Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Buka Puasa Kejutan


__ADS_3

Masih dalam suasana puasa, sekalipun menjalani puasa dalam suasana pandemi, tetapi tidak menyurutkan semangat untuk meraih kemenangan di bulan yang penuh fitri ini. Sekalipun harus menjalani ibadah dari rumah, nyatakan seluruh umat Muslim di seluruh dunia tetap bersemangat menjalankan ibadah dan meraih pahala di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini.


Sama halnya dengan Bulan, gadis itu meyakinkan dirinya sendiri untuk bersyukur dan menjalani puasa dengan hati yang penuh syukur. Jikalau beberapa saat yang lalu, Allah mengizinkannya untuk mengalami positif covid, menjalani masa isolasi mandiri selama 14 hari lamanya, dan juga nyaris merasa down secara mental. Kini, gadis itu ingin mengucap syukur kepada Allah untuk nikmat kesehatan dan kesembuhan yang sudah Allah berikan.


Sore itu, menjelang saat berbuka, Bulan berpamitan kepada Bapak dan Ibunya untuk berbuka puasa di salah satu tempat makan yang berada di kota Gudeg. Sedikit melepas penat selama mengajar dan juga menikmati waktu berbuka dengan suasana yang berbeda.


"Bu, Bulan pamit dulu ya ... cuma mau berbuka puasa saja, Bu. Setelah selesai,Bulan akan langsung pulang." pamitnya kepada sang Ibu.


Bu Sundari pun menganggukkan kepalanya. "Iya, yang penting hati-hati. Jangan pulang terlalu malam. Naik sepeda motornya tidak usah ngebut."


Dengan pelan-pelan Bulan melajukan sepeda motornya, tempat yang dituju Bulan adalah Legend Cafe yang berada di daerah Gondokusuman, Kota Baru, Jogjakarta. Dahulu kala, kawasan Kota Baru disebut juga sebagai kota elit atau kawasan para borjuis (Orang kaya) yang tinggal di kota Jogjakarta. Akan tetapi, sekarang tempat ini justru berdiri berbagai cafe yang mengusung konsep kekinian dan instagramable. Salah satunya adalah Legend Cafe. Mengusung tema vintage yang begitu unik, membuat Legend Cafe menjadi salah satu cafe yang cukup hits di Kota Jogjakarta.


Begitu tiba di cafe yang terkenal kental dengan konsep unik, elegan, dan warisan sejarah kota Jogjakarta ini, Bulan lantas mengambil tempat duduk di sudut yang agak sepi. Gadis itu rupanya ingin menikmati kesendirian dengan berbuka puasa sendiri. Sebuah minuman Es Cokelat Klasik dan Paket Ayam Penyet menjadi pilihan Bulan untuk berbuka puasa petang itu.


Menunggu pesanan datang, Bulan mengedarkan matanya ke sekeliling. Dalam hatinya dia merasa bahagia dan senang saat menginjakkan kaki di cafe ini. View bangunan klasik ala Art Deco memberikan kesan nuansa heritage unik, juga perpaduan sempurna antara tatanan kota modern dengan tatanan kota cantik ala tropis begitu menyegarkan mata.


Dalam lamunannya menikmati keindahan suasana, seorang pria secara tiba-tiba berdiri di hadapan Bulan.


"Kamu di sini Bulan? Bolehkah aku bergabung?" suara khas bariton yang begitu enak menyapa indera pendengaran Bulan.


Gadis itu sedikit menengadahkan wajahnya guna melihat wajah pria yang kini berdiri di hadapannya. Betapa Bulan terkejut, karena Bintanglah yang kini berdiri di hadapannya.


Bulan hanya memberikan anggukan pias kepada Bintang. Kendati demikian, sedikit pergerakan kepala gadis itu mampu membuat Bintang tersenyum dan kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Bulan.


"Kamu sendirian saja?" tanyanya begitu duduk sembari mengamati wajah Bulan.

__ADS_1


"Iya ... aku cuma sendirian. Kamu kok bisa ada di sini?" kali ini Bulan bertanya masih dengan perasaan canggung.


