Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Penjelasan Sederhana


__ADS_3

Telah beberapa hari berlalu, Bulan masih melanjutkan tugasnya sebagai pengajar dan saat di rumah dia akan menemani Kartika. Kedua orang tua Tika masih berada dalam perawatan intensif di Rumah Sakit. Kendati demikian, Ibunya masih sering memberikan kabar perihal perkembangan kesehatannya. Handphone menjadi sarana bagi Tika dan Ibunya untuk saling memberikan kabar.


Seperti malam ini, ketika usai makan malam Kartika kembali menelpon Ibunya. Anak berusia 9 tahun ini begitu merindukan sosok kedua orang tuanya. Melakukan panggilan video adalah salah satu cara yang bisa Kartika lakukan untuk sekadar menyampaikan kerinduan.


Ibu


Berdering


"Halo Ibu ... bagaimana kabar Ibu hari ini?" tanya Tika ketika sambungan teleponnya terhubung.


"Ya Tika ... Alhamdulillah Ibu sudah semakin membaik. Doakan Ibu dan Bapak terus sehat, sehingga kita bisa berkumpul lagi." jawab Ibunya dengan menahan tangis lantaran telah sekian hari berpisah dari anaknya.


Pun demikian dengan Kartika, awal mula saat kedua orang tuanya dibawa ke Rumah Sakit anak kecil ini selalu menangis. Akan tetapi, beberapa hari berlalu Kartika terlihat lebih kuat dan kembali ceria. Kartika mulai beradaptasi tinggal di rumah Bulan. Terkadang anak kecil itu masih menangis dan menanyakan kabar kedua orang tuanya. Bersyukur Bulan dan kedua orang tuanya adalah orang-orang yang baik, yang mau menolong Kartika dan merawatnya.


"Iya Bu ... Tika selalu berdoa untuk Bapak dan Ibu. Bu Guru juga turut berdoa bersama Tika. Kami mendoakan Bapak dan Ibu segera pulih dan sehat." jawab Tika dengan senyuman di wajahnya.


Di sana Ibu Kartika nampak mengulas senyuman. Mendengar anaknya yang menyebut nama mereka dalam doa. Sebagai orang tua, Ibunya Tika merasa hangat dan bahagia karena anak semata wayangnya membawa namanya dalam doa.


"Terima kasih ya Tika dan Bu Bulan yang sudah mendoakan kami. Terima kasih juga karena sudah mau direpotkan dengan mengurus Tika." ucap Ibunya Kartika yang justru nampak menangis.

__ADS_1


"Tidak merepotkan kok Bu. Saya justru senang bisa menolong Ibu. Jangan banyak pikiran ya Bu, fokus untuk kesembuhan Ibu. Bapak sendiri bagaimana kabarnya Bu?" tanya Bulan karena sejak melakukan video call Bapaknya Tika memang tidak pernah terlihat.


"Sebenarnya Bapaknya Tika kondisi menurun Bu. Drop. Jadi dipindahkan ke ruangan lain dan mengenakan ventilator (mesin yang berfungsi untuk menunjang atau membantu pernapasan)." ucap Ibunya Tika dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi.


Mendengar kabar bahwa kondisi Bapaknya Tika tengah drop, jujur Bulan pun khawatir. Apakah mungkin terjadi sesak nafas sehingga kondisi Bapaknya Tika justru turun.


Bulan pun menghela nafasnya. "Kami doakan Bapak segera membaik ya Bu. Kesehatannya berangsur-angsur membaik. Ibu juga tetap semangat. Jangan menyerah supaya imun Ibu tidak terjaga. Tetap berdoa dan bersemangat ya Bu." ucap Bulan yang mencoba memberikan motivasi bagi Ibunya Kartika.


Di sana, Ibunya Kartika pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak ya Bu. Terima kasih doanya, terima kasih karena sudah berkenan merawat Tika di saat kami justru sedang berada di Rumah Sakit."


Bulan pun tersenyum. "Sama-sama Bu. Segera sehat nggih Bu."


Setelah panggilan telepon telah usai, Tika lantas menatap wajah Bu Gurunya itu.


