Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Harus Dilawan!


__ADS_3

Usai menelpon Ibunya, Bulan melosot duduk di lantai. Dia menangis dengan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


Bagi siapapun yang dinyatakan terkena penyakit ini rasanya akan ketakutan, demikian juga dengan Bulan. Bagaimana tidak takut? Setiap hari berita di berbagai televisi nasional didominasi dengan bertambahnya kasus Corona, deru ambulance yang nyaris menghiasi sudut kota dengan intensitas yang lebih sering, banyaknya korban yang berjatuhan satu demi satu, seolah menjadi momok tersendiri bagi manusia termasuk Bulan.


Juga belum ada obat yang pasti untuk pasien yang terpapar virus ini, ditambah begitu banyaknya korban berjatuhan yang membuat Bulan semakin tertekan secara mental.


"Jangan tinggalkan hamba di saat seperti ini ya Tuhan. Hamba membutuhkanmu. Sembuhkanlah hamba, maka hamba akan sembuh. Hanya kepadamu sajalah, hamba memohon."


Dalam kedalaman hatinya, Bulan berdoa memohon kepada Tuhan.


Saat dirinya benar-benar kalut dan rapuh, sandarannya sekarang ini adalah Tuhan Pemilik Alam Semesta dan Pemilik Hidupnya. Bersinggungan melakukan kontak fisik dengan sesama manusia saja tidak bisa, hanya Tuhan sajalah tempatnya bersandar. Memasrahkan seluruh hidupnya kepada Sang Khalik.


Ketika Bulan masih larut dalam kesedihannya, handphonenya kembali berbunyi. Perlahan Bulan membuka tangan yang sedari tadi dia gunakan untuk menutupi wajahnya. Matanya bergerak dan memandang pada layar handphonenya. Bulan sedikit mengernyitkan keningnya saat mendapati Bintang sedang menelponnya.


Dengan jari yang bergetar, Bulan menggeser tombol hijau pada layar handphonenya.


"Ya ... halo Bintang. Ada apa?" sahut Bulan begitu panggilan itu terhubung. Gadis itu berbicara sembari menahan isakannya.


Dalam sambungan telepon itu, Bintang mendengar ada isakan saat Bulan berbicara. Dengan hati-hati, Bintang pun berusaha mengeluarkan suara. "Bulan ... kamu tidak apa-apa kan? Aku mendengar dari Tika barusan." ucap Bintang yang mendengar bahwa Bulan positif covid dari Kartika.


Bulan pun menaruh satu tangannya di dada sebelum berbicara, bermaksud untuk menenangkan dirinya. "Iya Bintang ... aku positif."


Air mata Bulan kembali berlinang saat dia mengakui bahwa dirinya tengah positif covid. Bahkan saat ini, satu tangannya dia taruh untuk menutup mulutnya supaya Bintang tidak mendengar tangisannya.

__ADS_1


Kendati demikian nyatanya Bintang memiliki pendengaran yang cukup tajam, sekalipun dari telepon, Bintang tahu bahwa Bulan tengah menangis saat ini.


"Kamu boleh menangis Bulan ... tidak apa-apa, menangislah. Aku ada buat kamu." ucap Bintang dengan tulus.


Mendengar perkataan Bintang, isakan, tangisan, dan rintihan keluar begitu saja dari mulut Bulan. "Aa ... aku takut, Bin." itulah kata-kata yang Bulan keluarkan dalam isakannya.


Sementara Bulan hanya diam, dia memberi waktu bagi Bulan untuk menangis terlebih dahulu. Sudah pasti Bulan sangat takut dan sedih saat ini, Bintang hanya bisa memberi telinganya. Bagi Bintang, air mata tak selamanya pertanda duka. Mengeluarkan air mata justru memberikan kelegaan. Bintang hanya ingin Bulan bisa menangis, mengeluarkan air matanya tanpa harus menahannya.


"Bulan ... dengarkan aku. Jangan takut, kamu lawan ya. Begitu kamu ketakutan, sinyal-sinyal ketakutan itu akan dikirim ke otak kamu. Hingga membuat kamu benar-benar takut dan drop. Jangan sampai imun kamu turun ya. Menangislah terlebih dahulu, Bulan. Setelah itu, jangan bersedih lagi. Harus bahagia, harus dilawan ya." ucap Bintang yang kini sedang menyemangati Bulan.


