
Kartika berderai air mata ketika bisa melihat wajah ibunya melalui panggilan video, kendati demikian dia merasa lebih tenang karena walaupun tidak bisa bersua dengan ibunya, tetapi bisa melihat wajah ibunya untuk beberapa menit rasanya sudah menjadi pengobat rindu baginya.
Setelah menenangkan Kartika yang masih menangis, lantas Bulan pamit kepada Kartika untuk berangkat ke sekolah terlebih dahulu.
"Tika, hari ini Tika sekolah dari rumah Bu Guru ya ... Buku dan peralatan tulisnya dikeluarkan. Tika boleh sekolah dari kamar ini atau di mana pun. Senyamannya saja. Ada Bapak dan Ibunya Bu Guru juga ... kalau perlu sesuatu Tika bisa langsung hubungi Bapak dan Ibunya Bu Guru ya."
Tika pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bu Guru ... terima kasih karena Bu Guru sudah menolong Tika...." ucap anak kecil itu dengan tulus.
Setelahnya Bulan keluar dari kamar dan berpamitan dengan kedua orang tuanya. "Bapak, Ibu ... Bulan pamit dulu ya, Bulan mau berangkat ke sekolah dulu. Nitip Tika nggih Pak dan Ibu." pamitnya kepada kedua orang tua.
"Iya ... hati-hati Bulan. Jangan ngebut, naik sepeda motornya pelan-pelan saja." pesan sang Ibu yang nyaris sama setiap harinya saat Bulan berangkat bekerja.
Bulan pun segera bersiap dengan sepeda motor matic yang sudah menemaninya beberapa tahun terakhir, tidak lupa mengenakan helm. Menjalankan ketertiban berkendara. Dengan pelan-pelan gadis itu menyusuri jalan-jalan kecil di area perumahannya dan menuju jalan besar.
Belum sampai Bulan sampai di sekolahnya, sepeda motornya tiba-tiba terasa berat. Bulan menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan guna mengamati apa yang terjadi pada sepeda motornya. Rupanya sepeda motornya bocor, pantas saja terasa berat.
Bulan pun lantas mendorong sepeda motornya dan berharap, dia akan mendapatkan tempat Tambal Ban yang tidak terlalu jauh.
Dengan pelan-pelan Bulan berjalan sembari mendorong sepeda motornya. Sesekali dia melihat pada jam tangan yang melingkar di tangannya, dia berharap supaya tidak terlambat sampai ke sekolah.
Segala daya dan tenaga, dia kerahkan untuk mendorong sepeda motornya. Beberapa meter Bulan berjalan namun masih belum ada tempat Tambal Ban. Itu berarti Bulan harus berjalan lebih jauh lagi untuk bisa mendapatkan tempat tambal ban.
Bulir-bulir keringat mulai menetes di sudut keningnya. Tangannya seolah pegal lantaran terus mendorong sepeda motor. Itu semua lantaran sepeda motor dalam ban keadaan bocor akan lebih berat saat didorong atau dikendarai.
Merasa begitu lelah, Bulan berhenti sejenak. Mengambil nafas dan menyeka buliran keringat di keningnya. Setelah terasa lega, gadis yang mengenakan baju batik dan celana bahan berwarna hitam itu kembali mendorong sepeda motornya.
__ADS_1
Baru beberapa langkah, Bulan kembali berjalan. Akan tetapi, kali ini dia sempat tertegun karena melihat ada seseorang yang menghentikan sepeda motor tidak jauh di depannya.
Seorang pria mengenakan jaket hitam, menghentikan sepeda motornya lalu berjalan mendatangi Bulan.
Perlahan pria itu membuka kaca pelindung helm-nya.
"Bulan ... kamu kenapa?"
"Bintang...." Bulan menyapa pria itu yang ternyata adalah Bintang.
Bulan berhenti dan melihat Bintang. "Sepeda motorku ban nya bocor. Jadi aku dorong deh, mau mencari tempat tambal ban. Akan tetapi, aku sudah mendorong cukup jauh belum ada tempat tambal ban sama sekali." ucap Bulan sembari terengah-engah lantaran kecapean mendorong sepeda motornya.
