
Bulan hanya bisa menghela nafasnya saat surya terdiam untuk sekian menit lamanya. Sungguh Bulan sangat tahu Surya pasti tengah berdiam saat ini. Diamnya Surya bukan sekadar diam, lebih tepatnya pria itu tengah berpikir.
Kali ini Bulan bukan bermaksud menekan Surya. Akan tetapi, segala sesuatu haruslah dibicarakan terlebih dahulu dengan baik-baik. Apabila berniat menjalin satu hubungan yang serius, ya bicarakan semuanya dengan sebaik mungkin. Jangan memendam apapun yang justru bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Bulan tidak mau itu terjadi, karena itulah dia berusaha bertanya, lebih tepatnya berdiskusi dengan Surya.
“Jawab aku, Surya … jangan hanya diam.” kali ini Bulan kembali bersuara karena merasa Surya tidak memberinya jawaban.
Nampak kegelisahan di wajah Surya saat ini. “Jawaban apapun yang aku berikan pasti akan terasa berat buat kita berdua, Bulan. Seolah-olah kita berdua berada di tepi jurang, satu saja gerakan yang kulakukan salah maka jurang siap menelan kita berdua. Aku tidak mau itu terjadi. Sungguh … kau pun merasa bahwa ini adalah pertanyaan yang sukar dijawab bukan? Tidak mudah memilih salah satu. Aku tahu itu.”
Bulan pun menganggukkan kepalanya. “Benar Surya … pilihan yang sukar. Jujur, aku pun susah untuk melepaskan pekerjaanku di sini. Terlebih aku juga sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil sini. Juga, passion-ku adalah mengajar anak-anak.” ucap Bulan dengan jujur.
Surya sangat tahu bahwa kekasihnya itu memiliki passion yang besar untuk mengajar anak-anak. Berdasarkan passion itu jugalah, Bulan mengambil jurusan Fakultas Keguruan Pendidikan Anak Sekolah Dasar. Bahkan sembari merampungkan Skripsinya, Bulan juga sudah menjadi guru Wiyata Bhakti (guru yang mengabdikan dirinya, sekalipun mereka bukanlah guru PNS. Guru Wiyata Bhakti biasanya didominasi oleh guru-guru muda yang memiliki kompetensi luar biasa dan kemampuan yang lebih fresh. Guru Wiyata Bhakti sama berjasanya dalam bidang pendidikan) walaupun gaji yang dia dapatkan setiap bulannya sangat kecil. Surya tahu bagaimana Bulan merintis karier mengajarnya sejak duduk di tingkat akhir kuliahnya. Oleh karena itu, meminta Bulan meninggalkan cita-citanya menjadi pengajar seolah meminta Bulan untuk melepaskan passion dan cita-cita terbesarnya untuk mendidik anak-anak kecil dengan pendidikan dan pengajar berdasarkan kurikulum pendidikan.
“Maaf Bulan … kurasa permintaanku tadi sangat membuatmu sedih. Permintaanku tadi sangat egois bukan? Maaf.” ucap Surya dengan penuh penyesalan.
Bulan pun menggelengkan kepalanya. “Tidak Surya … tidak perlu minta maaf. Lagipula kita sedang berdiskusi bersama-sama bukan, tidak ada yang salah di sini. Untuk inilah kita berdiskusi karena banyak hal sesungguhnya yang harus kita diskusikan bersama. Ku harap, kamu tidak keberatan. Baiklah Surya, ini sudah malam. Kurasa, sampai di sini telepon kita. Besok aku akan berkunjung ke rumahmu, Surya.”
Surya pun menganggukkan kepalanya mendengarkan pamit dari Bulan. “Hmm, baik. Selamat malam Bulan. I Love U….” ucapnya seraya mematikan panggilan teleponnya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Bulan bersiap mengunjungi kediaman keluarga Surya. Sekalipun Ibunya Surya seolah bercanda saat memintanya main ke sana, tetapi Bulan tetap mengunjungi orang tua Surya. Terus menjalin silaturahmi dengan keluarga Surya, sekalipun Surya sendiri berada jauh di kota Makassar.
