Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Pengakuan Cinta


__ADS_3

"Aku cinta kamu, Bulan... aku mencintaimu."


Sebuah pengakuan yang akhirnya keluar juga dari bibir seorang Bintang. Perasaan yang lebih satu dekade dipendam sendirian, akhirnya terucap begitu saja. Pengakuan yang membuat Bulan membeku seketika.


Bagaimana tidak setelah ciuman yang Bintang berikan dan kini pria itu mengungkapkan perasaannya. Detak jantungnya masih begitu berantakan, sementara Bintang menambahkan sebuah pengakuan cinta yang membuat detak jantung dan denyut nadinya kian kacau.


Gadis itu nampak menggelengkan kepalanya. "Ini ... ini tidak benar, Bin."


Satu pemikiran yang terlintas di benak Bulan bahwa apa yang terjadi hari itu adalah hal yang tidak benar. Yang pertama adalah untuk ciuman mereka, yang kedua adalah untuk pengakuan cinta Bintang. Kedua hal yang membuat Bulan berada pada kenyataan yang seharusnya tidak dia hadapi.


Bintang menghela napasnya dengan satu tangan yang masih mempertahankan untuk menggenggam tangan Bulan.


"Jika yang sudah aku lakukan dan aku katakan menyakitimu dan membuatmu tidak nyaman. Tolong maafkan aku, Bulan ... anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Maafkan khilafku. Hanya saja, aku merasa kamu perlu tahu bahwa aku sudah lama mencintaimu. Jauh sebelum Surya mengenalmu. Cukup sekali kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Sungguh."


Nampak Bulan menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Pengakuan cinta dari seorang Bintang. Apakah dia tidak salah dengar bahwa Bintang mencintainya sejak lama? Bagaimana mungkin, sejauh ini Bintang selalu berdiri sebagai temannya dan juga Surya.


"Ini tidak benar, Bin...." Lagi-lagi Bulan berkata demikian.


Buliran air mata kembali menetesi pipinya. "Kamu tahu kan kalau aku ini pacarnya Surya. Aku gak bisa menjadi milikmu, Bin...." ucap Bulan dengan berderai air mata.


Bintang menggelengkan kepalanya. "Jangan menangis Bulan ... melihat air matamu membuat dadaku terasa sesak. Jangan menangis. Dengarkan aku baik-baik, mencintaimu itu keputusanku, Bulan. Lagipula, cinta ini tak menuntut balas. Biar aku yang mencintaimu seorang diri. Biar aku yang mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku mungkin khilaf karena telah menciummu. Kendati demikian, aku tidak menyesal karena ciuman pertamaku jatuh pada gadis yang selama ini kucintai."


Jantung Bulan berdegup kian kencang.


Ciuman pertama? Ini ciuman pertama Bintang? Bagaimana mungkin apakah sebelumnya pria yang duduk di hadapannya ini tidak pernah melakukan kontak fisik dengan pacarnya sebelumnya.


Bintang masih mencoba menenangkan Bulan. "Jadi, tolong jangan menangis ya. Tangisanmu sangat melukaiku. Maafkan aku. Kamu mau maafin aku?" tanya Bintang perlahan.


Nampak Bulan menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku maafkan. Namun, ke depannya kita tidak akan bisa seperti ini lagi, Bin. Maaf ... karena ini benar-benar tidak benar." ucap Bulan dengan lirih.


Memahami apa yang ke depan akan terjadi Bintang tidak punya pilihan lain selain menerima dan menghormati keputusan Bulan. Paling tidak sekarang Bulan sudah tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Aku tahu, Bulan ... tidak apa-apa. Apapun keputusanmu aku menerima dan menghargainya. Hanya saja kamu perlu tahu, di sini ada pria yang memendam cintanya, menyembunyikan perasaannya sekian lama kepadanya. Ada pria yang selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Karena pria ini benar-benar tidak menuntut balas, jadi sudah pasti aku akan menerima apapun keputusanmu. Bahkan untuk hubunganmu dengan Surya, aku pun berdoa bahwa kamu akan bahagia bersamanya. Sungguh." ucap Bintang dengan sepenuh hati.


Sekali lagi ini bukan sikap seorang pengecut, tetapi inilah cara Bintang untuk mencintai Bulan. Asalkan Bulan bahagia itu saja sudah lebih dari cukup untuk Bintang.


"Apa kamu tidak kesakitan?" tanya Bulan perlahan.


Bintang menggelengkan kepalanya. "Tidak ... karena aku yakin pada kekuatan cinta. Jikalau aku bersedih, cinta ini juga yang akan menguatkanku. Level tertinggi dari mencintai adalah bahagia membiarkan orang yang dicintai berbahagia dengan atau tanpa dirinya. Jadi, aku akan bahagia untukmu dan menerima jalan cintaku." ucap Bintang perlahan.


"Jangan mencintaiku sebesar itu, karena aku tidak bisa membalasnya Bin." ucap Bulan seketika.


Melalui indera pendengarannya saja Bulan mampu merasakan besarnya cinta yang Bintang miliki untuknya. Pengakuan cinta yang begitu besar itu nyatanya menggetarkan hati Bulan.


