
"Hei Bin ...." sapa Bulan saat melihat Bintang yang sudah duduk di kursi yang berada di ruang tamunya.
Pria yang saat itu mengenakan kemeja, terlihat begitu rapi. Membuat Bulan tersenyum saat mendapati Bintang yang duduk dan turut tersenyum menatap Bulan.
Pria itu pun kemudian menegakkan punggungnya dan kemudian berdiri. Memberi salam kepada kedua orang tua Bulan, seraya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.
"Selamat Hari Raya Idul Fitri Bapak dan Ibu ... mohon maaf bila ada kesalahan yang disengaja mau pun tidak disengaja." ucap pria itu sembari menundukkan wajahnya, memohon maaf kepada orang yang lebih tua.
"Sama-sama Mas Bintang ... Bapak dan Ibu juga mengucapkan Selamat Lebaran ya. Kita mulai lagi dari Nol." ucap Pak Hartono mewakili Bu Sundari yang mengucapkan Selamat Lebaran untuk Bintang.
"Silakan duduk ...." lanjutnya yang mempersilakan Bintang untuk duduk.
Pria itu datang bukan dengan tangan kosong, di tangannya terdapat paper bag berwarna hijau dengan ornamen ketupat. Perlahan, dia mengangkat paper bag itu dan menyerahkannya kepada Bu Sundari. "Bu, ini dari saya. Selamat Idul Fitri nggih Bu." ucap pria itu dengan begitu santun.
Menerima pemberian dari Bintang, Bu Sundari hanya tertawa. "Gak usah repot-repot loh Mas Bintang ... pake membawa seperti ini. Kalau datang ke rumah mau main, main saja. Ibu justru enggak enak." ucap Bu Sundari dengan jujur yang merasa tidak enak dengan pemberian yang dibawa Bintang.
Sementara Bintang hanya mengangguk dan tersenyum. "Tidak seberapa Bu ... hanya sekadar hadiah Idul Fitri." ucap pria itu.
Di satu sisi, Bulan nampak mengamati interaksi antara Bintang dan kedua orang tuanya. Di dalam hatinya, gadis itu berpikir kenapa kedua orang tuanya terlihat cocok dan senang dengan Bintang. Ada rasa keterbukaan yang dirasakan oleh Bulan. Akan tetapi, gadis itu memilih diam dan mengamati interaksi antara Bintang dan kedua orang tuanya.
"Sudah makan Mas?" tanya Pak Hartono dengan tiba-tiba.
Sebelum menjawab, justru Bintang melihat Bulan sejenak. Menatap wajah ayu dari seorang gadis yang kini duduk di hadapannya.
Bintang pun tersenyum. "Tadi sudah di rumah Pak ... kebetulan Ibu memasak Ketupat. Biasa kalau Lebaran, di rumah Ibu selalu memasak Ketupat." jawabnya.
"Sama berarti ... di sini Ibunya Bulan juga membuat lontong. Yang satu cuma media Ketupat dari janur, dan satunya dibungkus dengan daun pisang." ucap Pak Hartono sembari terkekeh.
__ADS_1
"Ya sudah ... kami masuk ke dalam ya. Pasti ada yang mau dibicarakan sama Bulan. Santai saja Mas Bintang, anggap rumah sendiri." ucap Pak Hartono sembari mengajak Bu Sundari untuk masuk ke dalam.
Pak Hartono pun bersama Bu Sundari masuk ke area dapur. Duduk bersama di meja makan. Rupanya Pak Hartono pun sedikit banyak mengamati sikap dan gerak-gerik yang ditunjukkan oleh Bintang. Pria paruh baya pun berdehem yang membuat Bu Sundari menoleh dan melihat suaminya itu.
"Ehem, pria yang santun ya Bu ... anaknya sopan, begitu santun kepada orang yang lebih tua." ucap Pak Hartono sembari sesekali memandang ke arah ruang tamu tempat Bulan dan Bintang sedang duduk berhadap-hadapan.
Bu Sundari pun mengangguk setuju. "Benar ... santun sekali. Calon mantu idaman ya Pak ... sayangnya mereka berdua hanya berteman." ucap Bu Sundari sembari mengeluarkan berbagai kue dan sirup Cocopandan yang dibawakan oleh Bintang dalam paper bag tadi.
