Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Nasihat tentang Jodoh


__ADS_3

Kejujuran dan kepolosan itu lekat dengan sosok seorang anak. Begitu pula dengan Kartika, menurut anak kecil itu Bu Gurunya yaitu Bulan lebih cocok bersama Bintang.


"Yahhh, kenapa Bu Guru enggak sama Om Bintang aja?" tanya Tika dengan menatap wajah orang dewasa di hadapannya sekarang ini.


Sementara Bulan dan Bintang sama-sama tersenyum pada Tika.


"Maaf ya Bintang ... jangan dimasukkan hati. Aku justru tidak enak sama kamu." ucap Bulan sembari tersenyum pada Bintang.


"Iya gak apa-apa. Biasa anak-anak." jawab Bintang dengan tenang.


Bulan agaknya mulai bisa bernafas lega lantaran Bintang tidak memasukkan ucapan Ibunya dan Kartika ke dalam hatinya.


Berbicara tentang pacar, Bulan lantas teringat pada Arunika. Dia ingat bahwa Surya pernah bercerita tentang Arunika.


"Kamu masih ingat sama Arunika enggak Bin?" tanya Bulan dengan hati-hati.


Nampak terkejut, hingga akhirnya wajah Bintang kembali tenang. Pria itu nampak sedikit menganggukkan kepalanya.


"Iya ... aku masih ingat. Kenapa?" tanyanya kepada Bulan.


"O ... itu, beberapa hari lalu Surya cerita kalau dia ketemu sama Arunika di Makassar. Apa benar kalian sudah putus?" lagi Bulan bertanya kepada temannya.


Bintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... memang. Akan tetapi, itu sudah lama. Sudah hampir 2 tahun berlalu." jawab Bintang yang jujur dan tidak berbohong sama sekali.


Waktu yang terhitung lama bagi pria seumuran Bintang untuk menyandang status jomlo. Namun agaknya Bintang memang tidak ada target untuk segera memiliki pacar.

__ADS_1


"Kalau putus kenapa enggak cerita? Surya pun enggak tahu kalau kalian sudah putus." ucap Bulan yang lebih hati-hati kali ini. Sebisa mungkin Bulan tak ingin mencampuri urusan temannya itu.


"Enggak apa-apa, masak cuma hanya karena putus saja harus cerita ke semua orang. Lagian juga memang bertahan sampai apapun, kami gak bisa bersatu. Dia ingin tinggal di Makassar, sementara aku terlalu nyaman tinggal di Jogjakarta dan tidak ingin kemana-mana." ucap Bintang yang kali ini membuat Bulan memperhatikan ucapan temannya itu sepenuhnya.


"Kenapa Bin? Kamu tidak ingin mencoba untuk tinggal di kota lain?" tanya Bulan dengan menyelidiki.


Bintang nampak sedikit tersenyum. "Jika ada orang yang tidak suka dengan tantangan, maka aku adalah salah satunya. Bukan berarti aku suka dengan zona nyaman, tetapi dalam hidup ditambah situasi seperti ini dekat dengan keluarga, bisa menjaga orang tua lebih baik. Apalagi aku masih lajang."


"Kalau misal kamu punya pasangan dan akan menikah, apakah juga kalian akan tinggal bersama orang tua?" tanya Bulan sembari tertawa dengan temannya itu.


Sontak Bintang menggelengkan kepalanya. "Tentu tidak. Hidup satu atap dengan istri jauh lebih enak. Membina rumah tangga berdua. Kamu sendiri?" tanya Bintang kepada Bulan.


Sebelum menjawab, Bulan nampak terlebih dahulu berpikir. "Aku sama sepertimu. Akan tetapi, mungkin aku masih sering main ke rumah karena aku anak satu-satunya bagi Bapak dan Ibuku." jawab Bulan dengan tenang.


"Jika sudah menikah dengan Surya, apa kamu juga akan mengikuti Surya dan tinggal di mana saja Surya ditempatkan?" tanya Bintang kali ini kepada Bulan.


"Entahlah Bin ... aku tidak tahu. Pekerjaanku ada di sini. Aku belum berpikiran sejauh itu." jawab Bulan dengan wajah yang nampak bimbang.


