Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Kekalutan Surya


__ADS_3

Makassar, Hari Itu


Emosi dan kecemburuan yang dirasakan oleh Surya benar-benar membuat pria itu kalut sepanjang hari. Bagaimana tidak, saat dia tengah berusaha menghubungi Bulan, ternyata gadis yang dicintainya itu tengah pergi bersama Bintang ke Air Terjun Kedung Kayang. Berbagai pikiran buruk pun muncul, dia berpikiran Bulan tengah selingkuh darinya.


Terlebih saat dia tengah menelponnya dan Bulan ternyata lebih memilih mematikan sambungan teleponnya selama sepihak membuat Surya uring-uringan sepanjang hari.


Apakah memang karena aku jauh, kamu membutuhkan pria lain di sana yang bisa membawamu ke mana, Bulan? Tidakkah sedikit kamu menghargaiku bahwa aku mencintaimu. Jujur, saja aku cemburu Bulan. Hati ini terasa sakit setiap kali mendengar nama Bintang, kamu sebut. Hati ini tak rela saat ada pria lain di luar sana yang mencintaimu dan memberikan perhatian dengan lebih kepadamu.


*Bagaimana aku mengungkapkan perasaanku ini Bulan? Mungkin bagimu, aku terkesan posesif. Akan tetapi, ketahuilah aku cemburu Bulan. Ya, aku cemburu ... sangat cemburu malahan. *


Pria itu bergumam dalam hati sembari berusaha menepis berbagai pikiran buruk dan singgah di dalam benaknya. Sepanjang hari telah berlalu, bahkan hari yang siang telah berganti menjadi malam dan belum ada tanda-tanda bahwa Bulan akan menghubunginya.


Akhirnya, Surya memilih merebahkan dirinya dan menunggu hingga Bulan akan menghubunginya. Kali ini, biarkan Surya mencoba apakah Bulan berinisiatf untuk terlebih dahulu menghubunginya setelah percekcokan keduanya siang tadi.


Beberapa saat pria itu menanti, nyatanya tidak ada panggilan mau pun pesan yang masuk dari Bulan. Pria itu menggerak-gerakkan handphonenya yang serasa begitu sunyi sepanjang hari. Berharap bahwa Bulan akan segera menghubunginya. Sayangnya, sudah lama dia menunggu, tetapi harapannya pupus. Bulan tak kunjung menghubungi atau pun mengirimkan pesan kepadanya.


Apakah Bintang sudah meraih semua pikiran dan hatimu, Bulan? Hingga kamu benar-benar melupakanku di sini. Tahukah kamu, di sini aku menantimu. Tahukah kamu, di sini aku mengharapkan pesanmu. Aku rindu Bulan ... sayangnya lagi-lagi berlari menemuimu pun aku tak mampu.


Lagi pria itu bergumam sembari masih sedikit harapan bahwa Bulan akan menghubunginya.


Menjelang jam 20.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah), barulah handphonenya terasa bergetar. Pria itu mengernyitkan keningnya saat mendapati Bulan yang telah memanggilnya. Dengan segara, ibu jarinya menggeser tombol hijau di layar handphonenya.

__ADS_1


"Ya halo Bulan ...." jawabnya dengan perasaan kalut.


Sesungguhnya banyak sekali yang ingin diucapkan pria itu, tetapi agaknya dia harus menahannya terlebih dahulu karena jika kali ini dia kembali menekan Bulan yang ada adalah gadis itu akan ngambek dan berujung mematikan kembali panggilan selulernya.


"Halo Surya, kamu di sana sedang apa?" tanya Bulan perlahan.


Surya yang sedang merebahkan dirinya di tempat tidur, perlahan mengganti posisinya. Pria itu kini duduk bersandar di dinding kamar kostnya. "Aku hanya di dalam kost saja. Sudah pulang pikniknya?" tanyanya, berharap Bulan akan menjawab pertanyaan itu.


"Ya, aku sudah pulang. Maaf, jika tadi aku mematikan panggilan telepon darimu. Hanya saja menurutku kamu terlalu posesif, Surya. Jadi daripada kita bertengkar melalui telepon, lebih baik aku mematikannya." ucap Bulan dalam sambungan telepon saat itu.


