Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Memang Tidak Berjodoh


__ADS_3

Kabar yang disampaikan oleh Bapak Hartono dan Bu Sundari layaknya petir di siang bolong bagi keluarga Dana. Mereka tidak mengira bahwa calon besannya akan datang dan menyampaikan pembatalan pertunangan. Keduanya begitu terkejut dan hanya mampu memandang kotak merah beludru yang dikembalikan oleh Pak Hartono dan kini berada di atas meja.


Pasangan paruh baya itu sama-sama menghela napasnya. Sebenarnya usai masa pandemi berakhir, dan kelonggaran pembatasan sosial berskala besar mulai diterapkan keluarga Dana akan kembali mengunjungi keluarga Bulan dan membahas rencana pernikahan yang sempat tertunda. Sayangnya, sebelum waktu yang mereka rencanakan tiba, keluarga Bulan sudah terlebih dahulu datang dan membatalkan pertunangan keduanya.


"Ada tidak bisa dipikirkan ulang kembali Pak Hartanto? Mengingat keduanya sudah lama menjalin hubungan. Waktu 6 tahun bukanlah waktu yang singkat." ucap Pak Dana yang menyayangkan lamanya waktu hubungan 6 tahun yang tidak berakhir di pelaminan.


Pak Hartono hanya tersenyum kecut sembari menggelengkan kepalanya. "Maaf Pak .... itu sudah menjadi keputusan Bulan. Jika memang tidak berjodoh, mau dipaksa pun ya tidak bisa Pak. Lamanya sebuah hubungan tidak menjamin sebuah hubungan akan berlangsung hingga pelaminan, bahkan hingga langgeng. Jika orang tua yang memaksa, justru kedua anak kita tidak akan merasa bahagia. Jadi biarkanlah saja mereka yang memilih dan menentukan." jawab Pak Hartono yang tidak memaksa Bulan dan juga tidak memperhitungkan lamanya sebuah hubungan.


Mungkin bagi beberapa orang hubungan yang sudah berjalan 6 tahun akan terasa disayangkan jika harus kandas, tetapi Bulan sudah mengambil keputusan. Terlebih dengan tindakan Surya barusan membuat Bulan merasa tidak ingin mundur lagi.


Rupanya tidak berselang lama, Surya juga turut keluar dari kamar. Pria itu nampak kaget melihat kedua orang tua Bulan berada di sana.


Layaknya sopan santun dalam masyarakat Jawa, Surya menyalami (menjabat tangan) Pak Hartono dan juga Bu Sundari. Kemudian pria itu duduk di samping Bapaknya.


Merasakan kehadiran Surya, Pak Dana kemudian menoleh kepada anaknya yang baru saja sampai rumah dan baru selesai bersih-bersih itu.


"Surya, begini ... Pak Hartono dan Bu Sundari datang ke sini untuk membicarakan hubunganmu dan Bulan. Sebagaimana yang sudah kami diskusikan bersama, Bulan mengambil keputusan bahwa pertunangan kalian hanya sampai di sini."

__ADS_1


Wajah kekecewaan pun nampak tercetak jelas di wajah Surya. Pria itu nampak mengusap kasar wajahnya.


"Jadi itu benar keputusan Bulan ya Pak?" tanya Surya kepada Pak Hartono.


Melihat wajah Surya, sebenarnya Pak Hartono sebisa mungkin menahan amarahnya. Dia masih ingat bagaimana wajah Bulan yang sembab dan juga luka di sudut bibirnya. Akan tetapi, memperkeruh suasana tidaklah baik. Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin justru lebih bijaksana.


"Benar ... kami ke sini untuk menyampaikan apa yang sudah keputusan Bulan. Dia yang sudah mengambil keputusan atas apa yang sudah terjadi hari ini."


Pak Hartono memang sengaja menekankan kata 'hari ini' dengan tujuan membuat Surya mengetahui bahwa keputusan Bulan didasari pada apa yang terjadi hari ini.


Nampak Surya menghela napas panjang kemudian menundukkan wajahnya. Pria itu kini hanya mampu melihat pada lantai keramik berwarna cokelat yang dia pijak. Jujur saja, dia pun malu dan takut jika harus berhadapan dengan Pak Hartono dan Bu Sundari.


