
Menerima keputusan yang rasanya pahit memang tidak dipungkiri akan menggoreskan luka. Akan tetapi, mau tidak mau itulah yang harus diterima oleh Surya. Menerima bahwa kali ini kepulangannya ke Jogjakarta justru hanya membuatnya kehilangan seseorang yang dia cintai dan juga merelakan bahwa kisahnya memang telah usai. Sekalipun dalam hatinya masih ada rasa cinta, ya rasa cintanya untuk Bulan masih belum usai. Namun, keputusan Bulan yang tidak memberikannya kesempatan keduanya, membuat hari-hari Surya selama berada di Jogjakarta berselimut awan duka.
Masih membekas dalam bayangannya, apabila dulu ketika dia memilih liburan ke Jakarta, begitu sudah kembali ke Jogjakarta ada Bulan yang menunggunya, bertemu kembali di kampus, dan mengisi hari berdua. Akan tetapi, kali ini terasa begitu berbeda, baginya langit kota Jogjakarta hanya berselimut awan gelap yang tak kunjung pergi.
Hingga akhirnya, sebelum masa cutinya usai, Surya justru memilih untuk kembali ke kota Makassar dengan lebih cepat.
Di Bandara Internasional Yogyakarta, pria itu kini berada. Diantar oleh kedua orang tuanya, Surya tengah bersiap memasuki ruang tunggu.
"Bapak dan Ibu, Surya pamit nggih. Mohon maaf jika belum bisa pulang lama-lama. Nanti kalau ada waktu, kalau kondisi sudah semakin membaik, Bapak dan Ibu main-main ke Makassar. Harus mencoba langsung Sup Konro dan Palu Basa di Makassar." ucap pria itu yang meminta Bapak dan Ibunya di lain waktu untuk bisa mengunjungi kota Makassar secara langsung.
Lagipula dengan benar apa yang disampaikan oleh Surya bahwa Sop Konro (sup iga sapi yang merupakan warisan masakan Nusantara dari Suku Bugis) dan Pallubasa (Masakan tradisional khas Makassar yang bentuknya mirip Coto Makassar, daging yang digunakan bisa dari daging sapi mau pun daging kerbau) khas Makassar memang sangat enak dan lezat. Mereka yang berwisata ke Makassar belum lengkap jikalau belum mencicipi Sop Konro dan juga Pallubasa khas Makassar.
Kedua orang tua Surya pun tersenyum. "Ya, jika ada waktu, kami akan ke sana. Jadi gimana perasaanmu sekarang? Sudah tidak apa-apa kan?" tanya Bu Rini, yang tak lain adalah Ibunya Surya.
Pria itu mencoba menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, sekalipun hatinya benar-benar hampa sekarang ini. "Iya Bu ... tidak apa-apa, doakan Surya baik-baik saja di Makassar. Insyaallah, Surya bisa menerima."
__ADS_1
Sebenarnya, hati Bu Rini merasa pilu. Untuk pertama kali, Surya pulang ke Jogjakarta dengan hati yang sepenuhnya tidak baik-baik saja. Akan tetapi, sebagai seorang Ibu tetap saja Bu Rini merasa kasihan dengan Surya.
Akhirnya, wanita paruh baya itu memeluk putranya itu. "Ibu selalu mendoakan, kamu bahagia di Makassar. Di jaga hatinya, boleh bersedih, tapi jangan lama-lama. Buka hati lagi untuk yang lain." nasihatnya kepada Surya.
"Iya Bu ... Surya akan secepatnya pulih." ucapnya sembari tersenyum getir.
Ketika waktu untuk boarding tiba, Surya pun berpamitan kepada kedua orang tuanya dan segera memasuki ruang keberangkatan guna melakukan cek in terlebih dahulu.
Saat akhirnya dia sudah berada di dalam pesawat yang telah terbang dari Jogjakarta menuju Makassar, pria itu sengaja memejamkan matanya. Sekalipun dia sama sekali tidak mengantuk, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan perasaan hampa dalam hatinya.
