
Hari ini adalah untuk pertama kalinya setelah sepuluh hari berturut-turut Bintang tidak membelikan makanan bagi Bintang. Sebagaimana permintaan Surya, supaya Bintang berhenti untuk membelikan makanan bagi Bulan.
Sebenarnya ada yang hilang, terbiasa Bintang membeli satu per satu makanan yang sekiranya disukai Bulan. Pagi ini pria itu masih bersantai di dalam rumahnya. Seolah ada rutinitas yang hilang. Namun, Bintang berketetapan dia tetap akan mengunjungi Bulan agak siang nanti. Dia datang dan melihat dari jauh sebagai bentuk dukungan moril kepada Bulan.
Hal yang sama dirasakan oleh Bulan. Gadis itu merasa ada yang kurang. Walaupun sekarang sudah ada makanan di depannya yang dikirim oleh abang ojek online dan Surya juga sudah mengirimkan pesan bahwa dia lah yang akan membelikan apa yang Bulan inginkan.
Pagi itu, Bulan duduk di ruang makan sendirian dan terasa enggan memakan Bubur Ayam. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang hilang. Bulan mencoba menyuapkan satu sendok Bubur Ayam ke dalam mulutnya, tetapi rasanya hambar. Sesungguhnya yang hambar bukan mulutnya, tetapi hatinya. Jujur saja Bulan bingung dengan Surya, apakah mungkin Surya yang menghubungi Bintang dan memintanya untuk tidak lagi memberikan makanan untuknya.
Tiba-tiba itu air mata luruh begitu saja dari mata Bulan. Gadis itu menangis dalam diam, tetapi tiba-tiba dadanya terasa begitu sakit hingga dia sesegukan menahan tangisnya dengan satu tangan yang masih memegang sendok yang berada di atas mangkok Bubur Ayam.
Apa yang aku rasakan?
Kenapa aku sesedih ini?
Bulan mencoba menenangkan hatinya dan menyeka air matanya sendiri di pipi, lalu Bulan menghela napasnya dan berkata darinya sendiri bahwa dia harus tenang. Bahkan Bulan berharap tidak ada kesalahpahaman antara Surya dan Bintang.
Lantaran perasaannya tidak tenang, Bulan akhirnya tidak menghabiskan makanannya. Jam nyaris menunjukkan angka sepuluh, dan Bulan kembali memasuki kamarnya. Sudah sebelas hari berlalu, dan Bulan masih setia melakukan isolasi mandiri dengan begitu patuh.
Saat Bulan hanya sekadar rebahan dengan mata yang menerawang, handphonenya tiba-tiba berdering. Refleks dengan begitu cepat, Bulan segera mengambil handphone tersebut. Gadis itu mengernyitkan keningnya saat mendapati Bintang sedang menelponnya.
"Halo Bin...." sapanya begitu ibu jarinya menggeser ikon berwarna hijau di layar handphone.
"Halo Bulan... Kamu baru ngapain?" tanya Bintang melalui sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Aku hanya rebahan di tempat tidur, Bin...." jawab Bulan yang saat itu memang hanya rebahan di atas tempat tidur.
"Keluarlah di balkon kamarmu, Bulan ... aku ada di bawah seperti biasa." ucap Bintang yang saat itu tengah berdiri di depan pintu gerbang rumahnya Bulan.
Perlahan Bulan bangkit dan perlahan dia berjalan menuju balkon kamarnya. Gadis itu tersenyum saat mendapati Bintang yang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.
"Sudah berapa lama kamu berdiri sana Bintang?" tanya Bulan sembari memandang Bintang dari jauh.
Bintang pun tersenyum. "Aku baru saja datang, lalu aku segera menelponmu. Maaf, kali ini aku datang tanpa buah tangan."
Memang Bintang merasa tidak enak karena setelah sepuluh hari berturut-turut, baru kali ini dia mendatangi rumah Bulan tanpa buah tangan.
Dengan cepat Bulan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa Bintang ... kamu datang saja aku sudah senang. Terima kasih sudah menjengukku dari jauh." Bulan berkata tulus. Tidak dipungkiri dia merasa kesepian selama menjalani isolasi mandiri dan saat ada Bintang yang mengunjunginya walaupun jarak mereka sangat jauh, tetapi itu sudah cukup menghangatkan hatinya Bulan.
