
Seolah mendapatkan suntikan kekuatan baru, Bintang mengutarakan keinginannya yang selama ini terpendam kepada Bulan.
"Menikahlah denganku, Bulan ... pria ini tidak menjanjikan apa-apa kepadamu, hanya pria itu dengan pasti akan membahagiakanmu." ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Bukan bermaksud membandingkan dirinya dengan Surya, tetapi Bintang lebih realistis, dia ingin menyampaikan perasaannya secara realistis kepada Bulan. Bukan menjanjikan berbagai hal yang di kemudian hari tidak dia tepati, tetapi dia ingin memberi kepastian untuk membahagiakannya.
Semua orang ingin bahagia, termasuk dengan Bulan. Sebagai wanita dan andai saja dia tidak terikat dengan Surya, sudah pasti dia akan sangat bahagia saat Bintang mengutarakan untuk menikahinya. Juga, kepastian untuk membahagiakan yang terdengar begitu tulus dan sungguh-sungguh, juga adalah tawaran yang sangat menggiurkan. Sebab, tidak dipungkiri tujuan orang menikah adalah untuk meraih kebahagiaan. Ya, kebahagiaan rumah tangga bersama pasangan kita.
Sayangnya, Bulan saat ini dalam kondisi terikat dalam sebuah hubungan yang lain. Sebuah hubungan yang tidak bisa dikatakan main-main, sebab Bulan menjalani hubungan ini selama enam tahun lamanya. Ada cinta yang datang, tetapi di saat yang tidak tepat.
Dengan cepat Bulan menggelengkan kepalanya. "Sayangnya, aku tidak bisa Bin ... dengan apa yang terjadi hari ini saja, rasanya aku sudah sangat berdosa kepada Surya." ucap Bulan dengan sungguh-sungguh.
Dicium oleh pria lain hingga dua kali, memang membuat Bulan merasa begitu berdosa kepada Surya. Gadis itu bahkan masih berlinangan air mata. Dia berada dalam posisi yang sulit dan serba salah tentunya.
"Jangan terburu-buru memberiku jawaban, Bulan ... ambil waktu sebanyak yang kamu mau. Sebab, aku di sini akan menunggumu. Aku tidak akan ke mana-mana. Ingat, aku tidak memaksa, tetapi pilihlah seseorang yang secara pasti memberimu kepastian. Berapa lama lagi kamu akan menunggu Bulan? Tanyakan pada hatimu terlebih dahulu dan setelah kamu yakin, datanglah padaku, ceritakan keputusanmu. Percayalah, apa pun keputusanmu aku akan menerimanya." ucap Bintang dengan sungguh-sungguh.
"Andai aku tidak teringat dengan satu hubungan dengan pria lain, sebagai gadis aku pasti bahagia ketika ada pria yang datang dan memberikan kepastian. Sayangnya, aku telah terikat dengan Surya, Bin."
__ADS_1
Bulan lantas mengangkat tangannya, menunjukkan cincin emas yang masih melingkar di jari manisnya. "Sudah ada pria yang menjadikanku sebagai tunangannya. Kami saling mencintai, Bin ... jadi, maaf ... aku sungguh-sungguh tidak bisa." ucap Bulan yang sudah pasti menolak Bintang, sebab dia memang sudah terikat dengan Surya.
Bintang pun tersenyum. "Baiklah Bulan ... aku tidak akan memaksa. Seberapa keras aku berusaha, faktanya memang aku tidak akan berhasil. Tenang saja Bulan, saat ini biarkan hati ini terus mencintaimu. Kepeluk sendiri perasaan ini dengan kedua tanganku. Saat kamu sudah resmi menjadi pasangan Surya, hati ini juga akan siap melepaskanmu. Asal kamu bahagia, Bulan." ucap Bintang dengan sungguh-sungguh.
Satu perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh Bulan saat ini, Bintang pasti sangat mencintainya, terdengar dari setiap kata yang pria itu ucapkan. Benarkah cinta yang dimiliki oleh seorang Bintang memang sebesar itu hingga, pria itu pun siap melepaskan Bulan kelak saat Bulan bersanding dengan Surya.
"Percayai perkataanku ini ... ah, akhirnya aku cukup lega. Perasaan yang kusimpan sekian waktu lamanya, akhirnya bisa kuutarakan. Sekalipun, rasa ini tidak terbalas, tetapi aku lega." ucap Bintang sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Berbeda dengan Bulan yang justru kian canggung rasanya berlama-lama berduaan dengan Bintang, ditambah kejadian ciuman sebelumnya yang membuat Bulan merasa seolah tengah bermain api di belakang Surya.
