Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Panggilan Seluler Merindu


__ADS_3

Kondisi Covid di Makassar hampir sama dengan suasana di Jogjakarta. Di Makassar sana, Surya seolah menghitung setiap hari yang berganti. Sebulan yang sudah dia jalani tanpa Bulan, terasa begitu lama.


Usai sepulang kerja, Surya memutuskan berjalan-jalan di Pantai Losari. Pantai yang menjadi ikon pariwisata kota Makassar ini merupakan salah satu spot untuk melihat matahari terbenam dan memancing ikan. Apabila pantai lain terkenal dengan pemandangannya yang alami, di pantai Losari ini justru terdapat banyaknya beton yang dibangun untuk menahan Abrasi laut.


Pantai Losari yang saat itu terasa sepi, membuat Surya dengan leluasa berjalan-jalan tanpa takut berkerumun dengan banyak orang. Kendati demikian, dia masih menggunakan masker untuk mengurangi paparan virus Corona yang cukup tinggi di Kota Makassar.


Pria itu duduk-duduk sembari menunggu senja, sesekali ia mengecek handphone dan melihat chat story Bulan. Akan tetapi, seharian penuh Bulan sama sekali tidak membuat story di aplikasi pesannya. Padahal Surya cukup senang setiap melihat apa yang diposting Bulan di aplikasi pesannya. Dari pembaharuan story itu, minimal ia mengetahui apa yang Bulan lakukan dalam sehari. Bagi mereka yang melakukan hubungan jarak jauh, melihat pembaharuan status dari pasangan mereka seperti mendapat angin segar.


Surya duduk termenung dan pandangan mata kosong. Berada di Pantai Losari, justru membuatnya teringat pada kenangan di Pantai Klayar, saat ia menyatakan perasaannya kepada Bulan, saat mereka duduk di kelas XI SMA waktu itu.


Di salah satu pantai yang tersohor di Pacitan, Jawa Timur itulah Surya mengungkapkan perasaan cintanya kepada Bulan. Sejak menjadi pacar Bulan, Surya selalu berkomitmen menjaga hatinya dan juga menjaga Bulan.


Larut dalam pikirannya sendiri, Surya kemudian mencari kontak Bulan dan menelponnya.


Bulan


Calling


Surya menunggu detik demi detik ketika panggilan seluler itu terhubung. Jantungnya seolah berpacu menunggu suara lembut yang selalu ia rindukan siang dan malam.

__ADS_1


"Halo, Surya...." sapa Bulan ketika panggilan seluler itu telah terhubung.


Surya pun langsung melempar senyumnya. "Ya, halo Bulan ... kamu baru ngapain?" tanya Surya dengan tersenyum seolah ia tengah berbicara berhadap-hadapan dengan kekasihan hatinya, Bulan.


"Aku sedang mempersiapkan untuk mengajar besok, mengajar sekolah daring justru lebih berat. Persiapan lebih panjang, dan aku tidak tahu pencapaian standar kompetisi para siswa yang ku ajar." ucap Bulan di seberang sana sembari mengoperasikan laptopnya.


Surya nampak mendengarkan cerita Bulan tentang kegiatan mengajarnya secara online sekarang ini. "Semangat ya Bu Guru, kamu pasti bisa." ucap Surya yang memberikan semangat untuk Bulan di seberang sana.


Di sana pun, Bulan turut tersenyum. "Euhm, makasih Surya ... kamu di sana lagi ngapain?" tanya Bulan.


"Aku baru mampir di Pantai Losari, duduk-duduk menunggu senja di sini. Akan tetapi, aku justru teringat kota Jogjakarta dan tentunya teringat padamu, sehingga aku menghubungimu." ucap Surya masih dengan tersenyum.


"Mengapa kamu tiba-tiba mengingatku, Surya?" tanya Bulan sembari mengernyitkan keningnya.


Bulan sangat tahu, pertanyaannya sangat retoris. Akan tetapi, sebagai seorang wanita, dia sangat senang jika Surya terbuka tentang perasaannya kepadanya.


"Apa salah jika aku mengingat pacarku sendiri? Oh, bukan sekadar pacar, tetapi kamu adalah tunanganku. Tanpa kamu ketahui, aku selalu mengingatmu, Bulan. Mau makan teringat padamu. Mau tidur teringat padamu. Mau apa pun teringat padamu, Bulan." jawab Surya sembari terkekeh geli.


