Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Deru Ambulance


__ADS_3

Semakin hari kasus masyarakat yang terpapar Covid-19 makin tinggi, membuat pemerintah pusat mau pun daerah mencanangkan wacana Lockdown.


Sudah nyaris sebulan, Surya dan Bulan menjalin hubungan jarak jauh, keduanya masih bertahan dengan mengandalkan gadget mereka untuk menjalin komunikasi.


Hari ini, sebagaimana diberitakan bahwa tingkat angka orang yang terinfeksi virus Corona semakin tinggi. Pun demikian di kota Jogjakarta.


"Kampung kita semakin sepi ya Pak? Sebisa mungkin semua orang disuruh beraktivitas di dalam rumah." ucap Ibu Sundari kepada suaminya.


Bapak Hartono yang tengah menikmati secangkir kopi pun menoleh kepada istrinya. "Iya, Bu ... seharian di sekitaran Pasar Beringharjo suara ambulance terdengar terus. Bapak sampai merinding mendengar suara ambulance yang seolah gak habis-habis."


Ibu Sundari pun mendengarkan cerita suaminya tentang keadaan di Pasar Beringharjo yang memang sepi dan deru ambulance berlalu lalang.


"Selalu memakai masker ketika berjualan, Pak. Dijaga baik-baik kesehatannya dan jaga jarak. Kita harus pandai-pandai menjaga diri kita sendiri." ucap Bu Sundari.


"Benar Bu. Bapak juga seharian memakai masker, tidak pernah dilepas. Kadang cuma mau minum saja rasanya takut. Apalagi sedang maraknya cluster pedagang pasar, Bu. .. Kemarin ada penjual makanan yang berjualan di depan Pasar Beringharjo terkonfirmasi positif Covid. Rencananya seluruh penjual di Pasar Beringharjo akan di-swab. Bapak sebenarnya takut, deg-degan jika di-swab. Selain belum pernah jadi rasanya takut, juga ketakutan kedua kalau Bapak yang sehat-sehat justru bisa terinfeksi virus Corona. Hidup serba susah sekarang Bu. Jika dulu berjualan omset seharian bisa ratusan ribu hingga jutaan, sekarang sangat sepi. Tidak ada orang yang menginjakkan kaki di Pasar buat membeli kain Batik. Jika dulu batik khas Jogjakarta menjadi primadona dan menjadi barang yang dijadikan oleh-oleh bagi para wisatawan, sekarang area Malioboro sepi. Mendapat uang hasil jualan Rp. 50.000,- sehari saja rasanya susah." cerita Pak Hartono kepada istrinya.


Kejadian ini benar sekali, begitu Corona dikonfirmasi masuk ke Indonesia beberapa pusat bisnis lengang seketika. Kelesuan ekonomi terjadi di mana-mana. Termasuk di Kota Jogjakarta waktu itu. Kawasan bisnis Malioboro dan Pasar Beringharjo yang sering kali menjadi tujuan para wisatawan tiba-tiba harus lengang karena diterapkannya pembatasan sosial.


Bu Sundari pun menguatkan suaminya. "Sabar Pak, situasi ini bukan hanya kita yang mengalaminya. Semua orang juga pasti mengalaminya. Berdoa saja semoga Gusti memberi kesehatan, kelancaran, dan kemudahan."

__ADS_1


Baru usai Bu Sundari berbicara kepada suaminya, di sekitar rumahnya kembali terdengar deru ambulance.


Wiu ... wiu ... wiu ....


(Suara mobil ambulance)


"Siapa lagi itu Pak? Sejak semingguan kampung kita berseliweran (hilir mudik) mobil ambulance. Ibu sampai merinding dengarnya. Kalau dengar suara ambulance Ibu rasanya ketakutan, kalau bukan orang terinfeksi Corona dan dibawa ke Rumah Sakit pasti orang meninggal. Dulu, mendengar ambulance jarang-jarang, sekali sehari bisa berkali-kali mendengar bunyi mobil ambulance." ucap Bu Sundari sembari mengusap-usap lengannya.