Haruskah aku mengatakan bahwa Bintang menciumku?
Haruslah aku mengatakan kepada Surya bahwa Bintang mencintaiku?
Kenapa, semua ini terasa begitu sulit ya Tuhan ... tidak bisakah, Tuhan menghapus satu hari ini bahkan menghapus ingatanku untuk semua ini? Sungguh, aku merasa rapuh, Tuhan.
Gadis itu bergumam dalam hati dan berusaha menenangkan hatinya sendiri. Pikirannya begitu berputar di antara dua pria yang membuatnya sakit kepala, Surya dengan perasaan yang sudah berjalan enam tahun lamanya, dan Bintang dengan pengakuan dan ciumannya yang membuat Bulan begitu canggung saat ini.
__ADS_1
Bintang sekilas melirik pada Bulan yang nampak diam, tetapi pria itu tahu pasti bahwa Bulan tengah memikirkan banyak hal. "Jangan terlalu banyak berpikir, jika memang kamu keberatan, lupakan saja semua yang terjadi hari ini,, Lupakan bahwa aku pernah mengutarakan perasaanku kepadamu, juga lupakan dengan ciuman kita."
Mendengar Bintang mengatakan tentang ciuman, wajah ayu itu pun menunduk. Rasa malu, cemas, dan galau tercetak jelas di wajahnya saat ini.
"Aku bukan pria yang mengambil keuntungan, Bulan. Aku menciummu karena hatiku yang mendorongnya. Itu ungkapan rasa cintaku selama ini. Suatu hari nanti, jika mungkin saja kamu tidak berjodoh dengan Surya, larilah kepadaku. Masih ada pria lain yang berdiri, menunggumu dengan merentangkan kedua tangannya yang siap menerimamu kapan saja. Cintaku ini penuh kepastian, sekalipun tidak ada peluang, tidak tahu akhirnya, tetapi perasaanku sepasti dan sebesar itu kepadamu," ucap Bintang dengan sungguh-sungguh.
"Jangan mencintaiku sebesar itu karena justru menyakitimu karena aku tidak bisa menjanjikan apa pun." satu kalimat lolos begitu saja dari mulut Bulan.
Sayangnya kalimatnya nyatanya tidak berpengaruh banyak bagi Bintang. Pria itu sudah terlanjur mencintai Bulan untuk waktu yang sangat lama, pria itu sudah tenggelam dalam perasaannya dan menyadari bahwa memang kemungkinan besar perasaannya tidak akan terbalas. Sayangnya, pria itu juga menaruh keyakinan kepada Sang Pencipta bahwa jodoh pastilah bertemu. Jika Sang Khalik menghendaki bahwa dia dan gadis yang telah lama dicintainya akan bersatu, sudah pasti mereka berdua akan bersatu.
Bagaimana skenario yang dimiliki oleh Yang Kuasa, itulah yang terjadi.
"Sayangnya aku tidak merasa kesakitan, Bulan ... aku hanya bisa mencintaimu. Mungkin kamu akan berpikir aku gila, tetapi nyatanya memang beginilah faktanya. Beginilah hatiku yang hanya bisa mencintaimu. Hati yang tidak pernah bisa melupakanmu. Bersambut atau tidak itu adalah hasil akhirnya, tetapi dalam prosesnya biarkan aku tetap mencintaimu dengan caraku." lagi ucap Bintang begitu panjang dan lebar.
Bulan kembali bungkam, gadis itu membiarkan pikirannya seolah melayang-layang. Ada satu pria yang menjalin hubungan sekian lama dan kini pergi jauh hingga ke Makassar, pria yang beberapa waktu terlihat begitu posesif dan hanya memberikan janji, tanpa tahu kapan janji itu terpenuhi. Di sisi lain ada satu pria lainnya yang tiba-tiba mengutarakan perasaannya dan mengatakan bahwa cintanya penuh kepastian. Bulan hanya bisa menghela napasnya perlahan dan terus berpikir keras untuk semua yang telah terjadi dalam hidupnya.
Mungkinkah semesta tengah mempermainkannya? Atau memang Bulan dituntut untuk mengambil keputusan saat ini?
__ADS_1