Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Bentuk Kepedulian


__ADS_3

Hari ini Bulan kembali mengajar di Sekolah Dasar tempatnya mengajar para siswa. Kendati para siswa menjalankan Sekolah daring (School From Home), tetapi Bulan tetap masuk ke sekolah dan mengajar dari sana.


Baru saja Bulan memasuki ruang guru, Bulan dipanggil oleh Kepala Sekolah yang bernama Bapak Budi itu.


"Mbak Bulan, bagaimana sehat?" sapanya kepada Bulan pagi itu.


Merasa bahwa Kepala Sekolah tengah menyapanya, Bulan pun berdiri. "Pagi Pak ... ya, saya sehat. Ada apa Pak?" tanya Bulan dengan sopan kepada Kepala Sekolahnya itu.


"Jadi begini Mbak Bulan, ada salah satu orang tua siswa yang positif Covid dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Dr. Sardjito. Mbak Bulan, kenal dengan siswa kelas 3 bernama Kartika?" tanya Pak Budi itu kepada Bulan.


Sejenak Bulan nampak berpikir dan mengingat siswa kelas 3 yang bernama Kartika itu. Selang beberapa menit akhirnya Bulan pun ingat. "Ya Pak, saya ingat ... jadi bagaimana Pak dengan Kartika?" tanya Bulan dengan raut wajah cukup khawatir.


"Ayah dan Ibunya positif covid, Mbak ... sementara Kartika hanya sendirian di rumah. Neneknya jauh ada di desa. Saya jadi kepikiran." cerita Pak Budi itu.


Pun demikian dengan Bulan, dia juga merasa iba dengan muridnya yang harus terpisah dengan kedua orang tuanya sekaligus karena positif Covid. Sementara Kartika yang telah dilakukan tes usap (swab) hasilnya non-reaktif sehingga Kartika di rumah seorang diri. Sementara kedua orang tuanya langsung dibawa untuk perawatan dan isolasi di Rumah Sakit Dr. Sardjito.


"Sepulang mengajar, saya akan menengok Kartika, Pak. Boleh saya minta alamatnya Pak? Siang ini saya akan ke sana." ucap Bulan.


Bapak Kepala Sekolah pun memberikan alamat rumah Kartika, tidak lupa Bapak Kepala Sekolah menitipkan buah, roti, dan susu untuk muridnya.


Bulan memulai mengajar anak-anak dengan berbekal laptop dan sambungan internet. Tidak lupa dengan handphone yang selalu aktif karena banyaknya orang tua siswa yang mengirimkan foto tugas atau sekadar bertanya tentang pelajaran.


Usai seluruh jam mengajar selesai, Bulan langsung bergegas mencari rumah muridnya yang bernama Kartika itu. Dengan mengendarai sepeda motor maticnya, Bulan mencari rumah Kartika.


Hingga beberapa menit berlalu, Bulan telah tiba di rumah Kartika. Nampak beberapa warga dan Linmas berjaga di depan rumah kecil bercat hijau itu. Dengan hati-hati dan sopan, Bulan menyapa para warga dan Linmas di situ.


"Assalamualaikum ... permisi, saya ingin menemui Kartika. Saya adalah gurunya." perkenalan Bulan kepada warga dan Linmas yang berada di situ.

__ADS_1


Nampak seorang Bapak dengan mengenakan seragam Linmas berwarna hijau berdiri bertanya kepada Bulan. "Benarkah Anda gurunya?"


"Benar Pak, saya gurunya Kartika. Saya datang ke sini untuk menjenguk Kartika, Pak...."


Setelah melakukan cek suhu, memakai hand sanitizer, dan mengecek data diri, akhirnya Bulan diperbolehkan menemui Kartika.


"Kartika ... ini Ibu Bulan." sapanya begitu memasuki rumah muridnya itu.


Betapa hancurnya hati Bulan, melihat Kartika yang tengah menangis di sudut kamarnya. Dengan segera, Bulan melangkah dan memeluk anak kecil berusia 9 tahun itu.


"Kartika ... ini Bu Guru, Sayang." ucapnya yang mulai berderai air mata memeluk muridnya itu.


Sama halnya dengan Kartika, dia segera memeluk Bulan dan menangis terisak di dalam pelukan Ibu Gurunya itu.


"Bapak dan Ibu, Bu Guru...."