Kenangan bersama Bintang di Air Terjun Kedung Kayang masih belum bisa dia lupakan. Kenangan itu justru dengan sendirinya terlintas begitu saja. Kenangan yang sesungguhnya memberikan dampak tidak baik bagi hubungan Bulan dan Surya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu Bulan mulai bisa menerima kondisinya sekarang ini. Walaupun Bulan belum bisa berdamai dengan Bintang, tetapi dirinya pun tidak ingin bersitegang dengan Bintang.


"Tadi abis dari kantor, aku langsung mampir ke sini. Enggak nyangka ya, justru ketemu sama kamu di sini. Sudah lama?" tanya Bintang yang terlihat begitu bahagia bisa bertemu dadakan dengan Bulan di Legend Cafe ini.


Bulan pun menggelengkan kepalanya. "Baru saja, palingan sepuluh menit. Kamu enggak pesan dulu?" tanyanya sembari menyodorkan buku menu kepada Bintang.


Pria itu menerima buku menu yang disodorkan Bulan dengan senyuman. Tidak lupa mengucapkan terima kasih, kemudian mulai melihat daftar menu dalam buku tersebut. Setelah yakin, pria itu mulai mengangkat tangannya guna memberikan kode untuk memanggil pelayan.


"Mas, mau pesan." ucapnya untuk memanggil pelayan yang bekerja di situ.


"Silakan Mas, mau pesan apa?"


"Saya pesan Es Cokelat Klasik satu, Paket Ayam Penyet satu, dan pisang bakar cokelat keju satu ya."


"Kamu sudah pesan?" tanya Bintang perlahan.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Ii ... iya. Sudah. Palingan bentar lagi di antar." jawab Bulan dengan lirih.


Sembari menunggu pesanan datang, secara sembunyi-sembunyi Bintang mengambil foto Bulan secara candid. Seakan tidak melihat kamera, dengan latar bangunan Art Deco yang memberi kesan vintage membuat hasil bidikan kameranya begitu epik. Pria itu tersenyum mengamati hasil fotonya di layar handphonenya, kemudian kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku.


Begitu pesanan mereka tiba bersamaan, Bintang nampak mengamati semua menu yang berada di meja. Barulah pria itu menyadari ternyata mereka memesan menu yang sama.


"Wah, ternyata menu pesanan kita sama juga?" tanyanya sembari tertawa.

__ADS_1


Sementara Bulan hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Keduanya sama-sama diam, menunggu hingga adzan magrib dikumandangkan.


Detik-detik menunggu adzan magrib, Bulan dan Bintang sama-sama diam, berkelut dalam pikirannya masing-masing. Hingga petang pun tiba, dan adzan magrib terdengar. Keduanya lantas menengadahkan tangannya, berdoa untuk berbuka puasa.


Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa'ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin.


Artinya:" Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan


dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih


dan Penyayang."


Begitu kata "Amin" sama-sama terucap. Entah mengapa keduanya lantas tersenyum.


"Selamat berbuka puasa Bulan ...." sapanya mengucapkan Selamat Berbuka Puasa mendahului Bulan.


Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Selamat berbuka puasa Bintang." ucapnya sembari menyeruput Es Cokelat Klasik yang berada di hadapannya.


Keduanya sama-sama menikmati menu buka puasa berdua.


"Bulan, abis ini jangan pulang dulu." pinta Bintang secara tiba-tiba kepada Bulan.


Gadis itu menatap Bintang dan seolah mencari jawaban untuk tujuan apa pria itu untuk memintanya untuk tidak langsung pulang.


"Kita sholat Tarawih bersama sebentar di Mushola belakang ya." ucapnya dengan tenang dan sorot matanya yang teduh.

__ADS_1


Baru kali ini ada seorang pria yang mengajak Bulan untuk Sholat Tarawih bersama. Mendengar ajakan Bintang, rasanya Bulan tidak mampu untuk menolak. Gadis itu pun menganggukkan kepalanya. "Iya, boleh ...."


__ADS_2