
Selang beberapa hari, di sekolah Bulan dilakukan tes usap (swab) massal. Pasalnya, virus Corona kian menyebar dan bermunculan kluster baru, salah satunya adalah kluster sekolah. Oleh karena itu, di berbagai sekolah juga dilakukan tes usap (swab) untuk seluruh tenaga pendidik.
Pun demikian dengan Bulan. Dia menjadi salah satu dari banyaknya tenaga pendidik yang akan dites usap hari ini. Sebenarnya Bulan mulai tidak tenang. Sebab dari kemarin, badannya merasa meriang dan beberapa kali demam. Namun, dia tidak bisa mengelak, mau tidak mau harus mengikuti tes usap yang dilakukan di sekolahnya hari itu juga. Sebab semua tenaga pendidik harus mengikuti tes usap ini, sehingga mau tidak mau memang harus mengikutinya. Tidak ada alasan untuk mengelak.
Tenaga medis yang datang ke sekolah tempat Bulan mengajar telah bersiap dengan menggunakan alat pelindung diri, masker, dan helm pelindung. Mereka sendiripun berusaha untuk menghindari kontak fisik dengan mereka yang terpapar virus Corona. Bagi Bulan dan rekan-rekannya tentu deg-degan bukan main. Ini adalah kesempatan pertama ini melakukan tes usap. Rasa takut, khawatir, bahkan salah satu yang paling ditakutkan adalah mereka yang merasa dirinya negatif, nyatanya justru positif menjadi hal yang ditakutkan oleh Bulan dan rekan-rekannya, sesama guru di Sekolah Dasar tersebut.
Tes usap ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang tenaga kesehatan. Mereka yang berhak dan berwenang melakukan tes usap ini adalah analisis kesehatan yang bertugas di bawah pengawasan Dokter spesialis Patologi Klinik. Mengapa demikian? Karena proses pengambilan sampelnya memerlukan pengetahuan secara anatomi sampai sejauh mana swab itu masukkan ke dalam hidung, tujuannya untuk memastikan sampelnya benar.
Setelahnya satu per satu tenaga pendidik maju untuk dilakukan tes usap. Sementara tenaga kesehatan telah bersiap dengan alat swab yang tersegel. Satu orang akan dites dengan menggunakan satu alat tes usap. Tes usap hanya boleh digunakan sekali pakai. Alat tes usap tidak boleh dipakai beberapa kali atau reuseable, begitu dipakai harus dibuang.
Hingga tiba saatnya giliran Bulan. Gadis itu melepas sejenak masker yang menutupi hidung dan mulutnya, wajahnya menengadah, lalu tenaga medis mulai mengambil sampel dari hidung dan tenggorokkan. Gadis itu memejamkan mata saat alat tes usap masuk dalam hidungnya, setelah dari hidung dilanjutkan dengan pengambilan sampel di tenggorok. Jujur saja Bulan takut. Ini adalah pengalaman pertama baginya melakukan tes usap, tangannya hingga terasa dingin, keningnya berkeringat saking ketakutannya. Pengalaman pertama yang menakutkan bagi Bulan. Selain itu bagian hidung dan tenggorokannya pun terasa sakit.
Di masa awal Corona itu, hasil tes usap baru keluar tiga hari setelahnya. Praktis mulai hari ini hingga tiga hari ke depan Bulan merasa cemas. Menanti hasil tes usap, rasanya membuat Bulan tidak bisa bernapas lega. Ketakutan dengan hasil yang akan keluar nantinya.
***
Tiga hari kemudian.
__ADS_1
Hari ini hasil tes usap yang dilakukan di tempat Bulan mengajar akan diberikan. Sejak pagi rasanya Bulan begitu berdebar, memikirkan hasil tes usap yang akan dia terima. Perasaan ini justru melebihi kekhawatiran menunggu hasil Ujian Nasional maupun SNMPTN.
