
Semalam Bulan mengakhiri panggilan telepon dari Surya dengan hati yang berkecamuk. Rasa rindu bercampur dengan perasaan diabaikan membuat Bulan seketika berwajah sendu.
Pagi ini adalah pagi pertama bagi Bulan tanpa bersua dengan Surya. Biasanya Surya setiap pagi akan menjemput Bulan dan mengantarkannya bekerja, mengajar di salah satu Sekolah Dasar di Kota Gudeg.
Biasanya setiap jam setengah tujuh pagi, Surya telah tiba di rumah Bulan dengan sepeda motornya. Bukan karena tempat kerja keduanya satu arah, tetapi karena cinta lah Surya rela mengantar Bulan berangkat ke tempat kerjanya, barulah kemudian dia bertolak ke tempat bekerjanya, saat ia masih magang sebelum penempatan di salah satu Kantor Pajak di Jogjakarta.
Setiap pagi pria itu sudah menunggu di depan pintu gerbang rumah Bulan, memberikan senyuman terbaiknya, dan juga mengantar Bulan ke tempat bekerja. Pagi ini, untuk pertama kali Bulan akan menjalani pagi tanpa kehadiran Surya.
"Nanti kamu berangkat ngajarnya gimana Nak?" tanya Ibu Sundari kepada putrinya itu.
Bulan yang tengah sarapan bersama Bapak dan Ibunya perlahan mendongakkan kepalanya, menatap satu per satu wajah orang tuanya. "Bulan, naik sepeda motor Bu ... Bulan harus membiasakan diri untuk mandiri tanpa Surya. Jika dulu ada Surya yang mengantar dan menjemput Bulan, sekarang Bulan harus mandiri. Tidak boleh bergantung pada siapa pun." ucap Bulan sembari meneguk teh hangat di cangkir Blirik itu.
"Sabar ya Bulan ... hubungan jarak jauh memang susah, tetapi jika kalian saling percaya dan saling setia semua pasti akan bisa dilalui. Tidak hanya kamu, di sana pun Surya pasti juga belajar beradaptasi. Menjalani hari tanpa kamu. Tidak hanya kamu yang berat, tapi Surya juga." ucap Ibunya sembari menepuk bahu anaknya itu.
Bapak Hartono yang turut sarapan pun, memberikan nasihat kepada anaknya. "Jika cinta kalian tulus, pasti semua dapat dilewati. Bapak hanya bisa bilang sekarang ini lebih baik bersabar. Banyak berdoa juga, sejatinya Tuhan Allah sudah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Perbanyak doa, bukan hanya menjadi hati, doakan Surya di sana juga sehat jangan sampai terkena Covid. Bapak dengar tingkat infeksi virus Corona di Makassar juga tinggi. Doakan Surya di sana sehat, kamu di sini juga sehat."
Bulan menganggukkan kepalanya. "Iya Bapak ... sudah pasti Bulan akan selalu berdoa untuk Surya di sana. Menyebut namanya dalam setiap sujud Bulan di atas sajadah. Semoga Allah meridhoi hubungan kami, Pak. Benar sekali Pak, hubungan jarak jauh sangat sulit, tetapi Bulan tidak bisa menjanjikan apa pun, Pak ... Bulan hanya ingin berusaha menjalaninya."
Mendengar ucapan Bulan, Bapak Hartono pun menghela nafasnya. "Benar Nak, kamu jalani dulu saja. Akan tetapi, berusahalah ikhlas menjalani semuanya. Jika kita sudah ikhlas, insyaallah nanti Allah yang akan membukakan jalan."
Bulan menganggukkan kepala mendengar ucapan Bapaknya. "Iya Bapak, di atas semuanya ini Bulan sedang berusaha untuk ikhlas. Bahkan ketika keluarga kita dan keluarga Surya datang untuk membatalkan rencana pernikahan yang tinggal menghitung minggu pun, insyaallah Bulan ikhlas. Ya, walau pun tidak dipungkiri bahwa Bulan juga sedih, tetapi keputusan sudah diambil. Wedding Organizer dan sebagainya sudah dibatalkan juga. Semoga Allah sediakan waktu-Nya yang terbaik di masa mendatang, dalam keadaan yang lebih baik juga."
