Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Perjalanan Ke Toraja


__ADS_3

Perjalanan dari Makassar menuju Toraja dapat di tempuh melalui jalur darat dengan menaiki Bus Primadona, sebuah bus yang melayani rute Makassar menuju Toraja dan sebaliknya. Masyarakat Makassar seringkali memanfaatkan moda transportasi ini untuk mengunjungi kota Toraja. Lagipula, bus ini menyediakan jasa transportasi setiap harinya. Bahkan Bus Primadona juga memiliki fasilitas sleep bus bagi penumpang yang bisa tidur di dalam bus selama perjalanan dari Makassar menuju Toraja atau sebaliknya.


Malam itu tepat jam 21.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah), Surya berangkat ke Toraja bersama dua rekan dari tempatnya bekerja yaitu Andi dan Pak Teguh yang sudah menjadi pegawai senior di Kantor Pelayanan Pajak Kota Makassar.


"Jangan lupa isi pulsa sekaligus beli sinyalnya Surya... Biasanya selama perjalanan akan susah sinyal." ucap Andi yang menggodai Surya. Andi tahu kalau temannya itu menjalani long distance relationship, sehingga sinyal menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi mereka yang berada di pulau berbeda namun tetap memandang langit yang sama.


Hanya saja Surya memandang langit di belahan Indonesia tengah, sementara Bulan memandang langit di belahan Indonesia Barat. Langit tak berujung, karena itulah sekalipun Surya di Makassar dan Bulan berada di Jogjakarta, mereka tetaplah memandang langit yang sama.


Tanah yang mereka pijak memang berbeda pulau dan terpisah lautan, tetapi mereka tetap berada di bawah langit yang memayungi keduanya.


Perjalanan malam dengan mengenakan bus terasa begitu panjang bagi Surya. Benarlah bahwa sinyal tidak menentu, yang berakhir dengan membuat Surya memilih tidur. Berharap esok pagi saat dia telah tiba di Toraja, dia bisa menemukan sinyal sehingga bisa berkabar dengan Bulan.


Waktu perjalanan dari Makassar menuju Toraja yang dijadwalkan hanya sekitar 8 jam, faktanya justru memakan waktu hingga 11 jam lamanya.


Pagi hari, Surya bangun dan mengecek kembali handphone. Pria itu menemukan balasan pesan dari Bulan.


[To: Surya]


[Kamu masih dalam perjalanan?]


[Sudah sampai?]


[Kalau sudah sampai di Toraja jangan lupa kabarin aku.]

__ADS_1


[Surya, masih belum sampai juga ya? Apa tidak ada sinyal?]


Empat pesan berderet dari Bulan, Surya kemudian dengan cepat menggerakkan jari-jarinya pada layar keyboard yang berada di handphonenya. Yang dia lakukan pertama kali adalah membalas pesan Bulan tersebut.


[To: Bulan]


[Aku sudah sampai di kota Makale (ibukota kabupaten Tana Toraja), Bulan.]


[Baru mencari penginapan dan langsung ke obyek pemeriksaan.]


[Semoga tidak ada kendala sinyal dan kita bisa tetap berhubungan.]


Dengan segera Surya mengirim pesan-pesan tersebut. Berharap tidak akan ada kendala sinyal lagi, sehingga Surya tetap bisa memberikan kabar kepada Bulan selama berada di Toraja.


Londa adalah sebuah kompleks kuburan yang ada di sebuah tebing batu besar. Bahkan Londa ini juga diketahui dikelilingi oleh pegunungan sehingga memberi suasana yang begitu sejuk dan menyegarkan. Ada sensasi berbeda ketika memasuki Londa karena bernuansa gaib dan banyak gua dengan lubang pada tebing yang sengaja dipahat sebagai tempat peti yang berisi mayat.


Banyak orang berkata belum ke Toraja, jika belum mengunjungi Londa. Begitu juga Surya yang diajak mengunjungi tempat ini rasanya begitu merinding melihat berbagai patung yang menyerupai manusia. Aura mistis seakan menyapanya hingga membuat bulu kuduknya merinding. Sebab penempatan mayat di dalam Londa tidak boleh sembarangan dan sesuai dengan garis keluarga. Lokasi Wisata Londa berada di sekitar 7 Km dari Kota Rantepao dan sering dijadikan sebagai salah satu taman rekreasi Toraja paling banyak dikunjungi turis.