Terlebih saat ini, kondisi badan Bulan semakin tidak sehat. Gadis ayu itu merasa demam yang dia alami naik turun, dia juga mengalami batuk kering. Kondisi yang membuatnya semakin takut jangan-jangan dirinya terpapar virus Corona. Akan tetapi, karena hasil tes usap belum keluar maka Bulan tetap masuk ke sekolah dan tetap mengenakan masker setiap kali keluar dari rumah.
Menjelang jam sepuluh, Kepala Sekolah membagikan hasil tes usap yang dilakukan tiga hari yang lalu. Betapa terkejutnya Bulan, saat diberitahukan bahwa dirinya ternyata positif Covid-19.
Dunianya serasa runtuh, Bulan seketika diminta oleh Kepala Sekolah melapor ke Dinas Kesehatan dalam hal ini adalah Puskesmas terdekat dan kepada Ketua RT, jika memungkinkan bisa melakukan isolasi mandiri di rumah.
Aku positif! Aku sungguh tak mengira, justru diriku sendiri yang terpapar virus ini. Aku yang selalu mengatakan kepada Bapak dan Ibu untuk menjaga kesehatan, menerapkan protokol hidup sehat, dan mengonsumsi vitamin, kini justru aku sendiri yang terpapar virus ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang ya Tuhan? Aku sangat takut, kenapa engkau mengizinkanku tertimpa sakit ini ya Tuhan. Sungguh, aku sangat takut ... Sembuhkan aku ya Tuhan. Sembuhkanlah aku.... gumam Bulan dalam hati dengan perasaan yang sukar didefinisikan.
Di dalam kamarnya, Bulan duduk dengan gelisah. Tangannya menggenggam handphonenya, dan Bulan memutuskan untuk menelpon orang tuanya terlebih dulu. Mengabarkan jika dirinya positif saat ini.
Ibu
Berdering
“Halo Ibu, bagaimana kabarnya di Gunung Kidul?” tanya Bulan begitu sambungan teleponnya berdering.
__ADS_1
"Baik Nduk … bagaimana?" sahut Bu Sundari dalam panggilan selulernya.
Bulan seketika berusaha merangkai kata-kata untuk menyampaikan kabar yang tidak baik ini kepada orang tuanya.
"Euhm, begini Bu … tiga hari yang lalu di sekolah tempat Bulan mengajar dilakukan tes usap. Hasilnya sudah keluar hari ini." ucap Bulan dengan berusaha tenang.
"Iya … bagaimana hasilnya?" tanya Bu Sundari kepada Bulan.
Lidah Bulan seakan kelu, bahkan air matanya mulai berlinang. "Bulan positif, Bu…." ucapnya dengan terisak.
Mendengar kabar baik Bulan, handphone yang dipegang Bu Sundari hingga terjatuh ke lantai.
"Astaghfirullahalazim … kamu positif?" ucap Bu Sundari begitu dia mengambil handphone dan menempelkan handphonenya ke telinganya.
Bulan pun menganggukkan kepalanya, seolah-olah dia sedang berhadapan dengan Ibunya sekarang. Air matanya pun sudah luruh, membasahi kedua pipinya. "Ii … iya Bu." sahut Bulan dengan lirih. "Bapak dan Ibu di Gunung Kidul dulu saja, Bu. Jangan pulang ke rumah. Biar Bulan saja yang berada di rumah. Bulan masih menunggu informasi dari Puskesmas terdekat Bulan bisa isolasi mandiri di rumah atau harus karantina terpadu." ucap Bulan kepada Ibunya.
Usai menelpon Ibunya, Bulan melosot duduk di lantai. Dia menangis dengan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Yang dia lakukan hanyalah menangis, dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dunianya seolah terbalik seketika, cemas, takut, dan khawatir semuanya menjadi satu. Kendati demikian, Bulan tetap berharap dirinya bisa melawan semua ini. Ada keajaiban, ada mukjizat yang Tuhan berikan baginya.
__ADS_1