Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Ada Aku di Sini


__ADS_3

"Lihat, kau tidak sendiri Bulan ... ada aku di sini."


Terlihat Bintang yang berdiri dan melambaikan tangannya ke arah Bulan. Walaupun berbatasan dengan kaca dan jarak keduanya, tetapi Bulan melihat Bintang tengah melambaikan tangan padanya. Secara refleks, Bulan pun melambaikan tangannya kepada Bintang.


"Kenapa kau bisa ada di sini Bintang?" tanya Bulan yang masih setia berdiri di depan jendela kaca kamarnya.


Bintang menatap Bulan dari jauh. Wajahnya menengadah, seolah dia tengah memandang rembulan yang bersinar terang di langit malam. "Jangan takut lagi, ada aku. Apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Yang pasti kamu tidak sendirian Bulan."


Di pekatnya malam pun, Bulan akan bersanding dengan Bintang.


Kata Bintang dalam hatinya dan tersenyum kepada Bulan. Pria itu masih menatap wajah Bulan dari jauh. Sementara wajah cantiknya yang tetap bersinar sekalipun Bintang memandangnya dari jauh.


Sementara Bulan tersenyum dan juga melambaikan tangannya kepada Bintang. Gadis itu masih berdiri di depan jendela kamarnya dan menatap Bintang yang berdiri di jalan kecil yang berada di depan rumahnya. Melihat Bintang yang datang, seolah hati Bulan pun terasa hangat. Saat dirinya terpuruk, masih ada orang yang perhatian kepadanya.


"Terima kasih Bin ... Aku merasa tidak sendirian." ucap Bulan dengan sungguh-sungguh.


Dari jauh Bintang pun nampak menganggukkan kepalanya. "Jangan merasa bahwa kamu sendirian, Bulan ... kapanpun kamu membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu." ucapnya dengan sepenuh hati.


Bulan sejenak tertegun mendengar ucapan Bintang. Dia mencerna dan mengulangi perkataan Bintang berkali-kali dalam pikirannya. "Kapanpun kamu membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu."


Apakah Bintang sedang merayu? Mengapa ucapan itu terdengar seperti rayuan, tetapi di saat yang sama ucapan itu terdengar begitu tulus.


Gadis ayu dengan matanya yang sembab lantaran terlalu banyak menangis itu tersenyum mendengar ucapan Bintang. "Sekali lagi terima kasih, Bin ... kenapa kamu bisa jauh-jauh datang kemari?" tanya Bulan.


Bintang yang masih melihat Bulan dari jauh seolah menatap wajah gadis itu lekat-lekat. "Aku mengkhawatirkanmu, Bulan. Begitu mendapat kabar dari Kartika, aku langsung ke sini. Aku tahu, pasti kamu sedih sekarang ini. Seperti kataku sebelumnya, harus semangat ya. Harus dilawan. Jangan biarkan penyakit itu mengambil alih pikiranmu, hingga membuat kamu down. Ingat, harus jaga imun. Pasti sembuh. Empat belas hari tidak akan lama Bulan."


Memang informasi dari Ikatan Dokter Indonesia, pasien bergejala ringan bisa melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Akan tetapi, bagi mereka yang divonis terpapar Covid, 14 hari akan terasa begitu lama.


"Iya, semoga sebelum 14 hari, aku sudah negatif ya Bin ... aku sungguh tak mengira akan terpapar Covid juga." ucap Bulan dengan wajahnya yang sendu.

__ADS_1


"Tidak lama Bulan ... bertahanlah selama 14 hari ke depan ya. Aku akan sering-sering menengokmu darisini. Jangan lupa olahraga, berjemur, makan bergizi, dan juga minum vitamin. Baiklah Bulan, aku pamit ya...." ucap Bintang dengan masih memandang Bulan dari jauh.


Dirasa Bulan juga telah menatapnya, Bintang pun sekali lagi melambaikan tangannya.


"Oh, iya ... aku belikan sesuatu buat kamu, Bulan. Aku taruh di depan pintu, nanti kamu ambil ya. Jangan sungkan untuk menghubungi aku." pesan Bintang begitu banyak yang membuat Bulan tersenyum dan juga menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih banyak ya Bin ... hati-hati di jalan. Jaga kesehatan juga." sahut Bulan.


