
Hari terus berganti. Bahkan minggu juga telah berganti minggu. Telah 10 hari lamanya, Bapak Kartika berpulang ke rahmatullah. Dan, kini Bulan mendapat telepon bahwa Ibunya Kartika telah negatif dan diperbolehkan pulang ke rumah.
Sama seperti pasien covid lainnya, Ibu Kartika diantar pulang dengan menggunakan ambulance. Setelah 17 hari lamanya dirawat di Rumah Sakit Dr. Sardjito akhirnya Ibunya Kartika diperbolehkan untuk pulang.
Sore hari, usai Kartika telah mandi Bulan mengantarkan muridnya itu untuk pulang ke rumahnya. Tidak lupa Bulan membawakan nasi putih, sayuran, dan lauk dalam satu rantang untuk makan malam Tika dan juga ibunya.
Begitu telah sampai di rumahnya, Kartika menghambur ke pelukan ibunya.
"Ibu ... Tika kangen." Ucap Tika sembari memeluk erat ibunya.
Sementara ibunya justru menangis. "Ibu juga kangen kamu, Tik...." ucapnya sembari air matanya yang terus berderai.
Bulan hanya duduk dan memberikan waktu kepada Tika dan ibunya untuk melepas kerinduan. 17 hari tentu adalah waktu yang lama bagi Tika dan ibunya untuk berpisah. Terlebih saat mereka kembali berkumpul, suasana rumah tidak lagi sama.
Tentu saja Bulan tahu pasti perasaan ibunya Kartika, di satu sisi dia bahagia karena telah sembuh dan juga bertemu dengan Kartika. Akan tetapi, sang kepala keluarga telah berpulang ke rumah Allah tentu adalah duka yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata.
"Tika, masuk ke kamar dulu ya. Ibu mau bicara sama Bu Guru." Ucap Ibunya Kartika itu.
Patuh. Kartika pun menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah Tika masuk di dalam kamar, mulailah ibunya Kartika berbicara dengan Bulan.
"Terima kasih nggih Bu Guru, sudah mau menolong saya. Bu Guru sudah mau merawat Tika selama saya berada di Rumah Sakit." ucap Ibunya Kartika kepada Bulan.
"Sama-sama Bu, sesama manusia harus saling menolong. Lagipula saya juga senang bisa merawat Tika." Ucap Bulan dengan tulus.
__ADS_1
"Akan tetapi rumah ini tidak akan lagi sama, Bu... Bapaknya Tika sudah berpulang. Tuhan lebih menyayangi Bapak, sehingga Tuhan memanggilnya pulang lebih cepat. Saya ingat sekali, hari terakhir Bapak berada di Rumah Sakit, dia sudah merasa lelah, ventilator sudah terpasang sebagai alat bantu pernapasan. Akan tetapi, karena ruangan kami berlainan. Saya pun juga hanya tahu dari perawat bahwa suami saya sudah berpulang. Hati ini terasa pedih, Bu. Bapaknya Tika pergi tanpa meninggalkan pesan, bahkan melihat jenazahnya secara langsung pun saya tidak bisa. Hanya potret terakhir yang diberikan oleh perawat." Kenang ibunya Kartika dengan berderai air mata.
"Sungguh saya terkadang tidak percaya, begitu cepatnya Bapaknya Tika meninggalkan kami berdua. Tika menjadi anak yatim di usianya yang baru 9 tahun. Saya pun menjadi janda." Ucap ibunya Kartika dengan pilu.
Bulan hanya mampu mendengarkan setiap cerita dari Ibunya Kartika. Dia tidak bisa berbuat banyak, tetapi paling tidak dia memberikan telinganya untuk mendengarkan cerita dari Ibunya Kartika. Paling tidak ada telinga yang mau mendengarkan keluh kesahnya.
Kendati demikian Bulan pun turut terenyuh dengan kejadian yang dialami oleh keluarga Kartika. "Mohon sabar ya Bu. Tuhan memberi ujian untuk hamba-Nya, supaya kita semakin kuat dan kita terus bersandar kepada-Nya. InsyaAllah ... beliau di sana sudah tenang karena Allah lah yang memanggil umat-Nya untuk pulang. Kuat nggih Bu." Perkataan Bulan untuk menenangkan ibunya Kartika.