"Ssstttsss ... inilah caraku mencintaimu, Bulan. Biarkan saja seperti ini." Bintang berucap dengan jari telunjuknya mendarat di bibir Bulan, meminta gadis itu untuk diam dan membiarkan dirinya untuk mencintainya.


Akan tetapi, saat jari telunjuk itu masih menyentuh bibir itu, perlahan ibu jarinya turut mengapit dagu Bulan. "Boleh aku menciummu sekali lagi?"


Bulan mengerjap dan berusaha menahan apa yang akan Bintang lakukan setelahnya. Sebelum pria itu bertindak, Bulan menggelengkan kepalanya. "Jangan Bin." ucapnya memperingatkan.


Kemudian pria itu beringsut dan menyandarkan punggungnya di kursi kemudi dan memejamkan matanya sejenaknya.


"Tunggu sampai hujan ini segera reda dan kita akan kembali ke Jogja bersama-sama. Usai ini masih ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya dengan masih memejamkan mata.


Bulan menggelengkan kepala. "Tidak kita pulang saja Bin...." jawabnya dengan lidah yang seakan kelu.


Bulan kemudian juga menyandarkan punggungnya dan membawa kedua tangannya bersidekap di dada. Dia hanya berharap hujan akan segera reda dan awan gelap pun sirna. Terjebak lama-lama di dalam mobil bersama Bintang, membuatnya mati kutu rasanya.


"Santai saja Bulan ... percaya padaku, aku tidak akan melanggar batas lagi." ucap Bintang yang meyakinkan Bulan bahwa dia tidak akan melanggar batas.


Akan tetapi, saat usai mengucapkan itu tiba-tiba petir di langit menyambar-nyambar membuat Bulan begitu ketakutan rasanya.


Ya Tuhan, tolong ... jangan hadirkan petir ini.

__ADS_1


Aku takut dan lebih takut terjebak bersama Bintang di sini.


Gadis itu bergumam dalam hati dan tangannya seolah menyalurkan kekuatan supaya dia tidak takut dengan petir dan kilat yang terjadi di luar sana.


Sekalipun Bintang nampak memejamkan mata, dia sangat tahu saat ini Bulan ketakutan dengan petir dan canggung dengan dirinya. Perpaduan rasa yang sama sekali tidak menguntungkan.


Saat terasa ada kilatan di langit dengan sangat besar, Bintang membuka mata dengan cepat satu tangannya bergerak untuk merangkul Bulan.


Diiring petir menggelegar yang seolah membuat tanah bergerak. "Jangan takut ada aku." ucap Bintang mencoba menenangkan.


Bulan memejamkan mata dan menutupi telinganya. Sungguh dia begitu takut dengan petir, hingga kedua telapak tangannya terasa begitu dingin.


Merasakan ketakutan Bulan, sekali lagi dengan gerakan yang amat cepat dan tepat, Bintang memeluk Bulan dan pria itu kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir Bulan. Gadis yang masih ketakutan dan memejamkan mata itu, sadar dengan apa yang dia Bintang.


Mungkinkah kali ini dia terperdaya?


Mencoba menolak dan untuk mendorong dada bidang Bintang, tangan Bulan seolah tak mampu seperti kehabisan daya. Dia membiarkan bibir Bintang mendarat sempurna di atas bibirnya.


Sekian detik berlalu dengan bibir yang menempel satu sama lain, hanya sapuan napas Bintang yang membelai separuh wajah Bulan. Membiarkan tetap seperti itu, hingga perlahan dengan sedikit berani Bintang membuka bibirnya dan mencecap, memagut, dan mengecup bibir itu dengan begitu lembut. Tidak berhenti, kedua tangannya melingkari pinggang Bulan.


Menciuminya, mentransfer semua rasa yang bergejolak di dalam dada, memberani diri untuk kembali tertolak kedua kalinya. Akan tetapi, Bintang memberanikan diri untuk terus menggerakkan bibirnya seirama. Dia akan benar-benar berhenti saat Bulan mendorong atau menamparnya.


Ciuman kedua dari seorang Bintang yang datang tanpa peringatan sama sekali. Ciuman lembut, tetapi syarat akan buaian. Ciuman yang hangat, tetapi syarat dengan gejolak membara dalam dada.


Kedua tangan Bulan naik ke dadanya untuk mendorong Bintang, namun apa daya saat Bintang ********** yang terjadi justru tangan itu tanpa mampu mendorong Bintang.


Tak ingin terlena, nyatanya Bulan pun hanyut saat lidah pria itu menyapu bibirnya perlahan yang membuat sekujur tubuhnya tersengat arus listrik ribuan volt.


Dengan penuh irama, Bintang membawa ciuman di bibir dan permainan lidahnya menari-nari dalam ciuman yang membutakan akal sehatnya.


Merasakan hasrat yang kian menggebu, Bintang membuka matanya lalu melepaskan ciumannya. "Kupikir aku harus berhenti sekarang Bulan ... tidak ada adegan lebih dari ini sebelum janur kuning melengkung. Menikahlah denganku Bulan. Aku tidak menjanjikan apa-apa, tetapi aku memberiku seutuhnya dan sepenuhnya. Kebahagiaan itu lah yang akan aku upaya untukmu. Terimalah pria ini dan menikahlah denganku." ucap Bintang dengan memegang kedua tangan Bulan.

__ADS_1


__ADS_2