Sementara Surya sebisa mungkin masih berusaha menahan emosinya, pria itu nyaris meledak sesungguhnya, tetapi sudah pasti Bulan akan langsung mematikan sambungan telepon jika dia terbawa emosi dan tidak bisa menahan dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa, maaf juga aku terlalu bersikap posesif selama ini. Itu semua kulakukan karena aku mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu, Bulan. Sungguh, aku cemburu saat kamu mengatakan bahwa kamu pergi ke Air Terjun Kedung Kayang bersama Bintang, tidakkah kamu merasa kalau Bintang menyukaimu."


Sementara di seberang sana, Bulan tidak terlalu terkejut karena hari ini Bintang sudah mengakui dengan mulutnya sendiri bahwa dia mencintai Bulan dan pria itu mengatakan untuk menunggunya.


Sama halnya dengan Surya, Bulan pun merasa kalut. Haruskah dia menceritakan kejadian penting hari ini kepada Surya? Jika dia bercerita sudah pasti Surya akan marah, dan jika dia tidak bercerita kenapa rasanya dia berbohong dan menutupi sesuatu yang telah terjadi.


"Kenapa kamu diam saja Bulan? Apakah ada sesuatu yang terjadi hari ini antara kamu dan Bintang? Jawab aku." pintanya saat menyadari bahwa kekasihnya di seberang sana hanya diam dan tidak memberikan jawaban untuk setiap perkataannya yang tidak terbalas.


Di seberang sana, Bulan seakan tercekat. Gadis itu memijat-mijat keningnya yang terasa begitu berat. Haruskah dia jujur saat ini?

__ADS_1


Memberanikan diri, akhirnya Bulan pun bersuara. "Euhm, aku sudah tahu Surya ... tadi Bintang mengatakan bahwa ternyata selama dia mencintaiku." ucap Bulan dengan perlahan.


Sebuah hantaman layaknya dari batu besar menghantam dada Surya, membuat pria itu measakan nyeri hingga sampai di ulu hatinya. Dengan samar, pria itu tersenyum getir.


"Jadi Bintang mengatakannya?"


"Ii ... iya. Bintang mengatakan isi hatinya kepadaku." jawab Bulan.


"Lalu, apa jawabanmu?" tanya Surya perlahan. Sungguh, Surya tidak pernah membayangkan akan menanyakan hal seperti ini kepada Bulan.


"Aku menolaknya, Surya ... aku mengatakan padanya bahwa semua yang terjadi ini adalah salah." ucap Bulan dengan jujur.


Ya, sejak Bintang mengutarakan isi hatinya, Bulan mengatakan bahwa pengakuan cinta dan juga ciuman dari pria itu adalah sebuah kesalahan. Bahkan sekarang kini dia juga turut jatuh dalam lobang kesalahan.


"Benarkah kamu menolaknya?" tanya Surya seolah ingin meyakinkan hatinya.


"Iya, aku menolaknya." jawab Bulan dengan cepat.


Surya menghela napasnya yang begitu sesak rasanya di dada. "Jadi, kalian pergi ke Air Terjun Kedung Kayang hanya untuk mengucapkan perasaan ya? So sweet sekali menembak seorang cewek di sebuah air terjun yang begitu indah dengan Gunung Merapi sebagai latarnya." ucap Surya sembari tertawa sinis.


Dalam pikirannya saat ini, Surya mendapat jawaban bahwa Bintang membawa Bulan jauh-jauh hingga ke Air Terjun Kedung Kayang untuk mengutarakan perasaannya kepada Bulan.

__ADS_1


Sudah pasti, pernyataan cinta yang begitu indah dan terkesan karena disaksikan megahnya Gunung Merapi dan indahnya Air Terjun dengan gemericik airnya yang menambah suasana semakin romantis.


"Aku tak mengira, kalian jauh-jauh ke sana untuk melakukan itu. Meninggalkan aku yang berada jauh di sini. Melupakan hati yang seharusnya untuk dijaga. Hmm, luar biasa." ucap Surya dengan sinis. Kali ini seakan Surya kehilangan akalnya, dia sudah dipenuhi dengan berbagai pikiran buruk dan hingga di dalam benaknya hingga dia mengucapkan perkataan itu kepada Bulan.


__ADS_2