
Usai mendatangi pihak wedding organizer, Surya dan Bulan melanjutkan perjalanan mereka menuju butik yang sebelumnya telah dipesan oleh Bulan untuk membuatkan sebuah kebaya berwarna putih yang rencananya akan Bulan kenakan saat Ijab Qobul di hari pernikahannya dengan Surya nanti.
Dengan menahan sesak di dada, Bulan mendatangi sebuah butik bernama Oemah Kebaya yang berada di daerah Kota Gede, Jogjakarta.
Dengan sopan, Bulan mengetuk pintu dan mengucapkan salam kepada pemilik butik itu.
"Assalamualaikum Bu Rose, saya Bulan, Bu...." sapanya kepada pemilik Oemah Kebaya, seorang wanita paruh baya yang bernama Bu Rose itu.
Bu Rose pun mempersilakan Bulan dan Surya untuk masuk. "Monggo - monggo, silakan masuk Mbak Bulan dan Mas Surya..." ucapnya sembari membukakan pintu untuk Bulan dan juga Surya.
Bulan dan Surya pun masuk ke dalam butik itu, dan memilih duduk di kursi yang sengaja disedikan bagi para pelanggan Oemah Kebaya itu.
"Jadi bagaimana Mbak Bulan?" tanya Bu Rose yang memiliki butik tersebut dengan tersenyum kepada Bulan. "Kapan pernikahannya? Kondisinya sedang seperti ini, Mbak. Angka kasus orang yang terinfeksi corona naik terus."
Bulan pun tersenyum, walau pun saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dengan sopan, Bulan pun berbicara kepada Bu Rose. "Bu, saya mau ambil kebayanya Bu..." ucap Bulan sembari menautkan kedua tangannya.
"Apa pernikahannya jadi dilangsungkan? Maaf nih Mbak Bulan, bukan maksud saya. Akan tetapi, sekarang kondisi sedang seperti ini. Warga dilarang berkerumun." ucap Bu Rose dengan penuh hati-hati, ia sadar mungkin saja di situasi seperti ini banyak pasangan yang membatalkan rencana pernikahan mereka.
Bulan pun tersenyum kecut. "Pernikahannya kami tunda, Bu..." Bulan menjeda sejenak ucapannya. "Nunggu waktu yang tepat, Bu. Mungkin saja saat ini Tuhan Allah memang belum berkenan." Bulan berkata dengan menabahkan sendiri hatinya.
Bu Rose mengangguk-angguk mendengar perkataan Bulan. "Sabar nggih Mbak Bulan, semoga virus corona ini gak akan lama. Sehingga rencana pernikahan Mbak Bulan bisa dilangsungkan ke depannya."
__ADS_1
"Amin...." Surya turut mengamini ucapan Bu Rose.
Akan tetapi, di sisi lain Bulan hanya tertunduk dan tersenyum lesu di sana.
"Yang sabar juga ya Mas... Saya yakin yang mengambil keputusan ini bukan hanya Mas Surya dan Mbak Bulan. Masih banyak pasangan lain di luar sana yang sedang merencanakan ulang hari bahagia mereka." lagi Bu Rose berkata dan ucapannya itu diangguki Surya dan juga Bulan.
Tidak lama kemudian, Bu Rose masuk terlebih dahulu ke dalam ruangannya. Meninggalkan Bulan dan Surya yang masih duduk di ruang tamu.
Tidak berselang lama, Bu Rose kembali keluar dengan mendorong sebuah mannequin dengan atasan kebaya berwarna putih dan kain batik dengan corak Sido Mukti melilit indah mannequin tersebut.
Kebaya berwarna putih itu nampak begitu bagus dengan model kutu baru, hiasan payet yang menyebar di sekitar dada hingga lengan. Membuat payetan dengan pola bunga-bunga yang begitu indah. Sementara kain jarik dengan Sido Mukti itu memang sengaja dipilih karena corak itu adalah salah satu corak batik yang diperbolehkan untuk dipakai pengantin. Dalam filsafah kebudayaan Jawa yang Adhi luhung, kain batik ini terdiri dari kata "Sido" yang berarti "menjadi" dan "Mukti" yang berarti kehidupan yang makmur dan sejahtera hingga sampai di akhirat. Kain batik ini memang direncakan akan dipakai Bulan pada saat akad nikah nanti. Makna dari kain corak ini adalah kedua pengantin akan memiliki sikap saling pengertian dan menyayangi satu sama lain.
