keduanya seolah tidak perlu repot-repot menyembunyikan status dan perasaan mereka di hadapan kedua orang tua Bulan. Terlebih Bintang, dia merasa lega dan bahagia tentu. Usai mendengar restu yang didapatkan dari kedua orang tua Bulan pun, pria itu menghela napas. Seolah rongga paru-parunya merasa lebih lega sekarang. Hingga kemudian pria itu berdiri dan menjabat tangan Bapak Hartono dan Bu Sundari, sembari mencium punggung tangannya, "Terima kasih untuk restu dan kepercayaan ini Bapak dan Ibu. Saya akan menjaga Bulan dengan sebaik-baiknya. Lagipula, saya benar-benar serius, saya tidak ingin main-main. Terima kasih Bapak dan Ibu."


"Ya sudah, ini Bapak dan Ibu akan ke rumah kerabat dulu di Kota Gede ya. Hati-hati di rumah ya Bulan." pamit Pak Hartono dan Bu Sundari yang ternyata hendak pergi ke rumah kerabatnya di Kota Gede.


Hanya berdua di rumah, Bintang pun tersenyum. Pria itu lantas mengusap-usap wajahnya sejenak. Bulan pun melihat bagaimana pria yang kini menjadi pacarnya itu beberapa kali mengusap-usap wajahnya, "kamu kenapa Bin?" tanyanya dengan menunjukkan wajah heran.


"Lega rasanya saat Bapak dan Ibu merestui kita berdua," akunya dengan menunjukkan senyuman di wajahnya dan beberapa kali menghela napasnya.


Melihat reaksi Bintang, Bulan malahan tertawa, "keliatan deg-degan banget tadi. Sekarang beneran udah lega kan?"


Pria itu pun mengangguk dengan penuh keyakinan, "iya ... lega rasanya. Bapak dan Ibu ke rumah kerabat berapa lama Bulan?" Tanyanya kepada Bulan.


"Kamu berani di rumah sendirian? Mau aku temenin?" tanyanya kepada Bulan.


Dengan cepat, Bulan menggelengkan kepalanya, "dulu kan waktu aku isolasi mandiri, aku lebih dari 14 hari di rumah sendiri, Bin ... Jadi enggak apa-apa kok."


"O ... kalau kamu takut, aku akan menemani kamu di sini." ucap pria itu dengan menatap Bulan begitu lekat.


Bulan pun hanya tersenyum mendengar ucapan Bintang, "kamu kalau mau pulang, pulang aja gak apa-apa. Aku biasa kok di rumah sendiri."

__ADS_1


Bintang pun menganggukkan kepalanya, "iya ... bentar lagi aku juga akan pulang ke rumah. Kayaknya aku udah diusir."


Mendengar jawaban Bintang, Bulan hanya tersenyum, "enggak mengusir, cuma jangan pulang terlalu malam ya ... enggak enak sama tetangga." Gadis itu memperingatkan kepada Bintang untuk tidak pulang terlalu malam, supaya mereka tidak menjadi pergunjingan tetangga sebelah.


"Iya ... kalau itu, aku sudah tahu. Bulan, kita sudah resmi kan? Jadi, kamu siap-siap ya. Besok atau lusa, aku akan mengenalkanmu kepada orang tuaku secara resmi." ucap Bintang dengan cukup tenang.


Sementara, Bulan justru membolakan kedua matanya, gadis itu seolah tak percaya. Mengapa terlalu cepat, Bintang ingin mengenalkannya kepada orang tuanya. "Apa enggak terlalu cepat, Bin?" Tanya Bulan kepada Bintang.


Dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya, "enggak ... karena aku benar-benar serius, Bulan. Aku tidak ingin membuat kamu menunggu terlalu lama. Aku mau buktikan semuanya ke kamu." terdengar ucapan penuh kesungguhan dari seorang Bintang.


Hingga Bulan pun menganggukkan kepalanya, "baiklah ... kita bisa menemui orang tuamu, tetapi aku malu, Bin."


Perasaan yang teramat lumrah bagi seorang gadis merasa malu menemui orang tua pacarnya. Terlebih, Bulan juga baru hari ini resmi menerima perasaan Bintang. Gadis itu hanya meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bintang tidak main-main dengannya. Berlandaskan perasaan itulah, Bulan mau menemui kedua orang tua Bintang.


"Jangan malu, ada aku ... lagipula Ibuku kan sudah kenal. Ibu aja seneng dan nanyain kamu terus. Calon mantu idamannya Ibu," ucap pria itu sembari tertawa.


Bulan justru menggelengkan kepalanya, "kamu bisa aja sih Bin ... ketemu aja baru sekali kok, mana bisa terus jadi menantu idaman?"


"Serius... berkali-kali Ibu itu nanyain, kapan aku bawa kamu ke rumah. Sebab, Bapak dan Ibu itu sama-sama ingin segera punya menantu. Melihat kamu, katanya Ibu sudah cocok jadi menantunya. Jadi ya begitu deh." Bintang tergelak menceritakan hal tersebut kepada Bulan.

__ADS_1


Di satu sisi, Bulan ikut tertawa. Rasanya hatinya merasa bahagia. Restu dari orang tua sudah dia dapatkan, Bintang juga seorang pria yang baik dan serius, dan tidak lama dirinya akan dikenalkan dengan keluarga Bintang. Semoga apa yang Bulan harapkan benar-benar terjadi.


__ADS_2