Bintang pun menganggukkan kepalanya seolah-olah tengah berhadapan dengan Bulan saat ini. Sekali pria itu menatap Bulan yang masih berdiri dan terlihat dari jendela kaca di kamarnya.


"Aku pamit ya ... take care." ucapnya kemudian menutup panggilannya.


Bulan masih berdiri di depan kaca jendelanya dan menatap punggung Bintang, hingga pria itu berlalu pergi.


Setelah Bintang pergi, Bulan memilih turun ke lantai bawah. Dia berniat mengambil sesuatu yang Bintang belikan untuknya. Perlahan dia membuka pintu rumahnya dan mengambil tas plastik berwarna putih, kemudian Bulan masuk lagi ke dalam rumahnya.


[To: Bintang]


[Sudah aku ambil, Bin....]


[Terima kasih banyak ya.]


Pesan itu terkirim begitu cepat ke handphone Bintang. Teringat akan dirinya yang sedang Covid dan masih menunggu pemeriksaan dari Puskesmas terdekat, Bulan pun teringat pada Surya. Hanya Surya yang belum Bulan beri kabar.


Gadis itu kemudian berniat untuk memberitahukan keadaannya kepada Surya. Bagaimanapun, Surya juga masih tunangannya saat ini sehingga Bulan berniat untuk menghubungi Surya sekarang.


Bulan kembali mengambil handphonenya dan mencari kontak Surya di sana. Bulan berniat menelpon Surya sekarang, memberitahu via telepon jauh lebih efektif daripada sekadar mengirimkan pesan.


Surya

__ADS_1


Calling


Segera Bulan mendekatkan teleponnya ke telinga. Dia bersiap mengeluarkan suaranya saat telepon itu tersambung. Tidak menunggu lama, melalui panggilan telepon, suara Surya sudah menyapanya.


"Ya halo Bulan ...." terdengar suara Surya yang telah menyapanya. "Ada apa?" lagi tanya pria itu melalui sambungan teleponnya.


"Surya, aku mengganggu enggak? ada yang perlu aku sampaikan." sahut Bulan dengan perlahan.


Di Makassar sana, Surya nampa mengernyitkan keningnya, dia berpikir apa yang hendak disampaikan oleh Bulan kepadanya.


"Aku tidak sibuk, sekarang cuma rebahan aja di kost. Ada apa?" tanya Surya yang saat itu memang sedang rebahan di tempat tidurnya yang berukuran singel bed itu.


Bulan nampak menghela napasnya sejenak, dia mulai mengeluarkan suaranya.


"Euhm, gini Surya ... tolong jangan kaget. Beberapa hari yang lalu, Sekolah melakukan tes usap secara massal, dan hari ini hasilnya keluar. Terus... untuk hasilku sendiri, aku positif, Surya...." ucap Bulan.


Jika saat memberitahukan kepada orang tuanya dan kepada Bintang, Bulan menangis seolah tidak memiliki ketahanan, kali ini Bulan sama sekali tidak menangis. Ketakutan itu masih ada, tetapi Bulan lebih bisa menguasai emosinya saat ini.


Sementara di sana, begitu mendengar kabar dari Bulan. Surya yang semula rebahan, pria itu langsung duduk seketika. Surya begitu kaget mendengar kabar dari Bulan.


"Astaga ... serius Bulan?" tanyanya seolah tak percaya.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku positif Covid."


Penegasan yang disampaikan Bulan membuat Surya semakin yakin bahwa Bulan memang tidak bercanda. Surya pun panik, dia berada begitu jauh di Makassar. Bagaimana caranya dia bisa menjaga Bulan saat ini.


"Apa yang bisa ku lakukan buat kamu, Bulan?" tanya Surya dengan suaranya yang terdengar begitu panik.


Bulan tersenyum getir sembari merapikan rambutnya. "Cukup doakan aku, Surya ... itu yang aku butuhkan saat ini."

__ADS_1


__ADS_2