
Setelah perut terisi kenyang dengan Nasi Gudeg dan Teh Hangat yang seolah mengisi kembali tenaga untuk siap menjalani aktivitas seharian, kemudian perlahan Bintang mengemudikan mobilnya keluar dari Sentra Gudeg Wijilin dan menyusuri jalan menuju Desa Wonolelo, Nagrong, Kabupaten Magelang - Jawa Tengah.
Keduanya bersiap menuju salah satu air terjun alami yang berada di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Ketep, Nagrong, Sawangan, Magelang - Jawa Tengah.
Sepanjang perjalanan, kedua beberapa kali terlibat obrolan dan juga terkadang Bulan mengamati pemandangan yang bergerak dari balik kaca jendela mobil yang dia naiki. Namun dapat terlihat bagaimana raut wajah gadis itu terlihat bahagia.
"Mobil kamu kuat enggak Bin, naik sama sana?" tanya Bulan yang bertanya apakah mobil kuat naik ke dataran tinggi, sebab memang Air Terjun Kedung Kayang berada di area pegunungan.
Bulan yang tengah mengemudikan mobilnya pun tersenyum. "Sudah pasti kuat. Kita akan sampai di sana dengan selamat." ucapnya memastikan.
Tidak berselang lama, kini keduanya telah sampai di Air Terjun Kedung Kayang, cukup membayar parkir mobil Rp. 4000 dan membeli tiket masuk seharga Rp. 4000 juga, keduanya lantas turun dan mulai berjalan bersama menuju tempat Air Terjun itu berada.
Sepanjang berjalan kaki, Bulan nampak menghirupi udara segar yang memang baik untuk kesehatan paru-parunya. Berjalan di atas jalan setapak dengan pepohonan yang hijau berdiri di sepanjang kiri dan kanannya, dan suara gemericik dari air terjun begitu terdengar seolah menyapa setiap pengunjung untuk segera merasakan sensasi kesegaran alam yang begitu indah itu.
"Hati-hati Bulan, jalannya mulai licin." ucap Bintang memperingatkan Bulan untuk lebih berhati-hati. Sebab beberapa lumut nampak tumbuh di area jalan setapak dan pengunjung sebaiknya memakai alas kaki yang tidak licin.
Bulan pun mengangguk mendengar peringatkan dari Bintang. Sembari berjalan dan terus memperhatikan langkah kakinya supaya dia tidak sampai jatuh.
Saat mereka harus kembali berjalan, tetapi kali ini mereka harus sedikit menyeberangi sungai kecil dengan bebatuan yang begitu banyak sontak Bintang berjalan terlebih dahulu, pria itu terlebih dahulu menginjak sebuah batu kemudian mengulurkan satu tangannya kepada Bulan.
"Ayo ... batu-batu ini licin, jangan sampai kamu tergelincir." ucapnya dan menunggu Bulan akan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Seolah enggan, Bulan masih diam dan sungkan jika harus menerima uluran tangan dari Bintang. Sungguh, bersama Surya saja, Bulan jarang sekali melakukan kontak fisik. Ajaran dari orang tuanya bahwa seorang gadis Jawa harus pandai menjaga diri, tidak diperbolehkan pegang-pegangan dengan mereka yang berlawanan jenis. Akan tetapi, situasi saat ini memang dia membutuhkan seseorang yang akan menggenggam tangannya dan menyeberangi sungai ini untuk bisa sampai ke Air Terjun.
"Ayo ... tunggu apa lagi?" Bintang masih mengulurkan tangannya dan menunggu Bulan.
Perlahan tangan Bulan pun bergerak dan dia mulai menyerahkan tangannya dalam genggaman tangan pria yang kini berdiri di depannya. Gadis itu menghela napasnya saat Bintang mulai menggenggam tangan itu dengan begitu erat.
"Kamu jalannya ikutin aku ya. Injak batu-batu ini, kita akan menyusuri sungai. Hati-hati licin." ucap Bintang memberi instruksi kepada Bulan.
Gadis itu pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti setiap langkah kaki Bintang. Menyusuri sungai itu dengan membiarkan Bintang menggenggam erat tangannya dan memandu jalannya. Sontak saja hati Bulan merasa tidak enak.
