Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Jujur dengan Orang Tua


__ADS_3

"Kenapa kamu selalu baik padaku, Bin ... padahal aku sering kali justru tidak baik padamu." ucap Bulan yang kali ini mempertanyakan kenapa Bintang selalu bersikap baik padanya.


Bintang hanya tersenyum dan menatap Bulan. "Tanpa aku menjawabnya, pasti kamu sudah tahu jawabannya."


Jawabannya adalah pasti dan mutlak sifatnya, karena Bintang mencintai Bulan dengan tulus. Sekian tahun lamanya mencintai seorang diri, tanpa pernah berharap sang gadis akan membalas cintanya. Cara dia mencintai Bulan memang dengan selalu bersikap baik padanya dan juga menolong Bulan kapan pun gadis itu merasa butuh.


Lagipula memang ada banyak bahasa cinta di dunia, ada yang berupa senyuman, pelukan, ciuman, bahkan juga tangisan. Mereka menjadi cara manusia untuk mengekspresikan cintanya, dan kali ini Bintang mengekspresikan cinta melakukan ketulusan dan kebaikan hatinya.


"Aku antar pulang sekarang ya ... nanti sampai rumah, mau aku temenin untuk bicara sama Bapak dan Ibu? Melihat wajahmu dan bibirmu pasti Bapak dan Ibu curiga." ucap Bintang dengan realistis.


Tangisan yang membuat wajah Bulan menjadi sembab dan juga luka di sudut bibirnya sudah menjadi bukti bahwa gadis itu sedang tidak baik-baik saja.


Bulan memikirkan tawaran Bintang, jujur saja dia merasa takut jika harus menyampaikan semua kepada Bapak dan Ibunya. Lagipula, kejadian hari ini terbilang mendadak dan tidak pernah dia prediksi sebelumnya.


"Apakah aku harus jujur kepada Bapak dan Ibu, Bin?" tanya Bulan kali ini, rupanya dia meminta tanggapan dari Bintang.


Pria itu tampak menganggukkan kepalanya. "Iya ... lebih baik jujur. Jangan ditutup-tutupi. Semua orang tua akan lebih senang jika anaknya jujur. Bukankah demikian? Jadi, saranku lebih baik jujur saja. Jangan takut, beliau adalah orang tuamu sendiri. Jika terjadi apa-apa padamu, beliau yang akan khawatir."


Apa yang diucapkan Bintang memang benar, sebagai orang tua sudah pasti Pak Hartono dan Bu Sundari akan merasa khawatir jika terjadi sesuatu dengan Bulan.


"Jangan takut Bulan, beliau berdua adalah orang tuamu sendiri." lagi ucap Bintang yang mencoba meyakinkan Bulan.


"Baik ... aku akan mencoba berbicara kepada Bapak dan Ibu di rumah nanti. Sekarang, minta tolong antarkan aku pulang ya Bin." pintanya meminta tolong kepada Bintang.


Pria itu pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Sudah pasti. Tanpa kamu meminta tolong pun, aku akan mengantarkanmu pulang." jawabnya sembari mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Bulan.


Sore hari menjelang petang, jalanan di kota Jogjakarta cukup ramai lancar. Sehingga membutuh waktu hampir 20 menit dari area Malioboro menuju rumah Bulan. Begitu sampai di depan gerbang rumah itu, pria itu seolah menghentikan Bulan sejenak.

__ADS_1


"Mau aku temenin?" tawarnya yang masih mencemaskan Bulan.


Gadis itu pun menggelengkan kepalanya dan menatap Bintang. "Aku bisa ... aku akan berbicara langsung pada Bapak dan Ibu." ucapnya yang memastikan bahwa dia akan berbicara langsung kepada Bapak dan Ibu.


"Oke ... baiklah. Hati-hati ya. Jika perlu apa-apa jangan lupa hubungi aku." ucapnya sembari tersenyum kepada Bulan.


Begitu memasuki rumah, Bulan lantas menghampiri Bapak dan Ibunya yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Bapak dan Ibu, ada yang ingin Bulan sampaikan kepada Bapak dan Ibu." ucap gadis itu memulai pembicaraannya.


Jujur saja ini akan menjadi pertama kalinya bagi Bulan untuk menceritakan perihal masalahnya dengan Surya. Hatinya ragu, tetapi dia mengingat kembali ucapan Bintang, bila terjadi apa-apa dengannya justru Bapak dan Ibunya lah yang terlebih dahulu khawatir.


