Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Kesedihan Surya


__ADS_3

Dengan hati yang berkecamuk, Surya melanjutkan untuk boarding sembari menunggu waktu untuk masuk ke dalam pesawat.


Pria berusia 23 tahun ini tertunduk lesu. Untuk pertama kalinya Surya akan berada jauh dari rumah untuk waktu yang lama. Ya, pria itu telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) Mutasi sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kota Makassar. Peluang untuk bisa menjadi Abdi Negara tentu menjadi mimpi bagi banyak orang di negeri ini. Pun demikian dengan Surya. Begitu selesai kuliah, Surya memutuskan untuk mengikuti tes penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. Surya pun cukup beruntung, karena ia diterima sebagai PNS di Direktorat Jenderal Pajak dengan penempatan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Makassar Barat - Sulawesi Selatan.


Surya masih mengingat jelas bagaimana dulu wajah Bulan selalu murung, ketika liburan semester atau kenaikan kelas, Surya sering kali harus ke Jakarta, liburan ke tempat Tante dan Pamannya yang tinggal di Ibu Kota. Akan tetapi, begitu baiknya Bulan yang tidak terang-terangan melarang Surya, walaupun Surya pun sangat tahu bahwa Bulan kecewa karena Surya lebih memilih liburan di Jakarta, daripada di Jogjakarta.


Bulan adalah gadis yang sangat baik, sejak berpacaran dengan Surya di bangku SMA, gadis ayu itu tidak pernah menuntut banyak hal. Bulan hanya minta satu hal kepada Surya yaitu kesetiaan. Bagi Bulan, kesetiaan itu sangat mahal. Dan, Bulan menyukai sosok yang setia. Maka dari itu, dalam enam tahun hubungan keduanya, Surya benar-benar menjaga hatinya hanya untuk Bulan. Pria itu benar-benar tidak memberikan celah bagi cewek lain. Sekalipun banyak cewek mendekatinya, tetapi hatinya hanya berpaut sepenuhnya pada gadis yang mencuri hatinya pada pandangan pertama, Bulan Maheswari.


Sejak dulu pun, Surya sangat sadar bahwa Bulan sering kali sedih dan tidak bisa menikmati masa-masa liburan bersama pacarnya. Berbeda dengan kebanyakan pasangan remaja lainnya yang bisa menonton bioskop, jalan-jalan ke pantai, atau mengunjungi tempat wisata lainnya di Jogjakarta. Sementara Bulan hanya bisa berada di rumah, menonton TV, atau membaca buku. Surya tiba-tiba menjadi merasa begitu bersalah, banyaknya waktu yang dulu ia miliki dan bisa digunakan untuk bersama Bulan tidak ia pergunakan dengan sebaik mungkin. Sementara sekarang, waktu itu tidak akan pernah kembali. Entah sampai kapan, ia bisa bertahan dalam hubungan jarak jauh dengan segala ketidakpastiannya ini.


Kini, Surya justru pergi bukan untuk liburan yang sekadar satu minggu hingga sepuluh hari. Kini Surya harus pergi untuk waktu yang lama. Dan, belum tentu ia bisa kembali ke Jogjakarta sekali sebulan. Jarak yang jauh antara Jogjakarta dan Makassar, serta mahalnya tiket pesawat tentu menjadi pertimbangan bagi Surya.


Surya mengusap wajahnya kasar, begitu menyesalnya dia sekarang lantaran kini ia benar-benar tidak memiliki waktu untuk Bulan. Penyesalan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, membuat pria itu hancur di waktu bersamaan.


Mungkin selama satu minggu ini di hadapan Bulan, Surya terlihat biasa saja. Bahkan ia selalu terlihat kuat di hadapan Bulan. Bahkan mulutnya masih bisa memberikan kata-kata motivasi untuk Bulan. Namun, siapa yang tahu bahwa pria itu merasakan kerapuhan di dalam hatinya.


Bukan maksudku untuk terlihat biasa saja di hadapanmu, Bulan... saat ini, aku pun sama sepertimu. Aku rapuh, tetapi aku berusaha kuat. Aku sedih, tetapi aku berusaha tertawa. Aku pun tidak tahu sampai kapan bertahan dengan kondisi ini, Bulan.


