
Segala sesuatu yang ada di kolong langit ada masanya, pun demikian dengan Bulan. Jujur saja, dia tertegun dengan pengakuan Bintang saat ini. Tangan Bintang yang terulur dan menggenggam tangannya justru membuat tangannya kian terasa dingin. Gadis itu nampak gugup harus menyingkapi semua peristiwa ini seperti apa.
Perlahan Bulan nampak, menatap wajah Bintang, mencoba menyelami kebenaran yang mungkin saja dapat dia dapatkan dari wajah pria itu. Sorot mata yang begitu serius, raut wajah yang menunjukkan sebuah kesungguhan, dan perkataannya yang tidak pernah main-main, seolah memberi jawaban bagi Bulan bahwa pria yang kini tengah menggenggam tangannya itu nampak begitu serius dengan ucapannya.
Sedikit mengangkat wajahnya, hingga bola matanya kini beradu dengan kedua bola mata Bintang, "setidaknya semuanya membutuhkan waktu, Bin ... memang benar, hubunganku dengan Surya baru saja berakhir. Kami juga sudah jeda dua bulan lamanya, tetapi menghapus semua yang sudah terjadi selama 6 tahun itu tidak mudah. Aku tidak ingin menjalin hubungan yang baru, sementara hatiku masih belum baik-baik saja. Oleh karena itu, berikan aku waktu." Bulan berusaha mengungkapkan perasaannya, bahwa dia membutuhkan waktu.
Tidak dipungkiri menghapus semua kenangan manis dan pahit bersama Surya yang sudah berjalan enam tahun itu sangat tidak mudah. Bulan pun tidak ingin menjalin hubungan baru, saat hatinya belum sepenuhnya beres. Dia tidak ingin menjadikan Bintang sebagai pelarian semata, yang mengisi kekosongan hatinya saat dia sedang sendiri.
Bintang pun semakin mempererat genggamannya, pria itu kemudian memberikan anggukan kecil, "baiklah ... aku akan menunggumu. Tepat bulan depan di tanggal ini, aku akan mengungkapkan lagi perasaanku kepadamu, kuharap di tanggal itu di bulan depan, semoga saja kamu bisa memberikan jawaban yang berbeda. Jika, bulan depan kamu belum menjawab, aku tidak akan gentar, aku akan mencobanya lagi di bulan-bulan selanjutnya," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Jangan seperti itu, Bin ... aku pun tidak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan. Akan tetapi, saat aku sudah yakin dengan perasaanku sendiri, aku pasti akan memberikan jawaban. Maaf Bin, itu semua karena aku ingin membereskan dulu hati dan pikiranku, aku juga tidak ingin menjadikanmu sebagai pelarian semata. Pelarian yang hanya menjadi sekadar persinggahan sementara. Aku sudah pernah gagal, Bin ... dan, aku tidak ingin main-main lagi." Penjelasan Bulan kepada Bintang, setidaknya dia ingin menyampaikan bahwa dirinya memang tidak ingin main-main. Cukuplah satu kali kegagalan hubungannya bersama Surya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu cemas, tenang saja ... sudah pasti, aku akan menunggumu. Kapanpun itu. Tidak perlu terburu-buru." Lagi Bintang pun menegaskan bahwa dia akan tetap menunggu, lagipula sudah cukup lama Bintang menunggu Bulan, menyimpan perasaannya seorang diri, kini dia pun tidak mempermasalahkan banyaknya waktu yang Bulan butuhkan.
Dirinya cukup menunggu dan berdoa, jika cintanya memang tulus, maka Sang Pemilik Alam Semesta yang akan membuka sendiri jalan baginya. Sungguh, itulah yang Bintang yakini. Pria itu selalu percaya dengan ketulusan cintanya, tidak peduli harus berapa lama dia menunggu, jika Tuhan menghendaki maka itulah yang terjadi.
Mendengar ucapan Bintang pun, Bulan lantas tersenyum, "terima kasih banyak ... semoga saja, aku bisa benar-benar membereskan hatiku sendiri."
Setidaknya kini Bulan tidak lagi menolak Bintang dengan terang-terangan, bahkan gadis itu kini justru bisa tersenyum. Tentunya satu senyuman yang sangat berarti untuk Bintang. Pria itu kemudian pun membalas senyuman itu, "sama-sama, tetapi kenapa tangannya justru menjadi begitu dingin? Apa mungkin kamu grogi?" Tanya sembari mengedipkan satu matanya kepada Bulan.
"Jangan dilepas, biar seperti ini. Seharusnya aku yang grogi, karena aku mengungkapkan perasaanku kepada wanita yang kucintai sejak lama. Akan tetapi, kenapa justru tanganmu yang sedingin ini? Hmm." Bintang masih bertanya, seharusnya memang dirinya yang grogi saat ini. Grogi karena dia sedang mengungkapkan perasaannya kepada Bulan, grogi bilamana Bulan akan menolaknya lagi.
"Siapa yang grogi?" Tanya Bulan, dia membohongi dirinya sendiri. Jujur saja, Bulan sangat grogi, tangannya yang dingin cukup menjadi bukti bagaimana Bintang membuatnya seolah tidak bisa bernapas lega, ada rasa malu dan takut, bahagia yang tumbuh menjadi satu. Akan tetapi, gadis itu mengelak, dia hanya tidak ingin Bintang mengetahui bahwa saat ini saja jantungnya telah bergedup melebihi ambang batasnya.
__ADS_1
Bagaimanapun, Bulan ingin mencari tahu terlebih dahulu bagaimana perasaannya kepada Bintang. Saat dia sudah bisa mendapatkan jawabannya, maka Bulan tidak akan ragu lagi.
"Keliatannya, kamu beneran gugup. Atau jangan-jangan kamu mulai ada rasa denganku ya Bulan?" Tanya Bintang yang justru kali ini nampak begitu percaya diri.
Sementara Bulan hanya menunduk, wajahnya memerah, dia benar-benar malu sekarang. Bagaimana bisa pria yang sebelumnya kalem dan tenang, kini justru nampak begitu percaya.
"Apaan sih Bin," elaknya karena bagi Bulan saat ini, dia benar-benar membutuhkan waktu.
"Ya sudah, gak apa-apa. Asal kamu tahu aja, aku ini pria yang sabar kok. Sekarang selesaikan semua, bereskan semua, karena mulai sekarang aku tidak akan ragu lagi untuk mendekatimu," ucap pria itu dengan sangat serius.
Menutup pengakuannya bahwa dia akan mulai mengejar Bulan dengan serius, Bintang lantas mengangkat tangan Bulan sejajar dengan bibirnya, kemudian memberikan kecupan di punggung tangannya, "Bereskan semua, tetap berada di tempatmu, biar aku yang akan selalu mengejarmu. Sama seperti Bulan yang berdiri pada tempatnya di langit malam, sang Bintang yang akan mendekatinya. Begitu juga denganmu. Aku sayang kamu, Bulan."
__ADS_1