Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Membenahi


__ADS_3

Tidak disangkal bahwa menjalin hubungan jarak jauh dengan terpisah jarak dan waktu membuat pasangan merasa kesepian akibat kurangnya interaksi fisik dan emosi secara langsung.


Bulan pun menyadari di saat hatinya begitu merindu dan keinginan untuk bisa bertemu dengan Surya begitu besar, tetapi lagi-lagi jarak dan waktu memisahkan mereka berdua. Di saat Bulan merasa lelah, ingin rasanya ada Surya yang terbiasa memberi waktu untuknya. Namun apa daya, semua berjalan tidak sesuai keinginannya.


Ada sesuatu yang terasa kosong hati gadis itu saat membaca pesan dari Surya.


[To: Bulan]


[Sorry, aku baru membaca pesanmu.]


[Aku barusan makan siang, sementara handphoneku tertinggal di kantor.]


[Kamu masih mengajar?]


Tidak ada yang salah memang, tetapi kenapa Bulan pun merasa pesan-pesan yang mereka kirimkan tidak lagi terasa hangat. Pesan itu terasa hambar saat tengah dibaca.


Begitu sampai di kamarnya, Bulan lantas membuka sebuah kotak berwarna biru yang dia simpan di atas lemari pakaiannya. Dengan perlahan dia meniup debu yang bersarang di atas kotak tersebut. Kemudian membawanya ke atas meja dan membukanya.


Seutas senyuman tersungging di bibir Bulan. Ketika melihat berbagai barang yang Surya berikan kepadanya sejak SMA dulu. Ada surat cinta, gantungan kunci, foto-foto, pita berwarna pink, dan setangkai mawar yang telah lalu.


Semua ini mengingatkanku padamu, Surya...


Berharap hatiku tetap bertaut padamu


Sekalipun jarak kita sedemikian jauhnya


Ada apa dengan hatiku...


mengapa kosong yang kurasakan

__ADS_1


mengapa cinta mula-mula ini perlahan tak terasa


Hubungan kita memang tanpa sua...


tetapi dalam hati kita bukankah masih ada cinta?


Bulan menghela nafasnya sejenak, lalu mengamati berbagai benda bersejarah baginya selama berhubungan dengan Surya.


Melihat kembali barang-barang pemberian Surya seolah men-charge kembali suasana hati Bulan. Mengingat perjuangan mereka dalam mempertahankan sebuah hubungan hingga di angka 6 tahun tidaklah mudah. Bulan berharap, usai mengingat semua itu, hatinya akan kembali menghangat. Walaupun tak dipungkiri, dia begitu ingin bertemu dengan Surya.


Menjelang sore, nyatanya sebuah panggilan telepon masuk ke handphonenya dari Surya.


"Halo ... Bulan? Kamu sedang ngapain di sana?" tanya Surya kepada Bulan melalui panggilan selulernya.


"Aku sedang membuka kembali beberapa benda bersejarah darimu, Surya." jawab Bulan sembari tersenyum.


Surya nampak sedikit mengernyitkan keningnya. "Benda bersejarah? Apa?" tanya Surya.


"Iya, aku lupa ... maafkan aku." sahut Surya.


"Tidak apa-apa, lagipula memang aku saja yang ingin mengenang setiap perjalanan hubungan kita selama 6 tahun ini. Semua yang kamu berikan masih aku simpan mulai dari surat tulisan tanganmu, gantungan kunci, pita berwarna pink, dan setangkai mawar yang kau berikan di hari Valentine pertama kita." jawab Bulan dengan wajah bersemu merah.


Di Makassar sana pun, Surya tersenyum. "Apakah kau menyimpan semua itu?"


Bulan menganggukkan kepala seolah-olah Surya sedang di hadapannya sekarang ini. "Ya, aku menyimpan semua yang pernah kau berikan padaku."


Menjalin hubungan pacaran terkadang memang lucu bukan. Hal sekecil apa pun di simpan dan dikenang untuk membenahi hati. Mengingat kembali romansa bersama. Bagi Bulan sendiri, di saat dia merasa lelah dan terkadang merasa kosong di hatinya, Bulan akan kembali kotak kenangannya itu. Mengingat semua yang sudah dia jalani bersama dengan Surya.