Untuk pertama kali, aku harus pergi sejauh ini Bulan. Meninggalkanku untuk waktu yang lama, kita berbeda kota, berbeda pulau, berbeda zona waktu. Namun, kuharap hati dan perasaan kita tetap sama Bulan.

__ADS_1


Tunggulah aku datang, menjemputmu, dan meminangmu sebagai Istriku.


Begitu pengumuman bahwa seluruh penumpang dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat, Surya berjalan gontai. Namun, sejatinya memang begitulah pria, nampak kuat dan tegar, tetapi jauh di dalam kedalaman hatinya ia rapuh.


Kakinya terasa berat untuk melangkah. Rasanya ia ingin mengurungkan kepergiannya ke Makassar dan memilih tinggal di Jogjakarta, bekerja di Kota yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak kecil. Di Kota ini jugalah, ada seorang gadis yang ia cintai, ya dialah Bulan.


Ketika memasuki pesawat, Surya nampak berat hati. Pria itu mengingat bagaimana kesedihan yang tercetak jelas di wajah Bulan, saat kedua keluarga mengambil keputusan untuk menunda pernikahan keduanya. Tadi juga Surya melihat jelas bagaimana Bulan berderai air mata.


Begitu pesawat akan mulai take-off, mengambil posisi untuk mulai terbang dengan mencapai ketinggian tertentu dan memperlihatkan Kota Jogjakarta dari udara, Surya hanya bergumam lirih dalam hatinya.


Selamat tinggal Bulan. Sampai jumpa lagi... Ingatlah janji kita, rasa sayang yang sudah jalin selama enam tahun ini.


Hanya ruang dan waktu yang memisahkan kita. Akan tetapi, hati kita tetap bertaut satu sama lain. Kukejar terlebih dulu cita-citaku, setelahnya aku akan memperjuangkanmu....


Tunggulah aku kembali Bulan....


Jaga hatimu....


Semua hanya soal waktu....

__ADS_1


Dan, aku akan kembali padamu....


Surya bermonolog sedih dalam hatinya. Matanya kosong memandangi berbagai panorama yang terlihat dari jendela pesawat terbang yang ia tumpangi sekarang ini.


...🌸🌸🌸...


Di tempat lain, Bulan masih berbincang-bincang dengan kedua orang tua Surya di area sekitar Bandara.


"Surya biar kerja dulu ya Bulan... karena kan sudah dapat SK Mutasi, jadi enggak bisa mundur lagi." ucap Ibunya Surya.


Bulan hanya menganggukkan kepalanya, berusaha tersenyum di hadapan orang tua Surya, padahal hatinya pun kehilangan Surya. "Iya, tidak apa-apa Bu. Bagaimana pun menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah cita-cita Surya sejak dulu. Bulan juga tidak akan menghalangi apa yang menjadi cita-cita Surya." ucap gadis itu sembari membenarkan posisi masker yang menutupi separuh wajahnya.


"Jika senggang, mainlah ke rumah Bulan. Anggap kami seperti orang tuamu sendiri, rumah itu terbuka untukmu. Jangan sungkan, walaupun Surya jauh di Makassar, sesekali main-main mengunjungi kami tidak apa-apa." kata Ibunya Surya lagi.


Bulan hanya tersenyum, walaupun senyuman itu tetap tak terlihat karena masker yang ia kenakan. "Iya, Bu. Jika tidak sibuk, kapan-kapan Bulan akan main ke rumah. Terima kasih banyak Bu."


Usai beramah tamah, Bulan pun memilih untuk kembali ke rumahnya. Lantaran tadi, ia mendatangi Bandara dengan menaiki Bus Trans Jogjakarta, sekarang gadis ayu itu masih terduduk di halte bus dengan memandangi aplikasi Flight Radar di layar handphone. Ia hanya ingin memastikan pesawat terbang yang ditumpangi Surya akan tiba dengan selamat.


"Semoga kita akan segera bertemu lagi, Surya...." gumam gadis itu lirih.

__ADS_1


__ADS_2