Bu Rose sekilas menatap wajah Bulan, wanita paruh baya itu sangat tahu bahwa Bulan sedang berusaha menahan tangisnya yang bisa pecah kapan pun. Oleh karena itu, Bu Rose kembali mencoba berbicara kepada Bulan dan Surya.
"Jadi ini kebayanya ya Mbak Bulan. Seperti permintaan Mbak Bulan sebelumnya bahwa kebaya ini dijahit dengan model Kutubaru, dan hiasan payet di sekitar dada hingga tangan. Jariknya juga sudah diplisket dan dibuat layaknya sebuah jarik, tetapi ini model rok. Sehingga mudah dipakai, dan nanti usai acara pernikahan pun masih bisa dipakai lagi."
Bulan menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari Bu Rose. Dalam hatinya, gadis ayu itu teriris perih. Angan-angannya melayang membayangkan bagaimana kebaya itu akan sangat indah saat ia kenakan. Membuatnya menjadi layaknya putri kedhaton yang menunggu pinangan dari pria yang dikasihinya.
Beberapa kali pun, Surya menangkap kesedihan di wajah Bulan. Pria itu pun menggenggam tangan Bulan. Seolah memberi gadis itu kekuatan dan semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Bulan pun menganggukkan kepalanya dan mengurai tangan Surya yang masih berusaha menggenggamnya.
__ADS_1
"Kebaya nya bagus banget Bu... Modelnya sesuai apa yang saya mau, payetannya juga bagus." ucap Bulan lirih.
Bu Rose tersenyum. "Tidak apa-apa ya Mbak Bulan... Yang kuat, yang sabar. InsyaAllah kalau kebaya tidak ada kadaluwarsanya, nanti waktu Mbak Bulan dan Mas Surya menikah bisa tinggal langsung dipakai. Sudah tidak perlu menjahit yang baru lagi. Di lain waktu bisa ukurannya berubah, Mbak Bulan bisa kesini lagi, nanti saya di pas kan lagi ukurannya. Gak usah memikirkan harga, karena nanti kalau ingin mengubah ukuran saya gratiskan." ucap Bu Rose dengan tulus.
Bulan pun turut tersenyum. "Terima kasih banyak nggih Bu. Saya banyak berterima kasih sudah dibuatkan kebaya yang cantik ini. InsyaAllah di kemudian hari, kalau pernikahan kami kembali dirundingkan saya tetap memakai kebaya ini Bu. Ini bagus banget, Bu... Saya puas melihatnya."
"Jadi kebaya ini tetap diambil sekarang ya Mbak Bulan?" tanya Bu Rose memastikan.
"Iya Bu, saya ambil saja sekarang ya Bu."
Setelahnya Bu Rose melepaskan kebaya dan kain jarik itu dari mannequin-nya kemudian melipatnya dengan hati-hati dan menaruhnya dalam paper bag.
"Ini kebayanya ya Mbak Bulan. Jangan lupa nanti kalau sudah mau menikah, berikan undangan juga buat saya. Ibu tunggu undangan dari Mbak Bulan dan Mas Surya ya. InsyaAllah dilancarkan semuanya." doanya dengan tulus.
Bulan pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. "Terima kasih banyak ya Bu. Iya, di lain waktu kami akan antarkan undangan buat Ibu. Sehat-sehat ya Bu, kurangi aktivitas di luar rumah." pesan Bulan kemudian ia memilih pamit dan kembali berboncengan dengan Surya untuk kembali ke rumahnya.
"Mau mampir ke mana lagi Bulan? Mumpung aku masih di sini, aku bisa mengantarkanmu." tanya Surya sembari melirik Bulan dari kaca spionnya.
"Pulang aja, udah seharian kita keliling-keliling muterin Jogja. Aku capek, mau istirahat." jawab Bulan.
"Ya sudah, kita langsung pulang. Kamu istirahat. Jangan sedih terus ya...."
__ADS_1