"Amin ... Insyaallah, pasti Gusti (Tuhan) akan menyediakan waktu-Nya yang terbaik untuk kamu dan Surya. Bersabar dulu. Semua pasti ada jakannya. Maaf ya Nduk, semua ini sengaja kami lakukan karena memang tidak boleh berkerumun, menyangkut keselamatan orang banyak. Mau tidak mau kita harus mengikuti Surat Edaran Pemerintah. Usaha Bapak dan Ibu pun di Pasar Beringharjo mulai sepi pengunjung. Semoga pemerintah setempat tidak meminta semua pedagang untuk menutup kiosnya, jika terpaksa harus tutup, otomatis kami juga akan di rumah. Semua penjual Batik akan di rumahkan." ucap Ibunya Bulan.
__ADS_1
Bulan nampak berpikir, dampak virus Corona ini tidak hanya sebatas di bidang kesehatan, tetapi bidang perekonomian pun terguncang. Bulan menjadi sedih, pasalnya Bapak dan Ibunya memiliki usaha yaitu berjualan batik di Pasar Tradisional Beringharjo, jika pembatasan sosial dilakukan, praktis para pedagang yang tidak bergerak di kebutuhan pokok akan di rumahkan. Perekonomian keluarga pun pasti akan berimbas jika penjual Batik harus di rumahkan untuk sementara waktu.
"Semoga usaha Bapak dan Ibu masih bisa bertahan ya. Semuanya serba sulit, Pak ... mulai hari ini juga Bulan akan mengajar secara online karena anak-anak sudah diliburkan." cerita Bulan kepada kedua orang tuanya.
"Jadi muridnya sekolah dari rumah, Gurunya yang tetap masuk ke sekolah ya Nduk?" tanya Bapak Hartono.
"Inggih Pak, Guru tetap harus masuk. Mengajar online dari sekolah." jawab Bulan. "Ya sudah, Bulan berangkat mengajar ya Bapak dan Ibu." pamitnya seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati, Bulan. .. bawa sepeda motornya gak usah kenceng-kenceng. Pelan-pelan saja asal selamat. Gak usah ngebut ya Nduk. Hati-hati di jalan." ucap Ibunya sembari mengantarkan anaknya hingga ke depan rumah.
Bulan pun bersiap menaiki sepeda motor maticnya. Mata gadis itu seketika berkaca-kaca, bagaimana Surya dulu selalu menjemputnya di pagi hari. Jalanan yang ia lalui pun mengingatkannya pada Surya. Hati terasa sesak, tetapi tidak boleh larut dalam kesedihan. Bulan sudah berketetapan akan menjalani semuanya, berusaha menjalani hubungan jarak jauh dengan Surya. Inilah pagi pertamanya tanpa sosok Surya. Hanya kenangannya yang menemaninya menjalani hari. Dengan melajukan sepeda motornya, Bulan menguatkan hatinya sendiri.
...🌸🌸🌸...
Sementara itu di Makassar, untuk pertama kali Surya memasuki Kantor barunya di Kota Makassar. Sebagai Aparatur Sipil Negara, hari pertama dilangsungkan penyambutan bagi Pegawai Negeri baru.
Maafkan aku, Bulan....
Biasanya di jam seperti ini aku sudah bersiap di depan rumahmu untuk mengantarkanmu mengajar.
Mulai hari ini semuanya akan berbeda....
Maaf Bulan....
__ADS_1
Pagiku tanpa sua denganmu....
Malam pun hanya berteman kabarmu....
Akan tetapi, satu yang tidak berubah
Rasa cintaku selalu ada untukmu...
aku rindu kamu, Bulan....
aku sayang kamu.
Pria berusia 23 tahun itu pun memeluk rindu untuk sang kekasih. Teringat akan Bulan, Surya lantas mengirimkan pesan untuk Bulan di sana.
[To: Bulan]
[Pagi Bulan....]
[Selamat menjalani aktivitas hari ini.]
[Maaf, tidak bisa mengantarkanmu mengajar.]
[Semangat ya. Jangan lupa memakai masker, minum vitamin, dan selalu ingat aku dalam setiap langkahmu.]
__ADS_1
[Love u Bulan....]
Pesan itu pun segera terkirim, dan Surya menjejakkan kakinya memasuki tempat bekerjanya. Berharap Bulan akan segera membalas pesan yang telah dia kirimkan, sehingga hati dan perasaannya akan jauh lebih tenang.