Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Lengang


__ADS_3

Menerobos jalanan Kota Gudeg yang cukup terik, walaupun hari belum terlalu siang, Bulan mengendarai sepeda motornya sembari mengamati situasi di sekitaran Pusat Bisnis Malioboro.


Tempat yang dulu ramai, banyak wisatawan yang berjalan kaki mengerumui Malioboro, kini tempat itu begitu lengang. Bahkan beberapa penjual terpaksa menutup tempat jualannya lantaran sepinya pengunjung dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


Bulan cukup tertegun. Dulu tempat ini nyaris selalu ramai, tidak hanya penjual dan pembeli, para wisatawan, hingga musisi jalanan memenuhi tempat Bisnis Malioboro ini silih berganti.


Dengan sepeda motornya Bulan membelah jalanan Malioboro yang lengang. Kemudian ia memarkirkan sepeda motornya di depan Pasar Beringharjo.


Kondisi yang sama juga terjadi di dalam Pasar Tradisional Beringharjo, hanya pedagang yang nampak duduk-duduk di depan kios mereka. Sebelum Corona, Pasar ini selalu berjubel dengan para pembeli yang mencari kain batik, daster, hingga oleh-oleh tradisional Jogjakarta. Bulan begitu sedih melihat kondisi yang benar-benar lengang ini.


Begitu sampai di kios Batik milik Bapaknya, Bulan segera menyapa Bapaknya dan beberapa pegawai yang ada di sana.


"Siang Pak ... Bulan datang." ucapnya sembari mencium punggung tangan Bapaknya.


"Sini Nduk, masuk sini ...." ucap Bapaknya yang menyambut kedatangan Bulan.


Bulan nampak mengamati sekeliling, pandangannya mengedar ke kanan dan kiri. "Lengang nggih Pak?"

__ADS_1


Bapak Hartono pun menganggukkan kepalanya. "Iya, memang beginilah keadaannya. Dulu sebelum Corona, Pasar ini penuh manusia yang mencari batik, daster, mau pun oleh-oleh lainnya. Sekarang kamu bisa melihat sendiri, bagaimana sepinya pasar ini sekarang."


"Iya Pak ... ini sepi sekali. Lengang. Tadi Bulan melewati area Malioboro juga sepi, Pak." ucap Bulan kepada Bapaknya.


"Benar Nduk, bukan hanya kita yang mengalaminya. Semua hampir terkena dampaknya. Kamu lihat sendiri kan, mencari uang sehari Rp. 50.000,- aja susah, Nduk." ucap Pak Hartono sembari menata kain-kain Batik di kiosnya.


Bulan pun terenyuh hatinya mendengar ucapan Bapaknya. Tidak dipungkiri dengan situasi pasar selengang ini sudah pasti begitu susahnya mengais rupiah di masa pandemi. Bulan kemudian menepuk lengan Bapaknya. "Nanti kita cari cara bersama-sama ya Pak, semoga ada jalan. Bulan percaya di balik semua ada maksud Allah."


Begitu Bulan usai berbicara dengan Bapaknya, salah satu penjual di kios yang berdekatan nampak mendatangi Pak Hartono dan Bulan.


"Eh, Mbak Bulan ... tumben ke sini Mbak?" sapa seorang Ibu yang memiliki kios batik persis di depan kios milik Pak Hartono.


Ibu itu pun nampak menganggukkan kepalanya. "Wah, kasihan ya Mbak Bulan ... gara-gara Corona pernikahannya harus dibatalkan. Sabar ya Mbak ... jika tidak ada Corona, sudah pasti sekarang Mbak Bulan sudah menikah." ucap Ibu itu.


Bulan hanya tersenyum, tetapi ketika teringat dengan pernikahannya yang batal hatinya terasa tercubit. Ngilu rasanya.


"Tidak apa-apa Bu. Pernikahannya hanya dibatalkan sementara, lagipula baru Corona. Lebih baik saya mengalah daripada banyak warga yang kena getahnya, bisa tertular virus Corona. Insyaallah, saya sudah ikhlas." ucap Bulan sembari sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Sebenarnya Bulan hanya mencoba ikhlas. Lagipula waktu terus berlalu, dia belajar menerima keadaan. Bagaimana pun Sang Pemilik Hidup tentunya sudah menggariskan takdir masing-masing bagi hamba-Nya. Bulan hanya belajar dan mencoba ikhlas. Rencana bahagia yang sudah dia dan keluarga susun bersama memang batal, meninggalkan luka di dalam hati Bulan. Akan tetapi, nikmat sehat yang bisa dirasakan sekarang ini nampaknya begitu berharga dan melebihi berbagai macam karunia nikmat yang lain di dunia.


