Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Pria yang Baik di Mata Orang Tua


__ADS_3

"Karena sudah malam, saya pamit nggih Bapak dan Ibu ...." pamit Bintang kepada kedua orang tua Bulan.


"Kok terburu-buru, enggak mampir dulu?" tanya Pak Hartono kepada teman anaknya itu.


Bintang pun sedikit membungkukkan badannya. "Lain kali main ke sini lagi, Pak. Matur nuwun nggih Pak, sudah boleh ngajakin Bulan main." ucap Bintang dengan begitu sopan kepada kedua orang tua Bulan.


"Iya Mas ... sama-sama. Hati-hati di jalan." sahut Pak Hartono.


Setelah itu, Bintang menatap Bulan sejenak, pria itu memberikan senyuman dan ucapan kata pamit kepada gadis itu. "Aku pulang ya Bulan...." pamitnya dengan singkat kemudian pria itu berbalik dan mulai berjalan meninggalkan kediaman Bulan.


Akan tetapi kali ini, Bulan turut mengantarkan Bintang hingga sampai ke depan pintu gerbangnya. Tentu saja di dalam hati, Bintang pun tersenyum. Gadis yang dia cintai benar-benar gadis yang baik dan juga sopan. Tidak salah jika Bintang menjatuhkan hatinya kepada Bulan.


Begitu sampai di depan pintu gerbang, Bintang berbalik dan menatap Bulan. "Terima kasih buat hari ini. Aku pamit ya ... segera istirahat, kamu pasti capek." ucapnya.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Makasih juga ya Bin...." ucap gadis itu yang juga berterima kasih kepada Bintang.


"Sama-sama ... aku pamit ya."


Usai berpamitan, Bintang pun masuk ke dalam mobilnya kemudian dia menyalakan mesin mobilnya dan membuka kaca jendela mobil, lalu melambaikan tangannya kepada Bulan. "Pamit ya...." ucapnya sembari berlalu pergi.


Setelah itu, Bulan kembali menutup pintu gerbangnya dan kembali ke dalam rumah. Di hadapannya sekarang ini nampak kedua orang tuanya yang tentunya ingin bertanya banyak hal kepada putrinya itu. Akan tetapi, karena masih dalam situasi pandemi, Bulan memilih masuk ke dalam, membersihkan dirinya terlebih dahulu dan setelah bersih barulah dia bergabung dengan Bapak dan Ibunya yang masih duduk-duduk di teras rumahnya.

__ADS_1


"Jadi seharian dari mana saja, Bulan?" tanya Bu Sundari kepada putrinya itu.


"Tadi ke Air Terjun Kedung Kayang, Bu ... tempatnya bagus banget. Latarnya Gunung Merapi, terlihat jelas banget dari Air Terjun Kedung Kayang." ceritanya kepada sang Ibu.


Bu Sundari pun mendengarkan cerita dari putri semata wayangnya itu dengan rasa penuh ingin tahu. "Main jauh sekali sampai Kedung Kayang. Yang penting hati-hati. Ke mana-mana itu selalu hati-hati dan waspada." sahut Ibunya.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Tentu Bulan berhati-hati kok Bu." ucapnya.


Suasana malam itu tiba-tiba saja menjadi hening, lantas Pak Hartono sejenak berdehem yang membuat Bu Sundari dan Bulan sama-sama menatapnya.


"Kalau Bapak pikir-pikir dan Bapak rasakan, kenapa Bintang ini adalah sosok yang baik. Pribadinya tenang dan sabar." ucap Pak Hartono dengan tiba-tiba.


Kedua orang tua Bulan yang sama-sama menilai Bintang dengan positif itu benar-benar membuat Bulan tercekat. Menurutnya, kedua orang tuanya memang tidak terang-terangan menilai orang lain, tetapi kali ini kedua orang tuanya justru menilai Bintang sebagai sosok yang positif.


"Menurut kamu juga kan Bulan? Mas Bintang itu sosok yang baik, tenang, dan penyayang?" tanya Bu Sundari secara tiba-tiba kepada Bulan.


"Ah ... iya Bu. Bintang memang teman yang baik kok." jawab Bulan sembari menggigit bibir bagian dalamnya.