Dengan sepeda motor maticnya, Bulan melaju menuju kediaman Surya. Hanya dibutuhkan waktu sekitaran lima belas menit untuk sampai di kediaman Surya. Sebagaimana kebiasaan penduduk di Jogjakarta, ketika mengunjungi kediaman calon mertua yang akan membawa buah tangan, maka Bulan pun membawa sedikit oleh-oleh untuk keluarga Surya.
“Sugeng sonten (Selamat sore - dalam bahasa Jawa) ….” salamnya ketika sudah berada di depan pintu rumah Surya.
“Nggih ….” terdengar sahutan dari dalam rumah.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan paruh baya membukakan pintu bagi Bulan.
Bulan pun melangkahkan kakinya dan memasuki rumah Surya. Dengan perlahan, gadis itu mengambil duduk di kursi kayu ukiran yang berada di ruang tamu.
“Sedang apa Bu? Bagaimana kabarnya?” tanyanya sembari duduk dan membenarkan maskernya di hidung.
“Baik Mbak … tadi baru di belakang, masak buat makan malam nanti.” sahutnya dengan tertawa.
__ADS_1
Lantas Bulan pun menyerahkan sekantong plastik hitam yang berisi buah-buahan. “Ini Bu … ada sedikit buah. Titipan dari Bapak dan Ibu.” ucapnya.
Bu Rini pun tersenyum. “Gak perlu repot-repot, Bulan … kayak berkunjung ke rumah siapa saja. Kami sudah seperti keluarga kamu kan. Bukan orang lain. Ya sudah, ini Ibu terima ya, sampaikan terima kasih kepada Bapak dan Ibu di rumah.”
“Nggih Bu … nanti Bulan sampaikan kepada Bapak dan Ibu.” sahut Bulan sembari menundukkan kepalanya.
“Gimana, hubungan kamu dengan Surya masih baik kan? Sudah beberapa bulan sejak Surya berada di Makassar. Sebenarnya Surya ingin mengambil cuti dan pulang ke Jogja, sayangnya pesawat penumpang tidak ada yang terbang. Jadinya Surya tidak bisa pulang.” cerita Bu Rini dengan mata yang nampak berkaca-kaca.
Sebagai seorang ibu, sudah pasti Bu Rini khawatir dan rindu dengan Surya. Di keluarganya, Surya adalah anak bungsu. Kakaknya perempuan telah menikah. Ditambah situasi pandemi yang semakin menjadi, sudah pasti Bu Rini mengkhawatirkan Surya.
Bulan pun tersenyum. “Kami masih baik, Bu … ya doakan semuanya baik, Bu. Bagaimanapun kami hanya berusaha menjalani dengan sebaik mungkin.” ucap Bulan dengan lembut.
Mendengar perkataan Bulan, Bu Rini pun nampak lega. Jujur saat kemarin dia melihat Bulan tengah berada di warung Mie Ayam dengan Bintang, Bu Rini mengira bahwa gadis yang dicintai anaknya itu sudah tidak lagi bersama dengan Surya. Terlebih di pandangan Bu Rini, Bulan nampak mengobrol sembari tertawa dengan Bintang. Sebagai seorang Ibu, tentu saja Bu Rini curiga dengan Bulan.
“Pesan Ibu, ya Bulan dan Surya sabar … dijalani dengan sebaik mungkin. Kunci hubungan jarak jauh itu berada di hati kalian berdua. Saling menjaga satu sama lain.” nasihat kepada Bulan.
Bulan pun juga mengangguk saat ibu calon mertuanya itu memberikan nasihat. “Iya Bu … semoga Tuhan bukakan jalan untuk kami berdua. Kami hanya sebatas menjalani, selebihnya biarkan Tuhan yang memutuskan segala sesuatunya.”
__ADS_1
“Kami orang tua hanya bisa turut mendoakan untuk hubungan kalian berdua Mbak Bulan … lebih-lebih kalian sudah menjalaninya lama, bukan satu atau dua bulan, tetapi sudah enam tahun. Semoga yang kita harapkan sama-sama terjalin dengan baik, diridhoi Allah.” ucap Bu Rini.
Berbeda dengan Bulan, gadis itu justru terasa ada sisi di dalam hatinya yang kosong. Bagi Bulan, menjalin hubungan bukan berdasarkan pada waktu yang lama, tetapi dari bagaimana keduanya bisa saling mengisi satu sama lain. Lamanya sebuah hubungan tidak menjamin keduanya bisa saling mengisi satu sama lain.