Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Pacaran Platonik


__ADS_3

Mendengar ucapan Arunika tentang Bintang, nampaknya sangat menarik bagi Surya. Benarkah sahabatnya itu adalah tipe pria yang benar-benar akan menjaga gadis yang dia cintai. Bukan dengan perkataan, melainkan dengan tindakannya.


Surya pun mengernyitkan keningnya dan berusaha mengingat bagaimana perangai Bintang selama ini. Memang dirinya yang cuek atau memang Bintang yang tidak menunjukkan sikapnya saat menyukai seorang gadis. Akan tetapi, apa yang diucapkan Arunika nampaknya menyita perhatian Surya. Surya dan Bintang sudah bersahabat sejak lama, tetapi temannya itu memang terlihat biasa saja. Sekolah hanya sebatas sekolah, kuliah pun begitu juga. Bahkan saat Bintang berpacaran dengan Arunika, Surya hanya pernah melihatnya beberapa kali saja.


"Apakah kamu yakin jika Bintang akan benar-benar menjaga gadis yang disukainya? Kenapa kamu yakin?" tanya Surya yang mulai meminum es pisang ijo nya.


Arunika pun menganggukkan kepala. "Iya, aku yakin. Biasanya di balik sikap dingin seorang pria, tersembunyi sikap hangat yang hanya akan mereka tunjukkan kepada orang yang spesial." Arunika menjeda sejenak ucapannya, gadis itu tersenyum hambar. "Walaupun selama bersama Bintang, tetap saja dia bersikap biasa aja. Tetap dingin dan tak tersentuh."


Surya mengernyitkan keningnya dan dia mulai mencerna setiap ucapan Arunika. "Tak tersentuh?"


"Kau tahu pacaran Platonik?" tanya Arunika kepada Surya.


Dengan cepat Surya pun menggelengkan kepalanya. "Tidak."


"Hubungan yang tidak pernah melibatkan sentuhan fisik itulah cinta Platonik. Lucu bukan? Bahkan kami sekadar bergandengan tangan pun tidak pernah." Arunika tertawa membayangkan hubungannya dengan Bintang yang mengusung gaya pacaran Platonik.


Surya menganggukkan kepala mendengarkan cerita Arunika. Sisi lain dari seorang Bintang yang tidak dia ketahui sebelumnya, rupanya Bintang pun mengusung gaya pacaran Platonik. Sungguh lucu. Biasanya seorang pria akan begitu mencintai pacarnya dengan memberikan sentuhan fisik sekadar pelukan atau ciuman, tetapi itu semua tidak berlaku bagi Bintang. Apakah benar Bintang sedingin itu dan tidak tersentuh?


Arunika pun teringat dengan pacar Surya, karena beberapa di kampus dulu mereka pernah bertemu. Maka dari itu, Arunika berniat bertanya kepada Surya.


"Apa kamu masih dengan pacarmu yang dulu, Surya? Siapa ya namanya, Bulan? Yah, Bulan Maheswari yang merupakan mahasiswa teladan di Fakultas Keguruan Saat itu." ucap Arunika sembari tertawa.


Dengan segera Surya menganggukkan kepalanya. "Iya, aku masih bersama Bulan ... dua bulan ini kami menjalin hubungan jarak jauh."


Arunika nampak mendengarkan cerita Surya, lantas dia pun tersenyum. "Ku harap hubunganmu dengan Bulan akan berjalan lancar. Inti dari hubungan jarak jauh adalah komunikasi. Itu sangat penting. Jangan sampai bosan untuk mengabari pasangan, sekecil apa pun. Berikan perhatian walaupun kita tidak bisa bersama dengannya setiap saat, tetapi perhatian dari kita tidak terbatas pada jarak dan waktu bukan? Ketulusan itu akan terasa walaupun pasangan kita berada jauh dari kita."

__ADS_1


Ya, kunci hubungan jarak jauh memang adalah di komunikasi. Semakin kuat komunikasi yang dibangun, semakin kuat pula hubungan kita. Nyatanya mereka yang berhasil dalam Long Distance Relationship adalah mereka yang berhasil membangun komunikasi dan memupuk rasa saling percaya.