Dalam benak Bulan, dia sesungguhnya tidak menyangka bahwa kedua orang tuanya akan sependapat bahwa Bintang adalah pria yang baik. Akan tetapi, seketika Bulan teringat dengan momen saat pria itu menciumnya. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali.


Dalam diam, Bulan merasakan bagaimana bibir dan lidah keduanya yang saling mengecup dan merasai satu sama lain. Terkhusus saat Bintang menghentikan ciuman dan berkata tidak ada adegan lain selain ciuman, hati Bulan terasa berdegup begitu cepat.

__ADS_1


Balam benaknya, Bulan merasa bahwa Bintang adalah pria yang mampu menahan dirinya. Hatinya pun tiba-tiba teriris perih. Saat kini dia merasakan cinta yang begitu besar yang dimiliki Bintang. Hatinya dalam teremas-remas lantaran dia berada di dua sisi.


Melihat ekspresi Bulan yang tiba-tiba hanya diam, Bu Sundari kemudian kembali melontarkan pertanyaan. "Menurut kamu, Bintang dan Surya itu secara karakter, baik mana Nduk?"


Pertanyaan dari Bu Sundari yang tentu saja membuat Bulan tidak bisa menjawabnya. Surya, adalah pria yang telah lama bersamanya. Selama enam tahun keduanya menjalin hubungan. Sementara, Bintang adalah pria yang begitu baik dan tulus. Saat Bulan tengah menjadi pejuang negatif, Bintang lah yang selalu mengirimkan perhatian dan juga datang setiap hari. Memandang dari jauh, berkabar melalui panggilan telepon, dan juga melambaikan tangan saat berpisah. Semua memori itu begitu berbekas di dalam hati Bulan.


"Menurut Ibu sendiri bagaimana?" karena tidak bisa menjawab, Bulan justru kembali bertanya kepada Ibunya.


"Lha kok malahan tanya balik sama Ibu... ya menurut Ibu, keduanya baik. Akan tetapi, kenapa semakin lama diperhatikan, Bintang itu lebih menarik. Sosoknya tenang, sopan, penyayang, ya seperti itu kalau menurut Ibu."


Jawab Bu Sundari dengan mata yang nampak menerawang, mencoba membandingkan Surya dengan Bintang.


Mendengar istrinya yang memuji Bintang, Pak Hartono pun mulai mengeluarkan suaranya. "Jangan dimasukkan ke dalam hati, Nduk... orang hidup itu 'wang sinawang' artinya kita saling memandang satu dengan yang lain. Ini hanya penilaian Ibumu. Akan tetapi, kalau Bapak sendiri merasa ya keduanya sama-sama baik, tetapi memang Bintang keliatan lebih sabar dan pengertian. Selain itu dia juga tulus. Andai saja Bapak masih memiliki anak gadis, sudah pasti Bapak mau mempunyai anak menantu seperti Bintang."


Bulan hanya tersenyum dan memikirkan rupanya secara tidak langsung, Bintang telah menjadi sosok idaman untuk dijadikan menantu oleh Bapak dan Ibunya.


"Lha apa Bulan jadiin sama Bintang saja Pak, Bu? Kok keliatannya Bapak dan Ibu sama-sama suka sama Bintang." ucap Bulan sembari tertawa.


Walaupun tawanya tidak tulus, karena di dalam hatinya pun Bulan merasa bimbang dan juga gamang.


"Jodoh itu tidak ada yang tahu, Nduk ... terkadang kita lama menjalin kasih dengan A, tapi pada akhirnya kita bisa jadinya dengan yang B, atau malahan yang D. Semua itu teka-teki Sang Pencipta. Kalau Bapak sendiri, asalkan yang meminangmu adalah pria yang baik, penyayang, mampu menerimamu apa adanya, menerima baik semua kekurangan dan kelebihanmu. Sudah pasti Bapak akan merestui. Bapak itu berpikiran terbuka karena Bapak sendiri tahu bahwa kamu lah yang menjalani, Bulan." ucap Pak Hartono memberikan petuah dan nasihatnya kepada Bulan.

__ADS_1


__ADS_2