Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Keterpurukan Ekonomi


__ADS_3

Masa pandemi masih belum berakhir, sementara keluarga Bulan yang notabene adalah seorang pedagang batik begitu menjadi kalangan masyarakat yang terdampak secara langsung dari ditutupnya sejumlah pasar dan fasilitas umum.


Tidak terasa, sejak Pasar Beringharjo ditutup sudah nyaris sebulan Bapak Hartono berdiam di rumah. Ide berjualan secara online yang direncanakan Bulan sebelumnya memang berjalan. Sayangnya untuk omset pendapatan memang belum terlalu banyak.


"Bu, kalau Bapak menjual satu mobil kita bagaimana?" tanya Pak Hartono kepada istrinya.


Bu Sundari yang sedang menyiram berbagai tanamannya yang berada di depan rumah pun sontak berdiri dan berjalan mendekati suaminya. "Kenapa Pak?"


"Bukan hanya untuk kita, Bu ... para pegawai juga membutuhkan. Paling tidak sedikit kita bisa membantu mereka." ucap Hartono dengan mata yang menerawang. "Kondisi ekonomi makin susah Bu, terlebih kios sudah tutup. Minimal membantu sedikit-sedikit Bu. Pegawai juga membutuhkan."


Sebagai seorang istri, Bu Sundari pun mendengar cerita suaminya dengan perhatian. Tidak dipungkiri bahwa masa pandemi membuat semua susah. Lapangan pekerjaan semakin terbatas dan semakin banyak pegawai yang dirumahkan atau tiba-tiba di PHK. Kondisi yang sangat memilukan, tetapi di sisi lain dapur dan keperluan anak harus tersedia bukan?


Bu Sundari kemudian menganggukkan kepalanya. "Kalau tabungan kita sendiri bagaimana Pak? Apakah tidak bisa menolong mereka dengan uang tabungan kita?"


Pak Hartono nampak menggelengkan kepalanya. "Tidak cukup, Bu. Tabungan itu kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, Bu. Dapur kita sendiri juga harus mengepul kan Bu? Sementara kita tidak tahu kapan kondisi ini berakhir? Kapan angka masyarakat yang terkena Corona semakin turun? Manusia seperti hilang pengharapan Bu ... semua serba susah."


Akhirnya Bu Sundari pun menganggukkan kepalanya. "Benar ... manusia seperti kehilangan pengharapan. Baik Pak, jual saja salah satu mobil kita. Pak, uang yang kita tabungan untuk membelikan mobil buat Bulan masih kan? Itu jangan sampai terpakai ya Pak ... sudah komitmen kita berdua untuk memberikan mobil buat anak kita satu-satunya saat dia menikah nanti." ucap Bu Sundari.


Pak Hartono pun menganggukkan. "Iya Bu ... yang menjadi hak Bulan tetap Bapak sisihkan dan tidak akan kita pergunakan. Tabungan untuk pernikahan Bulan juga masih ada."

__ADS_1


Mengingat mengenai pernikahan Bulan, tiba-tiba air muka Pak Hartono berubah pilu. "Hidup rasanya memanglah lucu. Dulu Bapak mati-matian menyisihkan Rupiah hasil bergadang Bapak untuk bisa memberikan pernikahan yang layak buat Bulan, pernikahan yang menjadi impian Bulan. Saat hari bahagia itu akan tiba, justru Corona datang dan pernikahan itu tidak terealisasikan."


Sama halnya dengan suaminya, Bu Sundari pun tersenyum. "Semua orang tua ingin mewujudkan pernikahan impian anaknya Pak. Begitu juga dengan kita. Ingin mewujudkan pernikahan impian Bulan, dia anak kita satu-satunya. Akan tetapi, jika semesta sudah berkata lain mau bagaimana lagi Pak? Kita sebagai manusia hanya bisa merencanakan dan menjalani, sementara semua keputusan ada di tangan Yang Maha Kuasa." jawab Bu Sundari.


"Benar Bu. Dulu Bapak ingat dengan wajahnya Bulan yang terlihat sedih. Sebagai seorang Bapak, ya sudah pasti Bapak juga sedih. Akan tetapi, mau bagaimana lagi semua waktu di bawah matahari ada dalam kedaulatan Allah semata. Semoga saja, sekalipun tertunda untuk waktu yang lama, Bulan tetap bisa melangsungkan hari bahagianya dan kita sebagai orang tua bisa mendampinginya." ucap Pak Hartono.