"Bu Guru, kenapa orang-orang bisa terkena Corona?"


Bulan pun menatap wajah Tika. "Corona itu virus Tika. Virusnya hampir seperti orang yang terkena influenza dan menular. Karena itu, supaya tidak tertular Corona harus menjaga kebersihan, menggunakan masker saat keluar rumah, mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir selama 20 detik, dan menjaga jarak."


Tika nampak antusias mendengarkan penjelasan Bulan itu.

__ADS_1


"Bagaimana Bapak dan Ibu bisa sembuh Bu?" lagi anak kecil itu bertanya kepada Bulan.


"Harus dirawat Tika kalau bergejala berat, tapi mereka yang bergejala ringan bisa melakukan karantina mandiri di rumah. Jadi Bapak dan Ibu di Rumah Sakit sana sedang dirawat, diberi obat, diberi vitamin, diberikan makanan sehat dan bergizi supaya lekas sembuh." lagi Bulan menjelaskan kepada Tika.


Tika nampak menganggukkan kepala mendengar penjelasan Bulan. "Kenapa ada Corona ya Bu? Lebih enak tahun lalu, saat tidak ada Corona. Tika bisa pergi ke sekolah, bermain bersama teman-teman, pergi ke tempat-tempat wisata. Sekarang Tika hanya bisa di rumah. Yang lebih sedih, orang tua Tika juga sekarang terkena Corona. Tika seperti ditinggalkan seorang diri. Padahal Tika sangat suka bisa berkumpul dengan Bapak dan Ibu di rumah." ucap Tika dengan mata yang nampak berkaca-kaca.


Sangat wajar bagi anak kecil seusia Tika merasakan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Terkadang orang dewasa pun mengeluh dengan kondisi selama masa Corona, terlebih bagi anak-anak. Mereka yang baru merasa senang bermain bersama teman-teman seusianya, bersekolah tatap muka, bertemu teman-teman baru, kini semuanya itu harus diakhiri. Semua kegiatan harus dilakukan di dalam rumah. Dampak masa pandemi juga menyerang anak-anak secara psikis dan mental. Ada kekosongan dalam diri anak-anak karena perubahan pola hidup dan aktivitas selama masa pandemi Covid-19.


Bulan mengusap lembut rambut Tika. "Sabar ya Tika ... semua ini akan berlalu. Semoga obat atau vaksin untuk Corona segera ditemukan ya. Sekarang lebih aman berada di dalam rumah. Jangan lupa juga doakan Bapak dan Ibu semoga segera sehat ya. Tuhan hanya sejauh doa kita. Berseru memanggil nama-Nya. Tuhan tidak pernah jauh dari umat-Nya. Yang penting kita berusaha dan berdoa ya."


Tika pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak Bu Guru. Tika mau menjadi anak yang baik, dan terus berdoa supaya Bapak dan Ibu Tika segera sembuh."


"Pasti Tika ... karena sekarang sudah malam, Tika tidur ya. Besok jangan pagi dan kembali sekolah ya."


Usai puas berbicara dengan Bulan, Tika pun segera mengistirahatkan dirinya untuk tidur.


Sementara itu, Bulan beranjak dari tempat tidurnya dan dia mengambil handphone yang berada di laci nakas. Saat hendak membuka aplikasi pesan di handphonenya, Bulan nampak kaget yang diberikan oleh Ibunya Tika yang mengabarkan bahwa saturasi oksigen Bapaknya Tika semakin turun. Saat ini Bapaknya Tika kritis dan telah dipasangkan ventilator sebagai alat bantu pernafasannya. Sungguh sebuah kabar yang tidak pernah Bulan bayangkan sebelumnya. Suasana hati Bulan tiba-tiba kalut membayangkan kondisi Bapaknya Tika yang sedang dirawat di Rumah Sakit.


Dalam hati Bulan begitu sedih dan berdoa kiranya Allah menyembuhkan Bapaknya Tika dengan segera. Kondisi kritis yang dialaminya akan segera berlalu. Saturasi oksigennya akan segera naik dan kembali pulih.

__ADS_1


__ADS_2