Melihat kehadiran Bulan dan wajahnya yang masih mengenakan masker nampak serius, Bapak Hartono dan Bu Sundari pun menganggukkan kepalanya.


"Mau bicara apa to Nduk? Bicara saja ... sama Bapak dan Ibu tidak perlu sungkan." sahut Pak Hartono yang sudah pasti mengizinkan Bulan untuk berbicara.


"Astaghfirullah ... apa yang terjadi?" tanya Bu Sundari yang seketika terkejut melihat wajah Bulan.


Menurut pengamatannya saat pergi bersama Bintang, anaknya masih baik-baik saja dan kini wajahnya sembab sudah pasti Bulan menangis, dan sudut bibirnya yang terluka. Sebagai orang tua, keduanya pun berpikiran yang tidak-tidak.


"Apa Nak Bintang yang melakukannya?" tanya Bu Sundari dengan lirih.


Sekalipun di dalam hatinya, Bu Sundari yakin bahwa Bintang tidak akan mungkin melakukan itu, tetapi pria yang menjemput Bulan ke rumah adalah Bintang, sudah pasti sebagai seorang Ibu akan bertanya kepada pria yang bersama putrinya terlebih dahulu.


Bulan menggelengkan kepalanya. "Bukan ... bukan Bintang, Bu." jawabnya yang memberi kepastian bahwa bukan Bintang pelakunya.


"Lantas siapa, Ndug?" lagi tanya Bu Sundari.

__ADS_1


Bulan mulai meneteskan air mata, dia menundukkan kepalanya. "Tadi saat Bulan dan Bintang sedang jalan-jalan di Malioboro, secara tiba-tiba Bulan melihat Surya. Kemudian dengan paksa dia membawa Bulan untuk berbicara di Benteng Vastenburg, kami sempat adu mulut di sana. Lalu, Surya mencium Bulan dengan paksa, Bu. Luka di sudut bibir ini adalah karena Surya."


Semuanya sudah Bulan sampaikan kepada kedua orang tuanya, dengan berlinangan air mata, gadis itu harus memutar kembali memori di otaknya terkait kejadian yang sangat mengguncangnya.


"Lalu kenapa Bintang tidak menolongmu?" tanya Pak Hartono yang mempertanyakan keberadaan Bintang.


"Surya dan Bintang sempat bersitegang Pak ... Surya mengira Bulan selingkuh dengan Bintang. Pria itu diselimuti emosi sehingga memperlakukan Bintang dan juga Bulan dengan kasar." lagi ceritanya kepada Pak Hartono.


Pria paruh baya itu nampak menghela napasnya. "Bagaimana pun tindakan seperti ini tidak Bapak benarkan. Segala sesuatu bisa dibicarakan dengan baik-baik."


Bulan lantas mengangkat sedikit wajahnya. "Pak, sebenarnya Bulan dan Surya sudah jeda hampir dua bulan lamanya. Sebelum bulan puasa." ucap Bulan dengan jujur kali ini.


Pasangan paruh baya itu nampak terkejut dengan ucapan Bulan. Mereka tidak menyangka jika anaknya ternyata diam-diam menyimpan sendiri masalahnya tanpa berbagi dengan mereka.


"Kenapa kok jeda?" tanya Pak Hartono sembari menatap Bulan.


"Itu ... itu karena Bulan berkata jujur kepada Surya bahwa Bintang menyukai Bulan selama ini. Bulan berkata jujur, dan responsnya adalah mengambil jeda." jawab Bulan.


"Lain kali jika ada apa-apa, jangan dipendam sendiri to Ndug ... sebagai orang tua, jauh lebih baik jika kami mengetahui segala sesuatu darimu. Bukan dari orang lain. Bapak dan Ibu juga kecewa, jika kamu menyembunyikan semuanya sendiri seperti ini. Paham?"


Bulan menganggukkan kepalanya mendengarkan ucapan dari Bapaknya, gadis itu menyadari bahwa dia menyembunyikan segala sesuatu dan baru bisa berkata jujur sekarang ini. "Baik Pak ... maafkan Bulan. Di lain waktu, Bulan pasti akan selalu terbuka kepada Bapak dan Ibu." ucapnya.


"Lalu, sekarang apa keputusanmu?" lagi tanya Pak Hartono kepada Bulan.


Mendengar dan mendapat pertanyaan mengenai apa keputusannya membuat gadis itu terdiam. Dia berusaha menyelami pikirannya dan juga apa yang dia mau saat ini.


Lalu, keputusan apa yang diambil Bulan?

__ADS_1


__ADS_2