Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Banyu Langit


__ADS_3

"Ini kali pertamaku datang ke sini."


Satu kalimat meluncur dari bibir Bulan, memang benar ini adalah pertama baginya mengunjungi Air Terjun Kedung Kayang.


Di satu sisi, Bintang cukup senang lantaran dia menjadi orang pertama yang membawa Bulan melihat keindahan Air Terjun Kedung Kayang yang sering kali disebut dengan nama "Banyu Langit." Ya, sebutan ini melekat karena Air Terjun Kedung Kayang yang terletak di ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan laut (mdpl).


Gunung Merapi di atas, jurang curam di bawah, adalah dua magnet utama yang membuat tempat ini sangat indah. Dari atas memandang Gunung Merapi yang berdiri dengan megah disertai kepulan asap yang memayungi puncaknya, dan melihat ke bawah pada dasar jurang di mana sungai dengan bebatuan mengalir begitu indah. Nama Kedung Kayang sendiri terangkai dari dua kata yaitu Kedung berarti Air Terjun atau 'banyu' (air dalam bahasa Jawa) dan Kayang berarti langit. Maka dari itu, air terjun ini disebut nama "Banyu Langit".


"Padahal jarak tempat ini dari Jogjakarta juga tidak terlalu jauh. Bagaimana mungkin kamu belum pernah ke sini?" tanya Bintang dengan penasaran.


Bulan pun mengangguk dan tersenyum. "Aku kan anak rumahan, Bin ... aku hanya menghabiskan waktunya untuk mengajar dan di rumah. Selebihnya aku mungkin sesekali mengunjungi Bapak di Kios Batik di Pasar Beringharjo. Area yang aku kunjungi terbatas." akunya dengan jujur.


"Kamu sudah sering ke sini?" tanya Bulan kepada temannya itu.


Nampak Bintang menganggukkan kepalanya. "Ya, beberapa kali saat SMA dulu. Sudah lama, setelah itu aku tidak pernah ke sini lagi. Sekarang aku sudah kerja, untuk pergi main-main seolah tidak punya waktu." ucapnya.


Memang benar apa yang Bintang ucapkan, dulu saat masih sekolah, jika liburan tiba rasanya ingin keluar dari rumah, menghirup udara segar dengan mengunjungi tempat-tempat rekreasi, setelah bekerja, hari libur di akhir pekan lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga.


"Kamu tahu nama lain Air Terjun ini, Bulan?" tanya Bintang perlahan.


Seketika Bulan menggelengkan kepalanya. "Enggak ... aku enggak tahu. Apa emangnya?"


"Banyu Langit. Karena Kedung Kayang itu sama artinya air terjun yang mengalir dari Kahyangan, dari langit." penjelasan Bintang kepada Bulan.


Eh, tetapi tunggu dulu mengapa kata "Banyu Langit" sangat identik dengan salah satu judul lagu penyanyi Campursari Legendaris yang berjuluk "The God Father of Broken Heart" yaitu Almarhum Didi Kempot yang menciptakan sebuah lagu berjudul "Banyu Langit."


"Seperti judul lagu Campursari yang sering diputar Bapak di rumah, Banyu Langit." Bulan terkekeh sembari menoleh pada Bintang.


"Iya, itu memang benar ...."


Lantas Bintang pun bersenandung menyanyikan lagu.

__ADS_1


Banyu langit sing ono dhuwur kayangan


Watu gede kalitan mendungen udan


Ademe gunung Merapi purbo


Melu krungu suaramu ngomongke apa


(Air dari langit yang berasal dari Kayangan


Batu besar tertutup mendungnya hujan


Dinginnya Gunung Merapi purba


Ikut mendengarkan suaramu berbicara)


Sontak Bulan terkekeh geli mendengar Bintang bersenandung lagu Campursari yang terdengar mendayu-dayu itu. Tawanya pecah seketika, tidak disangka tersangka Bintang bisa juga bersenandung dan suaranya cukup merdu di telinganya.


"Jangan bilang kamu Sobat Ambyar (sebutan untuk fans Didi Kempot) Bin?" tanya Bulan yang masih terkekeh geli.


"Benar ... sayangnya, aku Sobat Ambyar." kekehnya hingga wajahnya terangkat ke atas dan terus tertawa.


Sama halnya dengan Bulan, dia tidak mengira bahwa diam-diam temannya ini adalah fans berat Maestro Campursari tersebut.


"Ya ampun, serius? Kok bisa sih." tanya Bulan yang seakan tidak percaya.