"Terima kasih Nika, ku harap hubunganku dengan Bulan akan terus berlanjut. Sebenarnya kami akan menikah dua bulan lalu, tetapi semua rencana yang kami susun harus berantakan karena virus Corona ini. Keluarga kami sepakat menunda pernikahan hingga waktu yang belum ditentukan." cerita Surya kepada Arunika itu.


"Kenapa harus dibatalkan? Kenapa kalian tidak membuat Intimate Wedding saja yang hanya dihadiri keluarga dekat?" tanya Arunika.


Surya menghela nafasnya yang terasa berat. "Mungkin lantaran terlalu banyak pikiran, konsep Intimate Wedding tidak terpikirkan olehku. Lagipula, pemerintah juga mengimbau warga supaya tidak berkerumun, hingga membuat acara yang memicu kerumunan warga, jadi hari bahagia itu harus tertunda."


Mengingat hari bahagianya yang tertunda, Surya langsung ingat pada wajah Bulan yang berubah sendu. Dia ingat bagaimana terpukulnya Bulan dengan rencana pernikahan di depan mata yang harus gagal.


Arunika pun tersenyum kepada Surya. "Aku yakin, Bulan pasti sangat terpukul. Bagi para gadis, tidak ada yang lebih menggembirakan selain menyongsong hari bahagianya bersama orang yang dia kasihi ... aku rasa, kamu harus bersyukur karena sekalipun pernikahan kalian berdua dibatalkan, tetapi Bulan masih setia bersamamu. Aku harap kalian berdua bisa melewati semua ini bersama-sama." ucap Arunika dengan tulus.


"Terima kasih, Nika ... ku harap kamu juga akan segera menemukan pengganti Bintang. Oh, iya ... kita sudah mengobrol panjang lebar, di manakah kamu kerja?" tanya Surya kepada Arunika.


"Aku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kantor Pemerintah Daerah, Surya." jawab Arunika.


Arunika pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... di depan Taman Macan."


"Hei, tempatku bekerja juga berada di depan Taman Macan. KPP Kota Makassar, kau tahu bukan?" sahut Surya.


"Wah, apakah ini kebetulan. Tempat kita bekerja pun begitu dekat satu sama lain." ucap Arunika.


"Baiklah Nika, aku duluan ya. Semoga bisa bertemu lagi di lain kesempatan."


Surya pun memilih untuk undur diri terlebih dahulu dan ia segera kembali ke kost nya.

__ADS_1


Begitu telah sampai di kost, Surya kembali melihat handphone dan mengecek pesan yang sebelumnya telah ia kirimkan kepada Bulan.


Kenapa pesanku belum kamu baca Bulan?


Apa yang sedang kamu lakukan di sana?


Merasa pesannya tak terbalas, Surya kembali Mengirimkan pesan bagi Bulan.


[To: Bulan]


[Aku sudah selesai makan, Bulan.]


[Sekarang aku sudah kembali kost.]


[Kamu baru ngapain? Kenapa sejak tadi, pesanku tidak kamu balas?]


Deretan pesan itu pun segera terkirim untuk Bulan. Mata Surya masih menatap lekat layar handphone nya yang terasa sepi. Sejak pagi tidak ada satu pesan pun yang masuk ke handphone nya.


...🌸🌸🌸...


Sementara itu di Jogjakarta, Bulan masih mengobrol dengan kedua orang tuanya di teras. Pembicaraan mengenai Corona dan keadaan kios batik masih menjadi perhatian bagi Bulan dan keluarganya.


Bulan berpikir bahwa mereka harus bangkit, mencoba usaha baru bila memungkinkan. Otaknya berputar dan memikirkan usaha apa yang bisa ia kelola bersama keluarga untuk tetap bisa bertahan di tengah keterpurukan ekonomi saat itu.


Seolah otak Bulan teringat pada perkataan Bintang beberapa hari yang lalu. "Bagaimana kalau kita berjualan kue, Bu?" Bulan berkata kepada Ibunya.

__ADS_1


"Kue? Kue apa Nduk?" tanya Bu Sundari dengan cukup heran dengan ide yang diucapkan oleh Bulan.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Kue Bolu ... ibu kan jago membuat kue, bagaimana kalau kita berjualan itu? Kita mulai membuat sedikit dengan sistem Open Order dan menawarkannya kepada orang-orang yang kita terlebih dahulu. Jika ada yang memesan, barulah kita membuat kue berdasarkan pesanan yang ada saja. Bagaimana Bu?"


__ADS_2