Bulan nampak menganggukkan kepalanya. "Namun, aku takut, Bin...." akunya dengan jujur.


"Aku tahu kamu takut, tetapi kita punya Tuhan bukan? Semakin dekat dengan Tuhan. Dia dekat dengan orang-orang yang remuk hatinya. Dia berbelas kasihan kepada hamba-Nya. Kamu punya keluargamu juga. Saat kamu sedih, orang tuamu akan jauh lebih sedih, Bulan." lagi Bintang mengatakan berbagai kalimat motivasi untuk Bulan.


"Ya Bin ... aku akan melawan semua ini. Terima kasih sudah memotivasiku." ucap Bulan dengan suara yang terdengar jauh lebih tenang.


Bintang lega saat mendengar nada bicara Bulan. "Apa yang kamu rasakan Bulan?"


"Aku hanya demam dan batuk kering saja, Bin ... tenggorokanku terasa kering." ucap Bulan.


Bintang nampak menganggukkan kepalanya mendengar keluhan yang dirasakan Bulan. "Lalu, selanjutnya kamu akan kemana? Isolasi mandiri di rumah atau bagaimana?"


Bulan nampak menggelengkan kepalanya. "Aku masih harus menunggu dari Puskesmas terdekat, Bin ... aku sudah melapor ke Satgas Covid juga di kluster perumahanku. Aku sedikit lega karena sudah hampir sepekan orang tuaku berada di Gunung Kidul, di rumah Simbah. Aku berharap Bapak dan Ibu baik dan sehat. Cukup aku saja yang terpapar virus ini." ucap Bulan.

__ADS_1


Mendengar cerita Bulan, Bintang justru merasa kasihan kepada temannya itu. Di saat yang sulit seperti ini, Bulan harus melaluinya sendirian di rumah. Bintang pun berinisiatif mengunjungi rumah Bulan, walaupun dia tidak akan bertemu muka dengan Bulan.


Perlahan, dia memasuki mobilnya dan menaruh earphone di telinganya sehingga dia tetap bisa berkomunikasi dengan Bulan. "Apa yang kamu butuhkan saat ini Bulan?" tanya Bintang kepada temannya itu.


Bulan pun menggelengkan kepalanya. "Di rumah sudah ada obat-obatan untuk demam dan batuk, vitamin juga ada kok." sahut Bulan.


"Alat saturasi oksigen kamu sudah punya?" tanya Bintang.


"Belum ... aku belum punya." sahut Bulan yang memang belum memiliki alat saturasi oksigen itu.


Sembari menyetir mobilnya, Bintang mampir sejenak ke apotek yang dia lewati. Dia membelikan alat pengukur saturasi oksigen, inhaler, dan beberapa vitamin untuk Bulan. Bintang berniat akan memberikannya untuk Bulan.


Setelah membeli semua yang dia butuhkan, Bintang kembali melajukan mobilnya dan menuju ke rumah Bulan. Beberapa meter sebelum rumah Bulan, rupanya Satgas Covid sudah berjaga di depan gerbang rumah Bulan.


Bintang memarkirkan mobilnya, lalu dia berjalan tepat di depan jalan yang terlihat dari kamar Bulan.


"Kamu di dalam kamar Bulan?" tanya Bintang dengan singkat.


"Iya ... aku mengurung diriku di kamar." jawab Bulan.


"Berdirilah Bulan, lihatlah ke luar jendela." perintahnya yang meminta Bulan untuk melihat ke luar jendela kamarnya.


Perlahan Bulan pun bangkit berdiri, dia berjalan hingga kini dia berada di depan jendela kamarnya. Tangannya menarik tirai berwarna pink yang menggantung di atas jendela itu, lalu Bulan membuka jendela itu perlahan. Saat kedua matanya melihat ke jalan perumahan yang ada di depan rumahnya, dia menangkap sosok Bintang yang tengah berdiri mengenakan jaket bomber berwarna hijau tua dengan earphone di telinganya. Pria itu bahkan melambaikan tangannya saat melihat Bulan membuka tirai jendela kamarnya.

__ADS_1


"Lihat, kau tidak sendiri Bulan ... Ada aku di sini."


__ADS_2