"Bisa ... lagu-lagu Beliau cukup mewakili perasaanku. Jadi ya sudah, aku ini bagian dari Sobat Ambyar." jawab Bintang sembari terkekeh.


Lagu-lagu ciptaan Almarhum Didi Kempot memang lagu Campursari berbahasa Jawa yang sering menceritakan pengalaman seorang yang patah hati, tidak jarang banyak pendengarnya yang menangis setelah mendengar dan menyanyikan lagu-lagu Almarhum. Lagu yang menggambarkan sakitnya patah hati, sakitnya dikhianati, sakitnya saatnya seseorang yang kita cintai justru mengingkari janji.


Bulan masih saja tertawa. "Kamu lucu, Bin ... ternyata temanku ini Sobat Ambyar juga. Satu frekuensi sama Bapakku."

__ADS_1


"Oh ya, apa Bapak juga?" tanya Bintang penasaran.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... di kios Batik pasti Bapak memutar radio Campursari Didi Kempot. Bapak sampai hafal beberapa lagu hits Raja Campursari tersebut. Wah, keliatannya seru kalau kamu main ke rumah terus karaokean sama Bapak." ucapnya.


Bintang tergelak dalam tawa. "Boleh ... lain kali bisalah ya, aku main terus campursarinan sama Bapak."


Sapa tahu abis karaokean dijadikan menantu.


Lagi-lagi Bintang terkekeh dalam hati. Bisa-bisanya dia mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, bahkan mustahil dalam benaknya.


Ketika tawa mereka mereda, Bintang menunjuk ke arah satu pada gagahnya Gunung Merapi yang puncaknya tertutup awan itu.


"Lihat itu, itu adalah Gunung Merapi. Sangat dekat sekali dari sini bukan?"


Kedua bola mata Bulan mengikuti arah yang ditunjuk Bintang. Benar dia melihat Gunung Merapi begitu jelas dan terlihat sangat dekat saat ini.


"Deket banget ya dari Gunung Merapi." ucap Bulan yang penuh rasa kagum.


Bintang pun mengangguk. "Tempat ini menawarkan berbagai pesona alam, Bulan ... Gunung Merapi sebagai latarnya, sungai jernih ini sebagai tempat kita berpijakan, dan orang-orang sebagai pengunjungnya. Luar biasa bagus bukan?"


"Ya, bagus banget ... aku enggak nyesel deh bisa ke sini." ucap Bulan yang benar-benar puas dan senang bisa mengunjungi Air Terjun Kedung Kayang.


"Namun, karena air terjun ini berada di kaki gunung termasuk dalam dataran tinggi, jadi hujan bisa turun sewaktu-waktu. Awan gelap dari pegunungan biasanya turun dan menghasilkan hujan. Jadi, begitu awan gelapnya sudah turun, kita naik ke atas ya. Tidak ada tempat berteduh di sini." ucap Bintang.


Baru saja Bintang mengatupkan mulutnya dan berhenti berbicara, perlahan awan gelap dari puncak Gunung Merapi turun menuju kaki gunung. Bulan pun mengamati sekelilingnya.


"Bin, kayaknya kita harus kembali naik sekarang. Itu awan gelapnya mulai turun. Baru juga kamu bicarain, awannya langsung turun deh."


Bintang pun bangkit dari duduknya yang semula duduk di salah satu batu besar, lalu dia mengulurkan kembali tangannya guna membantu Bulan untuk turun.


"Ayo ... hati-hati."

__ADS_1


Dengan perasaan masih canggung, Bulan menerima uluran tangan Bintang. Dengan sigap, Bintang menolong Bulan untuk turun dan mereka kembali menyusuri sungai untuk menuju jalur tracking di jalan setapak yang akan membawanya kembali ke parkiran.


Awan mendung, udara yang dingin, dan ditambah gemericik air membuat suasana kian syahdu. Sayangnya mereka berdua datang sebagai teman. Namun, kendati demikian waktu kebersamaan dengan Bulan di Banyu Langit ini akan menjadi memori indah baginya. Setidaknya dalam satu hari, dia bisa mengobrol dan sedekat ini dengan Bulan. Berlatar Gunung Merapi, bertirai putih air Terjun Kedung Kayang, Bintang berharap suatu hari dia bisa kembali lagi ke sini bersama gadis yang sekian purnama sudah menjadi pemilik hatinya. Semoga saja semesta mendengarkan dan mengabulkan harapannya.


__ADS_2