
Tidak terasa masa isolasi mandiri selama 14 hari telah Bulan lewati. Dua hari sebelum masa isolasi mandiri berakhir, petugas kesehatan kembali datang dan melakukan tes usap. Hari yang dinantikan tiba, sebagaimana hasil tes usap (swab) dan pemeriksanaan dari petugas kesehatan setempat, Bulan sudah dinyatakan sembuh.
Perjuangannya menjadi Pejuang Negatif selama 14 hari membuahkan hasil. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Bulan ketika mendapati dirinya telah sembuh. Bukan melompat dan berteriak kegirangan, tetapi Bulan justru tersedu sedan saat mendapati dirinya benar-benar sembuh.
Hal yang pertama yang ingin Bulan lakukan adalah menghubungi kedua orang tuanya. Dia ini Bapak dan Ibunya menjadi orang yang pertama kali tahu bahwa dirinya sudah sembuh dan negatif. Dengan segera, Bulan menghubungi nomor telepon Ibunya.
Ibu
Calling
Detik-detik menunggu Ibunya mengangkat telepon membuat Bulan menunggu dan berharap Ibunya akan segera mengangkat teleponnya.
"Halo Nduk... Bagaimana kabarnya?" sapa Bu Sundari melalui panggilan teleponnya itu.
"Alhamdulillah Bu... Hasil pemeriksaan dan tes usap terakhir sudah keluar Bu. Hasilnya sudah negatif. Alhamdulillah, Bulan sudah sembuh."
Air mata mengalir begitu saja di pelupuk mata Bu Sundari. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendengar kabar bahwa anaknya sudah sembuh.
"Alhamdulillah ... akhirnya ya Nduk. Sudah negatif. Sudah sehat. Semoga usai ini selalu sehat-sehat ya." ucap Bu Sundari.
Sama halnya dengan ibunya, saat ini Bulan juga larut dalam tangis kebahagiaan. Empat belas hari terasa begitu lama bagi mereka yang mengisolasi diri sendiri di dalam rumah.
"Terima kasih doanya ya Bu ... sehingga Bulan bisa sembuh. Bapak dan Ibu kapan akan kembali ke rumah?" tanyanya penuh harap karena Bulan pun sudah begitu merindukan kedua orang tuanya.
"Akhir pekan nanti ya Nduk ... di rumah sendiri dulu gak papa kan?" tanya Bu Sundari kepada Bulan.
__ADS_1
Dengan cepat Bulan pun menganggukkan kepala. "Iya ... tidak apa-apa Bu. Sehat-sehat nggih Bu ... salam buat keluar di Gunung Kidul."
Setelah itu, Bulan lantas merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. Mendapati kabar dirinya telah negatif rasanya sebahagia ini. Memang tidak ada yang lebih membahagiakan selain mendapatkan nikmat sehat dari Tuhan. Nikmat sehat itu sungguh tak terkira.
Banyak orang sakit di luaran sana yang mengharapkan kesembuhan. Sama halnya dengan Bulan, saat dia sakit dan belum ada obatnya rasanya dia begitu patah semangat. Air matanya luruh seketika saat dinyatakan positif Covid. Kini setelah 14 hari berjuang dan dirinya dinyatakan sembuh, rasanya begitu bahagia tiada terperi.
Memang kali ini Bulan menangis, tetapi dia menangis bahagia dan penuh syukur. Berbagai gejala Bulan rasakan mulai dari demam, batuk, anosmia, bahkan secara mental Bulan merasa tertekan, tetapi semua terbayar saat tenaga medis menyatakan bahwa Bulan telah sembuh.
Baru saja Bulan menyeka air matanya, handphonenya kembali berdering. Terlihat nama Bintang di sana. Tanpa menunggu lama, Bulan menggeser telepon genggamnya dan berlari ke balkon kamarnya. Rasanya aneh, tetapi Bulan merasa bahwa Bintang saat ini berada di luar pintu gerbangnya.
Ketika sampai di balkonnya, benarlah bahwa Bintang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumah Bulan.
"Halo Bintang...." sapa Bulan melalui panggilan teleponnya.
"Hei Bulan ... sudah 14 hari berlalu. Bagaimana hasil tes swab kamu?" tanya Bintang dengan antusias.