"Memangnya apa yang terjadi hari ini, Surya?" tanya Pak Dana meminta penjelasan dari Surya.


Gelagapan, pria itu hanya mampu memandang kedua orang tuanya sebelum akhirnya berbicara. "Euhm, sebenarnya tadi Surya tidak sengaja bertemu dengan Bulan di Malioboro, Pak. Di sana, Surya sempat berbuat kasar pada Bulan." ucapnya yang pada akhirnya mengakui tindakannya yang melukai Bulan.


Hanya berbicara demikian, karena Surya malu jika harus mengakui bahwa dia telah mencium Bulan dengan paksa hingga membuat sudut bibir gadis itu berdarah.

__ADS_1


"Ya ampun, Surya ... kenapa kamu bisa berbuat demikian? Mengapa kamu bertindak kasar kepada seorang gadis. Bapak benar-benar kaget dengan ucapanmu ini." ucap Pak Dana yang jujur pun menyayangkan pada tindakan Surya.


Merasa bahwa tidak ada yang harus didiskusikan lagi, Pak Hartono dan Bu Sundari pun meminta undur diri.


"Baik Pak Dana dan Bu Rini, kami mohon pamit. Terima kasih sudah menerima kedatangan kami di sini. Semoga keluarga Pak Dana tetap sehat. Mohon maaf juga bila selama menjalin hubungan Surya, putri saya Bulan sering membuat kesalahan. Jika memang tidak berjodoh, kami pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kami juga mohon pamit. Terima kasih."


Usai sudah pertemuan dan diskusi antara kedua orang tua, sekalipun pedih dan sangat disayangkan, tetapi keputusan yang diambil pihak keluarga Bulan sudah jelas. Sementara Surya yang terduduk di ruang tamu, hanya bisa menatap kotak merah beludru yang di dalamnya berisi cincin pertunangan yang dia berikan untuk Bulan.


Pria itu menghela napasnya dan kemudian memejamkan matanya secara dramatis. Sungguh dia tidak menyangka, baru saja dia tiba di Jogjakarta, rupanya Bulan sudah memilih untuk mengakhiri hubungan keduanya.


Sepulangnya kedua orang tua Bulan, lantas Pak Dana pun terduduk dengan pandangan yang lesu, dia nampak menatap Surya dengan tajam.


"Sebenarnya apa yang terjadi, hingga Bulan memilih untuk mengakhir pertunangan kalian berdua?" tanya Pak Dana kepada Surya.


"Sebenarnya masalahnya sudah cukup lama Pak, sudah hampir dua bulan lamanya kami memilih jeda. Tadi, secara tidak sengaja Surya bertemu dengan Bulan. Maka Surya yang sedang emosi saat itu membawa Bulan untuk berbicara, tetapi karena terlalu emosi yang ada justru Surya menyakiti Bulan. Surya salah Pak, tetapi Surya juga terlanjur emosi." ucapnya.


Pak Dana pun hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka bahwa Surya akan sebegitu emosinya hingga berakhir dengan menyakiti Bulan. Permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik-baik, justru harus direlakan dengan berakhirnya hubungan keduanya.

__ADS_1


"Makanya lain kali, jika ingin bertindak itu jangan gegabah. Pikirkan dahulu risikonya. Jika sudah begini, rasanya Bulan mengambil keputusan yang tepat. Hati seorang wanita sangat halus dan tidak ingin disakiti. Dia pasti kaget bertemu denganmu mendadak, kemudian kamu perlakukan seperti ini. Kamu sudah dewasa Surya, seharusnya kamu bisa melakukan yang baik dan benar. Tidak hanya mengikuti ego sendiri." nasihat Pak Dana begitu panjang dan lebar untuk anaknya yang baru saja tiba dari Makassar itu.


Jauh di dalam hatinya, Surya pun menyesal. Dia tidak menyangka hanya lantaran tidak bisa menahan emosinya, kini dia harus melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana hubungan dengan Bulan putus begitu saja. Tidak ada ikatan di antara keduanya. Salah langkah membuat pria itu mendengkus kesal.


__ADS_2