
Usai pihak orang tua Bintang datang dan memberitahukan niat baiknya untuk bisa meminang Bulan, pasangan sejoli itu kemudian memilih duduk di teras depan rumahnya. Membiarkan para orang tua yang akan mengatur acara pernikahan mereka termasuk kapan hari dan tanggal yang akan ditentukan. Lantaran masih dalam suasana pandemi, maka pernikahan pun akan dilaksanakan berdasarkan protokol covid tentunya.
Kini di teras rumah Bulan, keduanya memilih duduk bersama. Di temani remang-remang cahaya dari lampu merkuri yang ada di depan rumah Bulan, dan juga semilir angin malam yang seakan menari-nari mengelilingi mereka.
"Akhirnya, cincin ini melingkar di jari manis kita berdua. Satu langkah menuju sah." ucap Bintang sembari tersenyum melihat cincin dari emas putih yang kini melingkar di jari manisnya itu.
Pun sama halnya dengan Bulan, gadis itu juga tersenyum mengamati cincin yang kini melingkar di jari manisnya itu. "Aku pun juga seneng. Makasih ya, tetapi kenapa kamu gercep banget sih Bin?" tanyanya kepada Bintang.
Mendengar pertanyaan dari Bulan, Bintang pun mengangguk kecil, "Iya ... karena lebih cepat, segera sah, dan halal lebih baik kan?"
__ADS_1
Tak bisa menjawab, Bulan hanya mengangguk dan tersenyum. Hatinya terasa berbunga-bunga karena pria yang kini menjadi kekasihnya itu. Ada kebahagiaan nyata, bukan sekadar kebahagiaan semu.
"Pernikahan impian kamu seperti apa Bulan?" tanya Bintang pada akhirnya.
Ya, tidak dipungkiri bukan bahwa masing-masing orang memiliki pernikahan impian itu, sehingga Bintang pun berjalan pernikahan seperti apa yang diinginkan Bulan. Sapa tahu, dia bisa mewujudkan pernikahan yang selama ini diidam-idamkan oleh gadis yang sangat dicintainya itu.
"Apa ya? Aku mungkin satu dari sekian banyak gadis yang suka dengan tradisi pernikahan adat Jawa. Aku pengen waktu menikah mengenakan kebaya beludru berwarna hitam dan detail keemasan itu. Klasik banget sebenarnya, tetapi aku suka. Serasa jadi putri keraton." ceritanya kepada Bintang.
Kemudian Bintang mengulurkan satu tangannya untuk menggenggam tangan Bulan, ibu jarinya tampak mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
"Hanya itu? Kamu tidak menginginkan pesta pernikahan lainnya?" tanyanya lagi.
Bulan pun menggelengkan kepalanya, "Tidak ... sekarang yang penting sih, sah secara hukum dan agama. Terlebih situasinya sedang tidak baik seperti ini, jadi sah itu jauh lebih penting.Tidak usah pesta, tabungan buat pesta bisa dialihkan untuk membeli rumah." ucap gadis itu sembari tertawa.
"Berarti kalau semisal hanya akad saja, kamu tidak masalah?" tanyanya lagi kepada Bulan.
"Enggak apa-apa, dalam pernikahan kan yang jauh penting adalah akadnya itu." sahut Bulan dengan penuh keyakinan.
"Baiklah ... setidaknya kamu tidak keberatan. Aku akan mewujudkan impian kamu itu. Setelah semua itu, kuharap hubungan kita berdua semakin nyata ya." ucapnya pria itu sembari terus tersenyum menatap wajah ayu kekasihnya itu.
__ADS_1
"Iya ...semoga tidak ada perpisahan di tengah jalan.Kamu tahu kan, dulu aku pernah menjalani sebuah hubungan sampai di masa ini. Jadi, jika terjadi hal buruk lagi rasanya aku tidak akan bisa, Bin." pengakuan yang jujur keluar dari mulut Bulan.
Tidak dipungkiri bahwa dirinya memiliki kegagalan dalam sebuah hubungan, maka jika kali ini pun akan kembali gagal, rasanya dia tidak akan bisa menerima lagi semuanya.