Di luar sepengetahuan Bulan, diam-diam Bintang pun juga menghitung hari. Membiarkan siang dan malam berganti, dan dia berharap 14 hari masa isolasi mandiri akan terlewati. Hanya satu yang Bintang harapan dalam 14 hari terakhir yaitu kesembuhan Bulan.
Dari jauh Bulan nampak tersenyum. "Aku sudah negatif, Bintang ... Alhamdulillah." ucap Bulan dengan penuh syukur.
Lantas Bintang pun turut tersenyum, bahkan pria itu meneteskan air matanya. "Alhamdulillah ...." Rupanya hanya itu yang Bintang ucapkan.
Tiada yang lebih membahagiakan saat ini bagi Bintang. Mendengar hasil tes usap Bulan telah negatif, rasanya Bintang telah menemukan oase di tengah gurun sahara. Dia begitu bersyukur.
"Akhirnya ya Bulan ... Aku ikut bahagia karena kamu sudah sembuh." lagi ucapnya dengan mata yang menatap lurus kepada Bulan.
__ADS_1
Dari jauh Bulan pun menitikkan air mata dan tersenyum. "Terima kasih Bin ... Terima kasih sudah mensupport aku selama 14 hari ini. Rasanya aku tidak berjuang sendiri. Rasanya ada hari di mana aku tidak merasa sendiri. Terima kasih banyak."
Bulan berterima kasih kepada Bintang tulus dari hati. Tidak dipungkiri ada hari di mana dia jatuh, mencoba bangun, tertarih, bahkan sekarang mungkin dia bisa berlari. Orang pertama yang langsung mendatangi Bulan, sekalipun memandang dari jauh adalah Bintang. Orang pertama yang memikirkan kebutuhan Bulan yang sedang melakukan isolasi mandiri adalah Bintang.
Di satu sisi Bintang nampak tersenyum dan menganggukkan kepala. "Sama-sama Bulan ... lain kali lebih menjaga kesehatan ya, jangan sampai tertular lagi. Minum vitamin jangan lupa." ucapnya dengan tenang.
"Iya Bin ... pasti aku akan lebih menjaga kesehatan. Aku ingin keluar dan menemuimu, tetapi aku masih takut. Lebih baik aku menambah masa isolasi mandiriku selama dua hari ini." ucap Bulan yang tentu saja sungkan dengan Bintang.
"Iya ... aku tahu. Yang penting sekarang kamu sudah sembuh. Itu sudah cukup buatku." ucap Bintang yang masih setia memandang Bulan dari jauh.
"Kamu sudah mengabari orang tuamu, Bulan? Tentu mereka akan bahagia dan sangat lega mendengar kabar kamu sudah negatif sekarang." tanyanya kepada Bulan.
Bulan pun menganggukkan kepala. "Sudah ... aku sudah menelpon Ibu. Tentu Bin ... ibu sangat bahagia saat aku menelpon tadi. Namun, Bapak dan Ibu baru bisa kembali ke sini akhir pekan nanti. Aku tidak masalah karena aku bisa lebih sehat lagi."
Mendengar ungkapan lebih sehat lagi, Bintang lantas mengernyitkan keningnya. Dia berpikir apakah Bulan belum sepenuhnya sembuh, sehingga harus lebih sehat lagi. "Apakah kamu belum sepenuhnya sehat, Bulan? Kenapa kamu ingin lebih sehat lagi." tanya Bintang yang tiba-tiba saja terlihat cemas.
Bulan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya aku belum sepenuhnya kuat. Aku masih kecapean dan seperti sesak napas jika beraktivitas terlalu banyak. Rasanya rongga paru-paruku terlalu berat." keluhnya kepada Bintang.
"Apa kamu mau aku antar ke Rumah Sakit, Bulan? Kita lakukan rontgen untuk paru-paru kamu, aku takutnya terjadi pneumonia." sahut Bintang dengan khawatir.
Mendengar apa yang diucapkan Bintang memang rasional di otak Bulan. Mereka yang pasca terkena Covid sering kali terdapat bercak di paru-parunya. Akan tetapi, Bulan takut jika harus melakukan rontgen.
"Tidak usah Bintang ... aku akan banyak istirahat dan minum vitamin. Aku pasti akan jauh lebih sehat." ucap Bulan.
Dari jauh Bintang pun menganggukkan kepala. "Baiklah Bulan ... tetapi, jika suatu saat kamu merasakan gejala, jangan sungkan menghubungi aku ya. Aku akan selalu menolongmu." ucap Bintang dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1