"Maafkan aku Bulan, beberapa hari ini aku sangat sibuk. Banyak sekali yang harus aku kerjakan sehubungan dengan laporan penerimaan pajak." ucap Surya dengan jujur.

__ADS_1


Ya, saat kerjaan telah begitu banyak, maka tidak jarang semua fokus dan konsentrasi tertuju kepada pekerjaan.


Bulan pun tersenyum. "Tidak apa-apa Surya, aku tahu ... kau pasti sibuk di sana. Pun demikian denganku, beberapa hari ini aku sangat sibuk. Hingga terkadang melewatkan untuk mengirimimu pesan."


Surya bernafas lega, semoga setelah komunikasi mereka berdua yang sempat berantakan, hubungannya dengan Bulan akan kembali pada tempatnya seong semula.


"Tidak apa-apa, Bulan ... aku tahu dengan kesibukanmu. Apakah muridmu yang kamu tolongi masih berada di rumahmu?" tanya Surya kepada Bulan.


"Iya ... Tika masih berada di rumahku. Sudah sepuluh hari dia di rumahku. Beberapa hari yang lalu kondisi Bapaknya sempat kritis, saturasi oksigennya turun hingga harus dipasangkan alat ventilator untuk membantu pernapasannya. Usai itu kami belum mendapatkan kabar lagi." cerita Bulan kepada Surya.


Surya pun mendengarkan cerita Bulan itu. "Ya, semoga Bapak dan Ibunya segera pulih. Kasihan juga jika seorang anak kecil terpisah terlalu lama dari orang tuanya."


Bulan pun setuju dengan perkataan Surya. Memang tidak baik seorang anak kecil berpisah terlalu lama dari orang tuanya, begitu juga dengan Kartika. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain bagi anak kecil itu.


"Bagaimana kabarmu di sana Surya? Aku dengan Kota Makassar juga mulai masuk zona hitam. Berhati-hatilah di sana." ucap Bulan yang juga nampak khawatir mengingat kota yang ditinggali Surya juga masuk dalam zona hitam Corona.


Surya menghela nafasnya. "Iya benar, kasus infeksi Corona di Makassar semakin tinggi. Beberapa instansi pemerintah hanya memperkerjakan 25% pekerja saja setiap harinya. Tadi aku baru saja mendapat masker, vitamin C, dan hand sanitizer dari kantor. Lumayan lah untuk semakin melindungi diri." ucapnya sambil tertawa.


Bulan pun ikut tertawa. "Pastikan kamu di sana tetap sehat Surya. Jangan sampai positif Covid, ingat kamu di sana harus bertahan, tidak ada keluargamu di sana." ucap Bulan yang mengingatkan Surya untuk tetap sehat.


Diperhatikan oleh pacar rasanya sungguh menyenangkan. Ya, Surya merasa bahagia karena Bulan adalah sosok yang penuh perhatian.


"Kamu juga jaga kesehatan, Bulan ... jangan sampai sakit. Kira-kira kapan kita bisa bertemu ya Bulan? Terkadang aku ingin lari dari sini dan segera menemuimu. Namun, apa daya semuanya tak bisa kulakukan." ucap Surya dengan nada penuh kecemasan dalam ucapannya.


"Entahlah Surya, aku pun juga tidak tahu kapan kita bisa bertemu. Bagaimana jika kondisi akan tetap seperti ini Surya? Bagaimana dengan hubungan kita berdua?" tanya Bulan yang kembali merasakan dilema dengan hubungannya.


"Semoga semua akan berlalu Bulan ... tunggu aku kembali untukmu. Kita berdua harus sama-sama kuat. Hati kita juga harus kuat, sehingga kita bisa bertahan menjalani semua ini." jawab Surya dengan penuh keyakinan.


Baru saja Bulan ingin kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Surya, tetapi Kartika masuk ke kamarnya Bulan bersama Bu Sundari dengan keadaan menangis.

__ADS_1


Kartika tersedu sedan dan menghambur dalam pelukan Bulan.


"Bu Guru ... Bapak, Bu ... Bapak...." ucapnya dengan air mata yang terus berlinang membasahi kedua pipinya.


__ADS_2