Empati yang besar hingga Bulan pun tak kuasa menahan air matanya. Ya, Bulan akhirnya kembali menangis melihat kesedihan yang saat ini tengah dialami keluarga Kartika.
"Apakah Bu Guru tahu, di mana suami saya dimakamkan? Bolehkah saya meminta tolong untuk diantarkan ke sana?" Tanya ibunya Kartika kepada Bulan yang ingin mengunjungi makam suaminya.
Bulan pun menyanggupi. "Baik Bu, besok saya akan mengantar Ibu ke makam beliau."
Keesokan harinya, siang hari usai sekolah, Bulan mendatangi kembali rumah Tika. Sebagaimana janjinya, dia akan mengantarkan Ibunya Tika ke pusara suaminya.
Namun, dalam perjalanan menuju rumahnya Tika, Bulan justru kembali berpapasan dengan Bintang.
"Bulan, kamu mau kemana? Tika sudah pulang?" tanya pria itu yang tengah berjalan dari sebuah mini market yang berada di ujung jalan.
Bulan pun menghentikan sejenak sepeda motornya. "Eh, Bin ... iya, aku mau ke rumahnya Tika. Ibunya kemarin sudah pulang dari Rumah Sakit. Hari ini aku mau mengantarkannya ke makam suaminya." sahut Bulan.
Bintang pun nampak menganggukkan kepalanya. "Biar aku antar ya. Jarak dari sini ke pemakaman lumayan jauh, tunggu aku aja di rumahnya Tika. Aku pulang ambil mobil dulu." Bintang pun lantas berjalan cepat dan pulang ke rumahnya untuk mengambil mobilnya.
__ADS_1
Setelah sekian menit, Bintang sudah datang ke rumah Tika dan telah siap dengan mobilnya. Pria itu keluar dari mobilnya dan menemui Bulan yang sedang berada di rumah Tika.
"Siang ... ayo, Bulan biar aku antar." Sapanya dari depan rumah Tika itu.
Bulan, Tika, dan ibunya pun keluar dan mereka bergegas memasuki mobil. Bintang lah yang mengemudikannya dan segera melajukan mobilnya ke tempat pemakaman.
Kurang lebih 20 menit perjalanan dan kini mereka berempat berjongkok di atas pusara Bapaknya Tika.
Baru saja sampai, ibunya Kartika menangis. Pemandangan penuh haru tergambar jelas di sana. Dia menabur bunga di pusara yang belum sepenuhnya mengering itu dengan berlinangan air mata. Kemudian dengan tangisan yang kian pecah, dia menyandarkan kepalanya di atas nisan yang tertanam di sana.
"Kenapa Bapak berpulang lebih dulu dan meninggalkan kami." Tangisannya yang terdengar begitu pilu dan menyayat hati.
Pun demikian dengan Tika. Anak kecil itu lagi-lagi tak kuasa kembali mengunjungi Bapaknya dalam keadaan yang sangat berbeda. Tika hanya mampu menangis sembari berjongkok di sisi ibunya.
Bulan yang turut berjongkok itu, hanya mampu merasakan pilu dan sesak di dalam hatinya. Kesedihannya sedikit reda, kala Bintang menupuk pundaknya.
"Bulan, lebih baik kita tunggu di sana. Berikan mereka waktu terlebih dahulu." Ucap Bintang dengan lirih.
Bulan pun menganggukkan kepalanya dan perlahan berdiri, lalu dia berjalan menjauh bersama Bintang. Memberikan waktu bagi Tika dan ibunya untuk menyampaikan isi hatinya di depan pusara orang yang dicintainya.
"Terima kasih Bintang ... kamu selalu menolongku dan Tika." Ucap Bulan sembari menyeka linangan air mata di sudut matanya.
"Sama-sama ... aku senang bisa membantumu dan Tika. Sudah, jangan bersedih lagi. Kamu terlalu banyak menangis, Bulan." Bintang hanya memperingatkan temannya itu lantaran sudah banyak menangis.
__ADS_1
Wajah Bulan nampak tersenyum. "Aku sendiri gak kebayang dengan momen seperti ini, Bin... tetapi realita di depan mata tidak bisa aku hindari begitu saja. Jujur aku pun takut, Bin ... tetapi, aku hanya menguatkan diriku untuk melihat apa yang saat ini terjadi di depan mataku."