"Kamu bawa aja sepeda motorku, Bulan ... biar aku yang dorong sepeda motor kamu. Kita telepon tukang tambal ban langgananku saja. Kita menepi di depan mini market itu saja." ucap Bintang sembari mencoba mengambil alih sepeda motor Bulan dan mendorongnya.
"Sini ... biar aku aja yang dorong. Ini kunci sepeda motorku. Tunggu di depan mini market itu saja, aku teleponkan langgananku tambal ban." ucap Bintang.
Tanpa menunggu lama, Bintang lantas mengambil alih sepeda motornya Bulan. Pria itu berjalan sembari mendorong sepeda motor. Sementara itu, Bulan menaiki sepeda motor Bintang perlahan dan menunggu hingga di mini market.
Di sana Bintang lantas menelpon tukang tambal ban langganannya dan memberikan titik lokasinya kepada si penambal ban dengan harapan bahwa penambal ban itu akan segera datang.
"Sudah lama kamu dorong sepeda motor ini, Bulan?" tanya Surya sembari menyeka keringat di keningnya yang kecapean pasca mendorong sepeda motor Bulan.
Bulan menganggukkan kepalanya. "Lumayan, lima belas menit ada. Kamu kok bisa lewat sini, Bin? Mau kemana sepagi ini? Kamu enggak kerja dari rumah ya? Biasanya covid seperti ini banyak yang kerja dari rumah." tanya Bulan kepadanya.
"Oh, aku mau ke kantor aja sebenarnya. Ambil Hardisk eksternal yang ketinggalan di kantor. Dari belakang kok aku seperti kenal, ternyata kamu. Ya udah deh, aku berhenti. Ternyata beneran kamu." jawabnya.
__ADS_1
Bulan lantas melihat mini market sudah buka, dia berniat membeli air minum untuknya dan Bintang, sekaligus bentuk ucapan terima kasih karena sudah menolongnya.
"Tunggu di sini ya Bin ... aku belikan minum dulu." ucap Bulan yang berlalu pamit dan memasuki mini market.
Beberapa menit kemudian, Bulan keluar dan menyodorkan satu botol air mineral bagi Bintang. "Minum dulu, Bin ... kamu pasti haus. Makasih ya aku udah dibantuin. Sorry, jadi ngerepotin kamu." ucapnya.
Sementara Bintang menerima air mineral itu sembari tersenyum. "Makasih Bulan ... aku minum ya."
Bintang dengan segera membuka air minum itu untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya. Sementara Bulan justru nampak kesusahan membuka seal botol air mineralnya.
Diam-diam rupanya Bintang mengamati Bulan yang kesusahan membuka botol air mineral. Bibirnya pun menyunggingkan senyuman seketika. Lalu, Bintang menaruh botol air mineralnya di atas sadel sepeda motornya, lalu meraih botol air mineral yang masih dipegang Bulan.
"Sini ... aku bukakan." ucapnya hingga membuat botol air mineral itu berpindah tangan.
Hanya butuh satu putaran tangan dan seal tutup botol itu sudah terbuka.
"Ini ... minumlah." ucapnya sembari menyerahkan botol air mineral kepada Bulan.
Dengan menganggukkan kepalanya dan satu tangannya terulur menerima botol air mineral dari Bintang. "Makasih ya Bin ... udah dibukain. Mungkin tanganku berkeringat, jadi susah untuk buka. Ya sudah, kamu kalau mau lanjut ke kantor silakan loh Bin...." ucap Bulan yang mempersilakan temannya itu untuk ke kantor.
"Aku temenin kamu dulu, Bulan ... lagipula sebenarnya aku WFH cuma mau ambil Hardisk Eksternal aja kok. Tidak ada urusan mendesak." ucapnya yang kemudian meminum kembali air mineralnya.
Bulan lantas tersenyum. "Makasih banyak ya Bin ... udah dibantuin. Gak enak malahan, aku merepotkan kamu."
Bintang pun membalas senyuman Bulan. "Gak masalah. Membantu orang lain itu menyenangkan."
__ADS_1