"Iya Bu, pancen bener. Kampung kita yang semula ramai, sekarang juga sepi. Tidak ada orang-orang yang bermain di luar rumah, biasanya jam segini masih ada anak-anak yang main sepeda atau sekadar lari-larian di luaran rumah, sekarang semua aktivitas lebih baik dilakukan di dalam rumah. Kemarin juga rumah di Blok sebelah terinfeksi Corona, Bu. Satu keluarga dibawa untuk karantina, dijemput dua mobil ambulance." ucap Pak Hartono.


Mendengar suara orang tuanya yang masih berbincang-bincang di ruang tengah, Bulan pun keluar dari kamarnya.


Ibu Sundari pun tersenyum. "Belum Nduk ... masih jam sembilan, masih sore ini. Kenapa kamu belum tidur?" tanya Bu Sundari kepada anaknya itu.


"Bulan juga belum tidur Bu, tadi baru mau tidur tiba-tiba mendengar suara ambulance. Bulan kaget, jadi tidak bisa tidur lagi." ucap Bulan yang turut mengambil tempat duduk di ruang tamu.


Ketiga anggota keluarga ini sama-sama duduk dan terdiam beberapa saat.


"Kamu kalau di sekolah juga yang hati-hati Bulan... Maskernya dipakai selalu, kita harus pandai-pandai menjaga diri sendiri. Hindari kontak fisik, sering cuci tangan." lagi Bu Sundari selalu mengingatkan Bulan.

__ADS_1


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bu... Bulan selalu mengenakan masker selama di luar rumah kok. Minggu depan sekolah tempat Bulan mengajar juga mau didesinfeksi. Yang ditakutkan juga kalau sampai terjadi cluster sekolah." ucap Bulan sembari memijit pelipisnya yang nampak pening.


"Banyak bermunculan cluster baru memang, di Pasar pun juga semua pedagang akan di-swab massal, Nduk." ucap Pak Hartono kepada putrinya.


Bulan menatap wajah Bapaknya yang sudah tidak muda lagi itu. "Bapak jaga kesehatan selama berdagang Batik di Pasar Beringharjo. Selalu memakai masker, jaga jarak, dan minum vitamin."


Setelah berkata kepada Bapaknya, Bulan masuk ke dalam kamarnya sebentar lalu ia keluar lagi. "Ini Bapak dan Ibu, Bulan mendapat vitamin dari sekolah tadi. Diminum ya Bapak dan Ibu, supaya Bapak dan Ibu tetap sehat, imunnya bagus." ucap Bulan sembari menyerahkan Vitamin C kepada orang tuanya.


"Nuwun (terima kasih) ya Nduk... Ibu juga punya banyak kok. Di kamar ada Vitamin C, Masker, dan Hand Sanitizer juga." ucap Bu Sundari.


Curiga dengan perkataan Ibunya yang berkata memiliki banyak persediaan di kamar. Bulan pun bertanya kepada Ibunya. "Ibu tidak menimbun semua itu kan?" tanya Bulan dengan wajah menyelidiki.


Ibu Sundari pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. "Enggak dong, Ibu enggak menimbun. Sebelum Corona kan Ibu kalau belanja bulanan selalu membeli lebih, jadi masih ada persediaan untuk masker, sabun cuci tangan, dan hand sanitizer. Ibu selalu ingat pesanmu, tidak boleh menimbun masker dan hand sanitizer karena banyak orang membutuhkannya sekarang ini."


Bulan pun lega, dia hanya tidak ingin apabila Ibunya atau keluarganya menimbun barang yang saat ini dibutuhkan banyak orang. Membeli secukupnya dan semampunya saja.


"Bulan, tetapi sebenarnya kita harus berikan Vitamin dan Masker juga buat Eyang yang tinggal di Gunung Kidul. Apa kamu berani ke sana? Di desa sana Eyang juga butuh vitamin dan lain-lain biar selalu sehat." tanya Bu Sundari kepada Bulan.


Mengingat Gunung Kidul, Bulan lantas teringat akan Surya. Dahulu, jikalau ia disuruh orang tuanya mengantar sesuatu untuk Eyangnya, Surya lah yang akan mengantarkannya. Sekarang Surya berada jauh di Makassar. Sudah pasti tidak bisa mengantarkan Bulan.

__ADS_1


"Bisa Bu ... Bulan bisa mengantarkannya sendiri. Ibu siapkan saja apa yang harus diantar buat Eyang. Nanti Bulan akan antarkan ke rumah Eyang. Aman, Bu ... Bulan bisa kok."


__ADS_2