Keduanya cukup beruntung karena saat mereka ke sana sedang tidak musim hujan, karena saat musim hujan debut aliran sungai bisa lebih deras.
Maka dari itu, Bintang menghadap Bulan dan menunggu hingga gadis itu berani sedikit melompat. Sayangnya, saat Bulan melompat, satu kakinya mendarat dengan tidak sempurna. Dia berdiri dengan kakinya yang tidak stabil dan harus bersiap jatuh ke dalam sungai.
Memperhatikan posisi berdiri yang tidak stabil, Bintang dengan sigap menahan badan Bulan, hingga tanpa sengaja keduanya justru berpelukan. Di tengah sungai dengan suara aliran sungai bergemericik dan angin dingin pegunungan menyapa keduanya.
Untuk pertama kali, keduanya berada dalam posisi sedekat ini. Tubuh Bulan pun membeku seketika, dia tidak menyangka justru memeluk Bintang di tempat seperti ini. Sama halnya dengan Bintang yang tidak menyangka justru niatnya menangkap dan mempertahankan langkah kaki Bulan supaya tidak terjatuh justru membuatnya memeluk gadis yang sekian lama telah dicintainya itu.
Detik berganti detik, keduanya masih dalam posisi dalam memeluk, hingga kemudian Bintang mengerjap berusaha mengembalikan semua pikirannya. Pria itu mengurai pelukannya dan memegangi kedua bahu Bulan. Suasana canggung tiba-tiba melingkupi keduanya.
"Sorry Bulan, aku hanya memastikan supaya kamu tidak terjatuh." ucap Bintang perlahan.
__ADS_1
Nampak menganggukkan kepalanya walaupun hatinya berdegup dengan begitu kencang, Bulan tersenyum. "Iya ... pasti tidak sengaja kan. Maaf juga ya. Jadi, mau dilanjutkan perjalanan kita? Masih jauh tidak?" tanya Bulan yang sejujurnya dia gugup dengan keadaan sekarang ini.
Bintang tersenyum dan sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ayo, tidak lama lagi kita sampai di Air Terjunnya. Kamu mau berjalan sendiri atau berpegangan pada tanganku?" tanyanya terlebih dahulu, karena Bintang tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Bulan juga ikut tersenyum. "Ayo Bin...." ucapnya sembari menggenggam tangan Bintang.
Dalam hati, Bintang tersenyum lega. Kali ini Bulan ternyata masih membiarkan dirinya untuk menggenggam tangannya dan memandu jalannya. Setelah melewati sungai kedua, titik air terjun tidak jauh lagi. Kondisi medan di sekitar air terjun terdiri dari bebatuan. Semakin dekat dengan air terjun, titik air di udara cukup terasa karena derasnya aliran air terjun.
Air Terjun Kedung Kayang yang tidak terlalu ramai membuat suasana begitu tenang. Kini Bulan dan Bintang duduk bersama di atas sebuah batu besar, membiarkan kaki telanjangnya merasa air yang mengalirnya, pepohonan yang bergoyang seolah menari-nari, dan pesona air terjun yang begitu indah layaknya tirai putih.
Panorama air terjun utama begitu mengagumkan. Aliran yang deras tampak bagaikan tirai putih raksasa. Pemandangan sekitar yang berada di sebuah ceruk besar juga tak kalah memesona.
"Akhirnya sampai di sini juga." ucap Bulan dengan wajah yang begitu puas.
Bintang pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Benar ... bagus banget ya. Kamu sudah pernah ke sini sebelumnya?" tanyanya sembari memandang Bulan
Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ini kali pertamaku datang ke sini. Tak kukira tempat ini akan seindah ini. Benar-benar damai banget berada di sini. Hanya duduk di sini, membiarkan kaki merasakan sensasi air terjun yang dingin, dan mendengar gemericik air terjun yang seperti tirai putih raksasa. Aku benar-benar bahagia."
Gambar: Air Terjun Kedung Kayang dengan latar Gunung Merapi, di Ketep, Nagrong, Jawa Tengah.
__ADS_1