Bulan menggelengkan kepalanya sembari tertawa. "Kamu mengatakan isi hatimu, atau mengingat sebuah lirik lagu Dangdut? Hmm."

__ADS_1


Mendengar jawaban Bulan, sontak Surya langsung tertawa. "Yah, ketahuan yahh ... aku kira kamu tidak mengetahuinya, ternyata aku salah." celetuk Surya sembari memposisikan maskernya dengan benar.


"Tentu aku tahu, karena Ibuku selalu melihat acara Dangdutan di malam hari di salah satu televisi swasta." sahut Bulan sembari tertawa. "Kenapa tidak langsung kembali ke kost, Surya? Di Pantai Losari apa tidak ramai? Jangan berkerumun, jaga kesehatan selalu." ucap Bulan yang mengingatkan Surya untuk menghindari kerumunan.


Surya tersenyum, dia begitu bahagia ketika Bulan mengingatkan sesuatu kepadanya, itu tandanya Bulan masih perhatian kepadanya.


"Di sini sepi Bulan. Sehingga aku mampir sejenak ke sini. Senja di sini sangat indah Bulan, kapan-kapan aku akan mengajakmu ke Pantai Losari, kita menikmati senja berdua." ucap pria itu membayangkan akan sangat mengasyikkan bisa mengajak Bulan hingga ke Makassar dan melihat matahari terbenam di Pantai Losari.


Di sana Bulan hanya tersenyum. "Lebih indah melihat senja di Candi Ijo, Surya. Suatu saat aku akan ke Candi Ijo dan melihat senja di sana." ucap Bulan.


Berbicara mengenai spot melihat matahari terbenam di Kota Jogjakarta memang Candi Ijo menjadi lokasi yang tepat. Candi yang berdiri di Bukit Hijau atau Gumuk Ijo dengan ketinggian 410 meter di atas permukaan air laut. Matahari terbenam dengan warna semburat kemerah-merahannya terlihat begitu indah dari Bukit Hijau tempat berdirinya Candi Ijo ini. Suatu saat, Bulan ingin melihat keindahan sunset di lokasi ini tentunya bersama dengan Surya.


Mendengar ucapan Bulan, Surya justru berpikir selama berpacaran sekian tahun lamanya ia memang jarang membawa Bulan jalan-jalan. Bahkan Surya baru mengetahui bahwa Bulan ingin melihat matahari terbenam di Candi Ijo. Surya pun menghela nafasnya kasar. "Nanti jika aku pulang ke Jogjakarta, aku akan mengajakmu melihat matahari terbenam di Candi Ijo. Apa pun yang kamu inginkan, akan aku lakukan. Maaf, harus jauh darimu seperti ini." ucap Surya dengan nada cukup menyesal.


Bulan menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa Surya. Aku tahu keadaannya. Jangan menyesali apa pun. Sekarang yang penting kita menjalani hubungan jarak jauh ini dahulu." ucap Bulan kepada Surya.


"Iya. Akan tetapi, aku justru cukup menyesal. Sekadar membawamu melihat matahari terbenam di Candi Ijo pun aku tidak bisa melakukannya. Ku harap, aku bisa menjadi cowok pertama yang mewujudkan keinginanmu itu." jawab Surya sembari tersenyum getir.


Bulan di sana justru tertawa. "Memangnya aku akan ke sana dengan siapa, Surya. Tidak ada cowok yang akan mengajakku melihat matahari terbenam di Candi Ijo. Jika ada, pastilah keajaiban dan aku begitu bahagia karena salah satu keinginanku terwujud. Dari lahir aku tinggal di Jogjakarta, tetapi melihat sunset di Candi Ijo saja belum pernah aku melihatnya." jawab Bulan.

__ADS_1


"Hidup memang lucu, Bulan. Aku pun tidak menyangka kini aku berada jauh darimu, aku bisa sampai di Makassar. Hmm, baiklah Bulan, aku akan segera kembali ke kost. Nanti aku akan menghubungimu lagi. I Miss U My Moon...." ucap Surya yang kemudian mengakhiri panggilan selulernya.


__ADS_2