Masih teringat dalam ingatannya bagaimana dulu saat pertama kali dia meninggalkan Jogjakarta dan menuju Makassar ada Bulan yang mengantarkannya hingga ke Bandara. Air mata yang saat itu Bulan keluarkan membayangi Surya, membuat hati pria itu melemahkan membayangkan harus berpisah jarak dari Bulan untuk saat yang lama. Sekarang, dia harus kembali ke Makassar tanpa Bulan yang mengantarkannya. Hatinya benar-benar hampa.
Pria itu kemudian membuka matanya dan melihat history pesannya bersama Bulan. Dulu handphonenya tidak pernah sepi karena Bulan yang selalu memberikan kabar kepadanya. Setelah memutuskan jeda, handphone itu seolah tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Sama seperti handphone ini yang sepi ... hatiku pun sepi. Aku memilih kembali ke Makassar lebih awal, Bulan. Harapanku kamu bahagia, biarlah aku yang tersakiti. Jika memang kembali lebih awal bisa membuat hati ini baik-baik saja, maka itulah yang akan kulakukan." ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Tidak terasa perjalanan selama 2 jam di udara dari Jogjakarta ke Makassar akhirnya akan usai. Pria itu mendengkus, kini dia telah kembali ke Makassar. Kota yang maju dan menyimpan sejarah panjang di Pulau Sulawesi, kota yang bermil-mil jauhnya dari Jogjakarta.
"Aku pergi Bulan ... kembali ke Makassar. Kita jauh lagi, tetapi sekarang tidak seperti dulu karena kisah cinta kita telah usai. Padahal jika kamu tahu, hatiku ini belum usai untuk mencintaimu. Sayangnya, keegoisanku yang membuat semua ini berantakan. Aku memilih pergi." gumam pria itu sembari menatap beberapa foto Bulan bersamanya yang masih tersimpan di galeri handphonenya.
...🌸🌸🌸...
Sementara itu di Jogjakarta, Bu Sundari pun memberanikan diri untuk menanyai Bulan bagaimana perasaan dan situasi hatinya sekarang. Beberapa hari berlalu dan Bu Sundari sudah memberikan waktu sendiri bagi Bulan, maka sekarang Bu Sundari pun menanyakan perasaan anaknya itu.
"Jadi, bagaimana perasaan kamu sekarang ini Bulan?" tanya Bu Sundari sembari menyetrika baju, sementara Bulan membantu Ibunya itu.
Perlahan Bulan menolehkan lehernya guna menatap wajah Ibunya. Gadis itu pun tersenyum. "Bulan baik-baik saja Bu ... maafkan Bulan ya Bu, karena kisah Bulan harus berakhir." ucap gadis itu yang merasa tidak enak hati karena telah memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya.
Bu Sundari pun mengangguk. "Tidak apa-apa. Ibu tahu, ketika para tetangga mengetahui bahwa hubunganmu dengan Surya berakhir, mereka pasti akan kepo dan nyinyir. Akan tetapi, tidak apa-apa ya ... tidak perlu dipikirkan. Lagipula semua kan memang ada konsekuensinya." ucap Bu Sundari yang mencoba membesarkan hati Bulan.
"Iya Bu ... terima kasih. Bulan juga bersiap untuk menerima konsekuensinya, termasuk mendapatkan beragam komentar nyinyir dari para tetangga nanti." ucapnya sembari tersenyum.
__ADS_1
Bu Sundari pun turut tersenyum. "Bagi Bapak dan Ibu itu yang penting adalah kebahagiaanmu. Jika saat ini kamu bahagia, itu lebih dari cukup. Lagipula semua orang tua berharap dan berdoa bahwa anaknya akan selalu bahagia. Jika anak bahagia, orang tualah yang akan lebih berbahagia."
Hati Bulan pun terasa penuh syukur mendengar ucapan dari Bu Sundari. Dia bersyukur kedua orang tuanya tidak menekannya untuk bertahan hanya karena lamanya sebuah hubungan. Akan tetapi, orang tuanya selalu mendukung apa yang Bulan putuskan asalkan anaknya itu bahagia.