"Ada Bu Guru di sini Kartika...." ucapnya sembari memeluk muridnya itu.


Selebihnya Bulan tidak bertanya, dia memberi waktu pada Kartika untuk menangis. Membiarkan gadis kecil menangis hingga lega. Bulan hanya mengelus lembut rambut sebahu milik anak didiknya itu.


Puas menangis, Kartika pun kini bisa lebih tenang dan mulai sedikit tersenyum.


"Tika takut Bu Guru ... tadi Bapak dan Ibu dijemput Ambulance dan dibawa ke Rumah Sakit. Tika takut terjadi apa-apa dengan Bapak dan Ibu karena virus Corona." ceritanya sembari berderai air mata.


Bulan menggenggam tangan Kartika. "Tika jangan takut ya ... berdoa kepada Allah. Semoga Bapak dan Ibu Tika segera sehat, segera pulih, sehingga mereka kembali pulang ke rumah bersama Tika lagi ya."


Kartika pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih Bu Guru karena sudah menjenguk Tika di sini."

__ADS_1


Bulan lantas tersenyum. "Kita duduk di ruang tamu yuk, Bu Guru bawakan makanan untuk Tika." Bulan berdiri dan menggandeng tangan muridnya dan membawanya duduk di ruang tamu. "Tika, pasti belum makan kan?" lagi tanya Bulan kepada Kartika.


Anak kecil itu hanya menggelengkan kepalanya. "Belum Bu Guru ... Tika belum sempat makan, karena Bapak dan Ibu keburu dijemput Ambulance dan dibawa ke Rumah Sakit." ceritanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Dengan cepat, Bulan mengeluarkan susu kalengan dan roti untuk Tika. "Kamu makan ini dulu ya Tika ... Bu Guru mau telepon ke rumah dulu ya?"


Terlebih dulu, Bulan membukakan susu kalengan dan menyerahkan roti untuk Kartika. Setelahnya, Bulan menghubungi Bapaknya.


Bapak


Calling


"Halo ... Assalamualaikum Bapak, ini Bulan." sapanya kepada Bapaknya begitu sambungan telepon itu telah tersambung.


"Wassalamu'alaikum Bulan ... ada apa?" jawab Bapaknya di seberang sana.


"Bapak, ini Bulan mengunjungi murid Bulan yang orang tuanya keduanya positif Covid dan dirawat di Rumah Sakit Dr. Sardjito. Jika Bapak berkenan, apakah bisa Bulan membawa murid Bulan ini menginap terlebih dulu di rumah kita? Tidak ada yang merawatnya Pak, karena Ibu dan Bapaknya dua-duanya positif Covid." ucap Bulan.


"Pastikan muridnya non-reaktif saja Bulan, kamu boleh menolongnya. Bapak justru bersyukur karena hatimu mudah tersentuh dan menolong sesama. Kita rawat bersama muridmu itu. Bapak dan Ibu tidak keberatan."


"Terima kasih Bapak untuk izinnya." ucap Bulan berterima kasih kepada Bapaknya.


Usai melakukan panggilan telepon, Bulan lantas kembali duduk di samping Kartika. "Tika, kalau selama Bapak dan Ibu kamu di Rumah Sakit, kamu ikut Bu Guru dulu apa mau? Pulang ke rumah Bu Guru. Di sini tidak ada yang merawat Tika. Nanti kalau Bapak dan Ibunya Tika sudah sembuh, Tika boleh kembali ke rumah Tika sendiri. Apa Tika mau?"


Kartika yang masih memakan rotinya sontak melihat Bulan. "Terima kasih banyak Bu Guru. Bila tidak merepotkan, Tika mau ikut bersama Bu Guru. Apa Tika tidak boleh menjenguk Bapak dan Ibu di Rumah Sakit, Bu?" tanya anak kecil yang begitu polos itu.


Bulan segera merangkul bahu muridnya itu. "Selama Bapak dan Ibu di Rumah Sakit, Kartika tidak boleh menjenguk karena penyakit ini menular. Kita doakan bersama ya, Bapak dan Ibu segera sembuh. Allah sembuhkan, Allah pulihkan, sehingga nanti Tika bisa kembali berkumpul bersama Bapak dan Ibu ya...." ucap Bulan dengan sendu sembari menguatkan hati muridnya itu.

__ADS_1


__ADS_2