Usai mengunjungi Londa, Surya kembali ke penginapan dan dia baru teringat kepada Bulan. Seharian dia sama sekali tidak mengirimkan pesan sama sekali untuk Bulan.


Begitu sampai di penginapan, agaknya semesta memang tidak berpihak kepada Surya. Tidak ada sinyal untuk providernya dan juga hujan turun dengan begitu derasnya membuat Surya tersulut emosi dan gundah lantaran tidak bisa menghubungi Bulan.


Hingga akhirnya, Surya memilih merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dan menaruh tangannya untuk menutupi kedua matanya. Hanya perkara sinyal benar-benar membuat Surya uring-uringan.

__ADS_1


...🌸🌸🌸...


Sementara itu di Jogja, Bulan sudah pulang dari mengajar. Gadis itu tengah bersantai di teras rumahnya. Sejak semalam Bulan memang memikirkan kenapa Surya tidak mengirimkan pesan kepadanya, bahkan seharian pun tidak ada kabar sama sekali dari Surya.


Memilih tenang dan tetap berpikiran positif, mungkin saja Surya memang sedang bertugas di mana sinyal di sana memang susah. Kendati demikian, Bulan tetap mengharap Surya bisa mengirimi pesan.


Baru saja Bulan melamun sembari duduk-duduk di teras, Bapaknya turut duduk di sampingnya. "Kenapa Nduk, kok melamun?" tanya sang Bapak kepadanya.


Seketika Bulan pun menggelengkan kepalanya. "Enggak melamun kok Pak ... duduk-duduk santai saja ini Pak." sahut Bulan kepada Bapaknya.


Pak Hartono seketika tersenyum. "Apa sedang banyak pikiran? Kenapa keliatan melamun?"


"Biasa saja Pak ... tidak begitu banyak pikiran. Disyukuri saja semuanya, Pak. Terlebih beberapa hari yang lalu Bulan sempat terpapar virus Corona. Sekarang bisa sehat dan bisa berkumpul bersama Bapak dan Ibu rasanya Bulan sudah begitu bahagia. Nikmat sehat itu sungguh tak terhingga, Pak. Bisa sehat, berkumpul dengan keluarga, dan melakukan aktivitas walaupun hanya di dalam rumah rasanya sudah kebahagiaan tersendiri." Ucap Bulan yang memang begitu bersyukur.


Dia pernah menjalani masa-masa terburuk hingga jatuh secara fisik dan mental. Bersyukur kini dirinya telah sehat dan bisa berkumpul dengan Bapak dan Ibunya. Sekalipun tidak dipungkiri jika ada satu bagian hatinya yang terasa kosong, ya kekosongan yang tercipta lantaran hubungan jarak jauhnya dengan Surya. Membuat satu kekosongan yang terkadang membuat gadis ayu itu merindu.


Sedikit berdehem, Pak Hartono pun tersenyum. "Apa kamu tidak sedang memikirkan Surya?" tanya Bapaknya dengan spontan.


Bulan pun tersenyum. Jujur saja senyuman itu adalah senyuman kecut. Sudah pasti dia memikirkan Surya, tetapi hanya dapat sebatas memikirkan saja.


"Jika memikirkan sih ya sudah pasti, Pak ... hanya saja Bulan tidak mau terlalu banyak pikiran hingga membuat Bulan hanya terfokus pada itu saja. Masih banyak hal yang bisa Bulan lakukan." ucap gadis itu kepada Bapaknya.


"Ya, kalau memikirkan itu wajar. Apalagi kalian berdua masih sama-sama saling menyayangi. Masih muda dan harus menjalani hubungan jarak jauh, sudah pasti tidak mudah. Butuh tidak hanya sekadar menjalani, dibutuhkan doa juga supaya Allah campur tangan, butuh pengorbanan juga. Lha, anak Bapak ini siap enggak suatu hari nanti jika dipersunting Surya tinggal jauh dan siap mengikuti Surya di mana dia ditempatkan?"

__ADS_1


__ADS_2