Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Cucuran Air Mata


__ADS_3

Menyelesaikan sebuah permasalahan yang tertimbun untuk sekian waktu lamanya tidaklah mudah. Memilih diam tanpa berharap menyelesaikan sebuah masalah nyatakan justru menyulut meledaknya sebuah bom waktu. Sama seperti yang terjadi pada Bulan dan Surya saat ini. Memilih jeda dan keduanya sama-sama diam, nyatakan sama sekali bukan pilihan yang tepat.


Sekarang saat keduanya bertemu muka dengan muka, sepasang kekasih yang lama tak bersua itu justru tenggelam dalam gelombang emosi yang seolah tak mampu dibenfung lagi.


"Selama ini aku sudah cukup bersabar Surya ... aku bersabar saat kamu memilih mendaftar menjadi Pegawai Negeri tanpa berunding denganku. Aku bersabar saat kamu harus pergi ke Makassar karena kamu ditempatkan di sana. Bahkan sikapmu yang selama ini posesif, aku bisa menerimanya. Akan tetapi, saat kamu mengatakan jeda dan mendiamkanku begitu saja, aku tidak bisa menerimanya." ucap Bulan dengan bibirnya yang terasa bergetar.


Gadis itu tidak menyangka akan bertemu dengan Surya secara tiba-tiba dan semua yang dia simpan dalam hatinya akhirnya dia utarakan semuanya. Bagaimana dia bersabar dengan Surya, bahkan saat pernikahan keduanya ditunda yang tentunya diprakarsai oleh keluarga Surya saja, Bulan menerimanya. Sekalipun hari bahagia yang dia rindukan dan impikan hancur, gadis itu berusaha ikhlas dan menerima sekalipun kenyataan indah di depan mata berakhir sudah.


"Akan tetapi, setelah 6 tahun lamanya, kenapa sekarang kamu baru protes, Bulan? Kenapa kamu bertahan selama ini hingga berujung dengan melayangkan protes kepadaku. Apa semua itu karena Bintang?" tanya Surya kepada Bulan.


"Jangan membawa-bawa orang lain dalam hubungan kita Surya ... lebih baik selesaikan permasalahan kita berdua yang memang sudah mengakar untuk sekian waktu lamanya." jawab Bulan yang sekaligus memperingatkan Surya untuk tidak membawa-bawa Bintang dalam permasalahan mereka.


Surya nampak tertunduk dan menggelengkan kepalanya. "Aku rasa, aku sudah mendapat jawabannya. Bahkan saat ini pun, kamu lebih memilih membela dia daripada pacarmu sendiri. Ralat, tunanganmu sendiri." ucap Surya dengan suaranya yang sarat akan emosi.


Bulan pun menatap Surya. "Sampai di sini pun rupanya kamu memang tidak bisa mengenaliku dengan baik Surya ... kamu tidak bisa melihat kesetiaan seorang gadis yang sejak dulu berusaha bertahan denganmu, bahkan dengan semua tindakanmu yang impusif pun, ada seorang gadis yang masih bertahan dan menjaga hatinya untukmu. Jika memang sudah tidak ada kepercayaan di antara satu sama lain, untuk apa kita bertahan?"


Pertanyaan dari Bulan pada akhirnya dan mempertanyakan kenapa harus bertahan pada hubungan yang sudah ada kepercayaan. Tanpa kepercayaan sangat sulit untuk membina sebuah hubungan. Terlebih status keduanya yang tengah membina hubungan jarak jauh, tanpa kepercayaan, hubungan itu sangat rapuh.


Seolah enggan mendengarkan ucapan Bulan, Surya nampak melangkahkan kakinya dan mengikis jaraknya dengan Bulan. Pria itu menatap tajam Bulan membuat Bulan memundurkan langkahnya dan harap-harap cemas dengan apa yang akan dikatakan Surya selanjutnya. Mengapa pria di depannya ini tiba-tiba berusaha terus mendekatinya.

__ADS_1


Saat Surya melangkahkan satu kakinya, Bulan pun memundurkan langkahnya. Sungguh dia takut dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Ditambah dengan kondisi Surya yang nampak tersulut emosi, membuat Bulan harus ekstra waspada.


"Katakan padaku Bulan, di mana pria itu menyentuhmu?" tanya Surya pada akhirnya.