Bintang justru tersenyum. "Jika kau memiliki rencana untuk dengan Surya, maka mau tidak mau harus kami pikirkan. Kamu harus siap dengan segala risiko dan konsekuensinya. Positifnya kamu akan bersatu dengan Surya, sementara di sisi lain kamu harus melepas pekerjaan, keluarga, dan semuanya." ucap Bintang dengan perlahan.


Bulan nampak berpikir keras kali ini, beberapa kali keningnya nampak berkerut. "Euhm, kau benar Bintang ... aku justru belum berpikiran ke sana."


Tiba-tiba saja hati nurani Bulan seakan tercubit. Memang benar apa yang diucapkan Bintang, dia harus segera memikirkan masa depannya dengan Surya, beserta segela risiko dan konsekuensinya.


Setelah berbicara dan juga sembari menghibur Kartika, akhirnya Bintang berpamitan dengan Bulan.

__ADS_1


"Baiklah Bulan, karena sudah malam. Aku pamit ya ... kabari aku kalau Ibunya Tika sudah bisa pulang. Terima kasih ya." pamitnya kepada Bulan.


Akan tetapi, sebelum Bintang melangkahkan kaki keluar dari rumahnya Bulan, kedua orang tua Bulan kembali keluar.


'


"Mau kemana Mas Bintang?" tanya Bu Sundari kepada Bintang.


Menghentikan sejenak langkah kakinya. "Saya mohon pamit Bu, sudah malam. Terima kasih Bu, sudah mengizinkan saya untuk main ke sini. Pamit nggih Bapak dan Ibu." pamitnya halus sembari menundukkan sedikit badannya untuk mengganti menjabat tangan kepada kedua orang tua Bulan itu.


"Ya ya Mas ... hati-hati di jalan. Lain kali kalau mau main lagi silakan. Yang penting gak usah membawa oleh-oleh, Mas. Makasih juga sudah menghibur Tika di sini." sahut Bu Sundari.


Usai kepergian Bintang, mereka semua lantas masuk ke dalam rumah.


"Bintang anak yang baik ya Bulan. Sopan, ramah, dan juga perhatian sama Tika. Ibu lihat anaknya juga tulus." ucap Bu Sundari.


Sementara Pak Hartono justru tertawa mendengar istrinya memuji-muji sosok Bintang itu. "Tapi memang, Bapak juga melihat kalau Bintang adalah pemuda yang baik. Tulus juga."


Mendengar penilaian kedua orang tuanya kepada Bintang, Bulan tiba-tiba berceletuk. "Bintang baru main ke sini beberapa kali aja, Bapak dan Ibu udah muji-muji dia, kalau dia main ke rumah sejak dulu bisa-bisa Bintang langsung dijadikan menantu sama Bapak dan Ibu." ucap Bulan tentunya sembari bercanda.


"Sayangnya kami hanya punya satu anak perempuan, Nduk ... Kalau punya anak yang lain, kami akan melamar Bintang untuk putri kami." sahut Bu Sundari dengan ucapan yang terdengar serius.


"Akan tetapi, jodoh itu rahasia Illahi, kalau jodoh mau bagaimana caranya, bagaimana jalannya, pasti bersatu." ucap Pak Hartono dengan yakin. "Sama seperti Bapak dan Ibumu ... dulu Ibumu ini dijodohkan orang tuanya dengan Marinir Angkatan Laut tetapi karena tidak jodoh ya tidak bersatu. Jejodohannya sama Bapak, ya ada saja cara Yang Kuasa untuk mendekatkan kami berdua. Iya kan Bu?"


Bu Sundari itu tersenyum sembari mengangguk. "Benar Pak. Jodoh itu rahasia Illahi. Jika benar jodoh, Tuhan punya seribu satu cara untuk mendekatkan. Makanya Nduk, didoakan jodohmu. Sekarang kamu dekat dengan Surya. Doakan, minta tanda sama Tuhan apa dia benar-benar jodoh yang tepat buat kamu. Bawa namanya dalam munajatmu. Karena jodoh yang dari Tuhan itu langgeng, menjadi teman sepanjang usia." nasihat Bu Sundari kepada putrinya itu.

__ADS_1


"Nggih Pak ... Bu ... sudah pasti Bulan selalu mendoakan Surya di sana." jawab Bulan dengan mantap kepada kedua orang tuanya.


__ADS_2