"Lihat Pak, tahu banget ke sini membawa aneka kue lebaran ada Nastar, Putri Salju, dan Castangle, dan ini juga Sirup Cocopandan. Kayak mengunjungi mertua di Hari Raya ya Pak?" Bu Sundari terkekeh geli sembari melihat berbagai kue yang dibawa Bintang itu.
Pak Hartono pun mengangguk setuju. "Benar ... Bapak suka sebenarnya sama Bintang. Pria itu santun, juga pembawaannya tenang, kalem. Sama Bulan juga keliatan tulus." ucap Pak Hartono pada akhirnya.
Sebagai seorang Bapak paling tidak Pak Hartono juga menginginkan jodoh yang terbaik untuk Bulan. Kendati demikian, Pak Hartono tidak memaksa. Dia akan membiarkan Bulan untuk menentukan siapa pria yang tepat dan tentunya menyayangi Bulan dengan sepenuh hati.
Sementara itu di ruang tamu, suasana canggung justru menyelimuti Bulan dan Bintang. Keduanya hanya diam dan hanya sesekali melempar pandangan.
"Selamat Lebaran ya Bulan ...." ucap pria itu sembari tersenyum menatap Bulan.
Gadis itu pun menganggukkan kepalanya. "Selamat Idul Fitri juga ya Bin ...." sahutnya dengan singkat.
"Aku minta maaf buat kesalahanku yang kemarin-kemarin ya ...." ucap pria itu dengan tulus.
"Iya Bin ... aku juga minta maaf jika berbuat salah." ucap Bulan yang juga meminta maaf kepada Bintang.
Hari Raya Idul Fitri memang syarat akan bermaaf-maafan dan kali ini keduanya sama-sama saling meminta maaf, berharap keduanya pun bisa kembali ke Fitri, merayakan lebaran sembari bermaaf-maafan.
"Kamu enggak ke mana-mana di Hari Lebaran?" tanya Bintang yang tentunya ingin mencairkan suasana di siang itu.
__ADS_1
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ... aku di rumah saja. Kamu sendiri enggak muter-muter atau silaturahmi ke rumah saudara?" tanya Bulan.
"Enggak ... Bapak, Ibu, dan Kakakku yang mengunjungi Budhe di Solo. Aku di rumah saja." ucap pria itu.
"O ... di Solo, lumayan ya dua jam dari Jogjakarta, itu pun kalau tidak macet. Biasanya lebaran kan macet jalanan." sahut Bulan yang berkata memang saat lebaran justru lalu lintas lebih macet apalagi untuk jalan provinsi Solo - Jogja.
Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... lumayan macet sih, tetapi seru sih di Solo. Banyak wisata kuliner enak di sana." ucap pria itu yang tiba-tiba terbersit tentang wisata kuliner di Kota Bengawan itu.
"Bener ... banyak makanan enak di sana dan harganya terjangkau." jawab Bulan yang kali ini terlihat lebih rileks.
Kemudian Bintang pun seolah merasa lega karena kali ini, Bulan sudah tidak terlalu canggung.
"Kamu tidak berkunjung ke keluarga Surya ya Bulan?" tanya Bintang dengan perlahan.
Sejujurnya Bintang ingin tahu mengapa Bulan justru bersilaturahmi ke sana. Biasanya kan setiap tahun Surya pasti akan mengajak Bulan untuk bersilaturahmi dengan keluarganya.
Senyum di wajah Bulan seketika hilang. "Enggak Bin ... sebenarnya, aku jeda sama Surya." ucap gadis itu dengan lirih, berharap pembicaraannya tidak terdengar oleh kedua orang tuanya.
Bintang pun tertegun mendengar ucapan Bulan.
Bagaimana mungkin Bulan mengatakan jeda? Sudah berapa lama?
Pria itu lantas menatap wajah Bulan dengan sorot mata yang tidak terdefinisikan. Berusaha menyelami kebenaran dalam ucapan Bulan.
"Bagaimana mungkin bisa jeda?" tanya Bintang dengan lirih.
Sementara Bulan hanya menggelengkan kepalanya. Gadis itu tersenyum getir. "Hmm, tidak apa-apa ...."
__ADS_1