Bulan pun menggelengkan kepalanya. Berusaha membentengi diri dengan tindakan kasar yang mungkin saja akan Surya lakukan. Gadis itu hanya bisa memundurkan langkahnya.


"Pasti pria itu mencium bibirmu kan?" lagi tanya Surya yang sekarang matanya nampak memandang pada bibir Bulan.


Tanpa menunggu waktu lama, Surya mendorong bahu Bulan, hingga tubuh gadis itu tidak bisa berlari lagi karena di belakangnya adalah tembok. Sementara Surya berada di depannya. Bulan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Stop Surya. Jangan macam-macam." Bulan memberi peringatkan kepada Surya supaya pria itu tidak bersikap macam-macam.


Gadis itu menangis dengan berlinangan air mata, tetapi Surya tidak melepaskan ciumannya yang secara paksa itu. Hingga akhirnya dengan mengumpulkan seluruh tenaga, kedua tangan Bulan mendorong bahu Surya hingga pria itu terdorong mundur. Gadis itu mengangkat telapak tangan kanannya, lantas melabuhkan satu tamparan yang cukup keras di pipi Surya.


Usai menampar pria yang masih berstatus sebagai tunangannya itu, Bulan berlari. Apa yang dilakukan Surya dengan ciumannya secara kasar hingga membuat sudut bibirnya berdarah sangat melukai perasaannya. Dengan air mata yang terus berderai, Bulan berlari. Akan tetapi, karena tidak fokus dan takut jika Surya mengejarnya, Bulan menabrak seseorang yang berdiri di depannya.


Bruuuukkk ....


Kedua mata Bulan yang masih berlinangan air mata itu pun mengerjap. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya, tidak bisa lagi menyembunyikan matanya yang sembab dan sudut bibirnya yang berdarah.

__ADS_1


"Bulan ... kamu kenapa?" satu sapaan keluar dari pria yang barusan ditabrak oleh Bulan.


"Ya ampun Bulan, bibir kamu ... ayo aku obatin." tanpa kekhawatiran dari pria itu. Pria baik hati yang tidak lain adalah Bintang.


Melihat Bintang di depannya, air mata Bulan kian berderai. "Bawa aku pergi dari sini Bin ... tolong selamatkan aku dari dia."


Bintang tahu pasti bahwa 'dia' yang dimaksud oleh Bulan adalah Surya.


Pria itu menghela napasnya secara kasar, kemudian menggenggam satu tangan Bulan. "Kita ke sini dulu, ikuti aku." ucap Bintang yang membawa Bulan ke bagian serambi Benteng Vastenburg. Dia membawa Bulan menaiki sebuah anak tangga, berharap bersembunyi sejenak dari Surya. Di tempat yang cukup sepi dan tinggi hingga dia bisa melihat apa yang ada di bawah, Bulan menangis terisak. Sementara Bintang yang sejak tadi hanya diam, hatinya terasa sesak mendengar isakan dari Bulan.


Bintang menghampiri Bulan, memegang bahu gadis yang tengah menangis membelakanginya itu. Akan tetapi, yang terjadi justru di luar prediksi. Bulan membalikkan badannya dan dia memeluk Bintang.


Momen yang tidak disangka oleh Bintang bahwa gadis itu akan memeluknya. Tangan Bintang yang semula hanya berada sejajar bahunya, perlahan bergerak dan balas memeluk Bulan. Tidak sampai di situ, pria itu juga megusap lembut punggung Bulan.


"Menangislah Bulan jika itu bisa melegakanmu. Menangislah sepuasmu. Ada aku ... ada aku di sini untukmu." ucap Bintang yang masih memeluk Bulan dengan erat.


Sementara Bulan membenamkan wajahnya yang penuh derai air mata ke dalam dada bidang Bintang. Membasahi kemeja yang pria itu kenakan dengan air matanya.


"Dia melukaiku, Bin ...." ucap Bulan sambil terisak.

__ADS_1


Dalam keadaan yanga hancur berkeping-keping, Bulan hanya bisa memasrahkan dirinya dalam pelukan hangat seorang Bintang. Kebaikan hati dan ketulusan yang Bintang berikan nyatanya menjadi tempat ternyaman bagi Bulan untuk mengeluarkan seluruh rasa sakit yang terwakili dari cucuran air matanya.


__ADS_2