Dari kejauhan nampak Bulan menganggukkan kepalanya. "Iya Bin ... makasih banyak ya."
"Jadi bagaimana kondisimu sekarang ini? Sudah enakan?" lagi Bintang bertanya apakah kondisi Bulan sudah jauh lebih enakan.
"Aku sudah jauh lebih baik. Semoga saat tes swab nanti hasilnya negatif. Aku sudah kangen dengan Bapak dan Ibu, aku juga pengen kembali mengajar. Hidup seorang diri itu sangat tidak enak." ucap Bulan dengan tertawa kecut. Dia mengalami kesepian belasan hari lamanya dan benar tidak enak rasanya hidup sendiri di rumah berlantai dua itu.
Bintang mengangguk dan ada rasa kasihan dalam hatinya. Dia tentu tahu bagaimana Bulan kesepian, tetapi protokol isolasi mandiri harus dijalankan. "Sabar ya ... masih tiga hari lagi. Aku berharap kamu benar-benar sembuh. Semangat Pejuang Negatif!" ucapnya dengan mengepalkan satu tangannya dan mengangkat tangan itu ke udara supaya Bulan bisa melihatnya dari jauh.
Dari kejauhan, Bulan pun tertawa dan juga mengepalkan tangannya. "Tentu aku semangat, Bin ... tinggal beberapa hari lagi tersisa. Aku berharap aku benar-benar sudah sembuh. Terima kasih sudah menemaniku dan mengunjungiku walau dari jauh. Setidaknya dalam sehari ada manusia yang aku lihat. Biasanya aku hanya melihat cicak-cicak di dinding yang diam-diam merayap." celoteh Bulan sembari tertawa.
__ADS_1
Ya di dalam rumahnya tidak ada suara manusia, tidak ada aktivitas yang terdengar. Hanya ada cicak-cicak yang merayap di dinding kamarnya.
Mendengar celotehan Bulan yang lucu, Bintang pun tertawa. "Ternyata kamu bisa juga melucu Bulan...."
"Sorry Bin ... nyaris beberapa ini aku sampai lupa tertawa karena larut dalam kondisiku sendiri. Semoga ini pertama dan terakhir kalinya aku positif Covid. Selanjutnya semoga aku selalu sehat." ucap Bulan dengan sepenuh hati. Dia tidak ingin positif Covid lagi. Dia sungguh-sungguh ingin sepenuhnya sehat.
Bintang tersenyum. "Tentu Bulan. Aku juga berharap kamu akan sehat selalu. Jadi hari ini tidak ada yang kamu inginkan? Aku bisa membelikannya terlebih dahulu sebelum aku pulang ke rumah. Sapa tahu ada sesuatu yang kamu butuhkan."
Dari kejauhan Bulan nampak menggelengkan kepalanya. "Terima kasih Bintang ... aku justru merepotkanmu. Kamu datang tanpa buah tangan, aku juga sudah senang."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Bulan. Dia mengakui kalau dia senang saat Bintang tanpa untuk menemuinya.
Di satu sisi, Bintang pun tersenyum. Hatinya juga merasa bahagia mendengar perkataan Bulan. Benarkah Bulan senang saat dia datang?
Lantas keduanya sama-sama diam. Mereka saling berpandangan walaupun dari kejauhan. Membiarkan pikiran mereka melayang. Namun rasanya ada setitik kecanggungan yang menghinggapi keduanya hingga lidah merasa terasa begitu kelu.
Bintang bahkan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak datang. "Baiklah Bulan... Aku pamit ya. Speedy Recovery! Jika membutuhkan sesuatu jangan sungkan menghubungiku. Jadi aku tetap boleh datang menemuimu kan?"
Bulan menganggukkan kepalanya. "Iya Bintang... Datang saja, tidak apa-apa. Jika itu tidak merepotkanmu. Terima kasih sudah mengunjungiku."
Bintang kemudian sedikit menengadahkan wajahnya untuk menatap Bulan dari jauh. Pelan-pelan dia melambaikan tangannya. "Aku pulang ya ... cepat sehat. Nanti jika kamu sudah sehat, aku akan membawamu piknik di sekitaran Jogja." ucap Bintang tiba-tiba.
Bulan pun tersenyum dan melambaikan tangannya. "Sungguh? Oke ... kupastikan beberapa hari lagi aku akan sembuh." jawabnya dengan begitu antusias.
__ADS_1
,