Mendengar nyinyiran lagi dari tetangga di kios, Bapak Hartono hanya tersenyum dan merangkul pundak putrinya itu. "Tidak apa-apa, Bu. Di lain waktu jika Bulan akan menikah, pasti saya akan membagi undangannya kepada Sampeyan (kamu - dalam bahasa jawa Krama)."


Usai Pak Hartono bersuara, ibu itu pun segera pergi meninggalkan kios Batik Maheswari milik keluarga Bulan.


"Sabar ya Nduk, tidak semua omongan orang harus kamu masukkan ke dalam telinga. Masukkan saja apa yang baik dan bermanfaat, yang tidak baik dibuang saja. Dilupakan." ucap Pak Hartono yang mencoba menguatkan anaknya.


Sebagai seorang Bapak, sudah pasti Pak Hartono tahu bahwa situasi hati anaknya sedang tidak baik-baik saja. Pembatalan pernikahan yang diundur sementara dalam batas waktu yang belum ditentukan membuat Bulan memang hancur. Oleh karena itulah, sebagai seorang Bapak, Pak Hartono menguatkan anaknya itu.


Bulan pun menghela nafasnya dan tersenyum kepada Bapaknya. "Tidak apa-apa, Pak ... sudah lumrah (wajar - dalam bahasa Indonesia) terjadi jika orang tahu bahwa rencana pernikahan Bulan dan Surya dibatalkan. Kabar yang demikian memang cepat tersebarnya. Tetangga kita di rumah pun pasti juga membicarakan Bulan seperti ini, hanya saja mungkin Bulan yang tidak mendengarnya." Bulan tersenyum dan menjeda sejenak ucapannya. "Setinggi-tingginya manusia merencanakan segala sesuatu, jika Tuhan tidak menghendaki maka itu tidak akan terjadi, Pak. Begitu juga dengan Bulan dan Surya kemarin, sejauh apa rencana yang sudah kami buat berdua, jika Allah belum meridhoi juga tidak terjadi. Bulan hanya berusaha menjalani saja dengan ikhlas, sabar, dan tawakal. Memang dulu Bulan begitu sedih ketika dua belah pihak keluarga membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata. Kini Bulan sudah tidak apa-apa. Bulan sudah bangkit dan walaupun tidak dipungkiri hati Bulan masih sakit, tetapi menyangkut kepentingan bersama memang lebih baik pernikahan Bulan dan Surya ditunda sementara waktu. Jika waktunya sudah baik dan dalam ridhoi Allah, pasti Bulan akan bersatu dengan Surya." ucap Bulan dengan sungguh-sungguh.


Pak Hartono tersenyum dan menepuk-nepuk bahu putrinya. "Sejatinya semua cobaan yang Gusti berikan itu untuk membuat kita semakin kuat dan dewasa. Sekarang Bapak sudah melihat, anak Bapak sudah kuat dan dewasa. Bapak tidak khawatir lagi karena kamu tumbuh dan bisa menyingkapi segala sesuatu dengan ikhlas. Benar sekali, Nduk... segala sesuatu di bawah kolong langit ini sudah dalam ketetapan Gusti ingkang Mubeng Jagat (Tuhan Pemilik Alam Semesta). Manusia boleh rencana, tetapi Gusti lah yang menetapkan dan menghendakinya. Sabar terus ya, kuat, dan terus ingat kepada Sang Pemilik Hidup kita ini."


Mata Bulan nampak berkaca-kaca mendapat petuah hidup dari Bapaknya. Hatinya pun lega bisa merasakan kebahagiaan di saat dirinya benar-benar berserah kepada Allah. Omongan kanan kiri hanya sebatas lewat, Bulan bisa menyingkapi semua dengan sabar.


Saat Bulan mulai sibuk membantu Bapaknya, seseorang datang dan menyapa Bulan dan Bapaknya.

__ADS_1


"Selamat siang Pak ... Bulan ...."


Sontak Bapak dan anak itu langsung menoleh kepada sumber suara yang menyapa keduanya siang itu.


__ADS_2