"Amin...." sahut Bu Sundari mengaminkan ucapan suaminya.


...🌸🌸🌸...


Selang beberapa hari, mobil milik Pak Hartono telah laku terjual. Wajah pria baruh baya tidak bersedih lantaran salah satu mobilnya telah terjual, dia justru bersyukur masih bisa membantu sedikit untuk pegawainya yang berjumlah lima orang.


"Siang Bud ...." sapa Pak Hartono ketika mengunjungi salah satu rumah pegawainya yang bernama Budi itu.


"Siang Pak ... monggo-monggo (mari) silakan masuk." sambut Budi ketika Pak Hartono mengunjungi rumahnya.


"Di sini aja, Bud. Cuma sebentar." sahut Pak Hartono. "Gimana sebulan ini? Sepurane (maaf) karena Pasar masih tutup, belum bisa kembali buka kios batiknya."


Pak Hartono memang seorang yang baik dan perhatian, sekalipun dia yang memiliki kios Batik, tetapi Pak Hartono adalah seorang milik yang baik dan perhatian dengan pegawainya.

__ADS_1


"Mboten napa-napa Pak (tidak apa-apa, Pak) ... keadaannya memang baru sulit. Bukan hanya kita, tetapi semua orang mengalaminya. Bukan kita sendirian yang mengalaminya." sahut Budi yang justru merasa tidak enak dengan Pak Hartono.


"Sebulan ini kamu bekerja apa Bud?" lagi tanya Pak Hartono kenapa Budi.


"Karja serabutan Pak ... kadang ada tetangga yang minta tolong buat motong rumput, mencuci AC, dan lain-lain Pak. Insyaallah, sedikit-sedikit bisa buat memberi makan anak dan istri." jawab Budi.


Sisi kemanusiaan Pak Hartono sangat tersentuh. Sebelum Corona melanda, kelima pegawainya mendapatkan pendapatan utuh dan pasti setiap bulannya dan kini mereka harus di rumahkan.


Setelahnya Pak Hartono mengeluarkan amplop dari sakunya. "Ini sedikit buat beli beras ya, Bud ... tidak seberapa. Semoga kondisi ini segera berlalu, pulih sepenuhnya sehingga area Pasar Beringharjo akan kembali dibuka dan penjualan di kios kita bisa kembali."


Budi justru kebingungan saat tangannya hendak terulur menerima amplop yang disodorkan Pak Hartono. Dirinya tidak bekerja, tetapi sekarang justru juragannya datang dan memberikan amplop.


"Pak, mboten sah (tidak usah). Bapak pasti juga membutuhkan. Saya masih mendapatkan sedikit-sedikit dari kerja serabutan." jawab Budi yang sungkan dengan pemberian Pak Hartono.


"Tidak apa-apa, Bud. Semua pegawaiku itu sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Anggap aja ini pemberian seorang Bapak kepada anaknya. Semua sedang susah, keterpurukan ekonomi menimpa banyak orang. Diterima ya. Ya sudah, pamit ya Bud...." ucap Pak Hartono sembari undur diri dari rumah pegawainya itu.


Dari rumah Budi, Pak Hartono melanjutkan perjalanannya ke rumah pegawainya yang lain. Hatinya tergerak untuk sedikit berbagi kasih, mengingat pegawainya yang juga memiliki anak dan istri yang juga membutuhkan uluran tangan. Pemberiannya tidak banyak, tetapi bisa membantu sedikit membantu supaya dapur tetap mengepul, susu untuk bayi tetap terbeli.


Begitu sampai di rumah Pak Hartono merasa lega. Di tengah-tengah kondisi yang serba susah, mencari uang untuk makan sulit, tetapi dia masih bisa berbagi. Pria paruh baya itu hanya berharap angka masyarakat yang terkena Corona segera melandai dan kiosnya bisa kembali buka. Sehingga para pegawainya bisa kembali bekerja dan mendapatkan penghasilan dari usaha Batik yang sudah dia gelitu selama puluhan tahun.

__ADS_1


•Berbagi bukan tentang seberapa besar dan seberapa berharganya hal yang kau beri, tetapi seberapa tulus dan ikhlasnya apa yang ingin kau beri.•


__ADS_2