
Bulan sudah berketetapan untuk bisa membantu Bapaknya. Bukan sekadar omset penjualan bertambah, tetapi Bulan teringat kepada lima pegawai yang sudah bertahun-tahun bekerja bersama Bapaknya di Kios Batik Maheswari.
Bulan segera masuk ke dalam kamar dan mengambil handphone-nya yang tengah diisi daya di sana. Bulan melihat handphone-nya, rupanya Surya beberapa saat lalu menghubunginya. Itu pasti lantaran handphone-nya dalam mode silence sehingga Bulan tidak mendengar jikalau Surya menghubunginya.
Dengan menggerak-gerakkan jarinya di layar handphone-nya, Bulan menelpon balik pada Surya.
Surya
Calling
"Halo Surya, ada apa? Kamu barusan menghubungiku ya?" tanya Bulan begitu sambungan telepon mereka tersambung.
"Iya, karena hari ini kan libur. Jadi aku menelpon kamu pagi-pagi. Kamu baru apa? Hingga tidak menerima teleponku tadi." tanya Surya di seberang sana.
Bulan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Tadi aku sedang ngobrol sama Bapak di ruang depan. Handphone-nya baru di-charge di dalam kamar." jawab Bulan.
"Oh, aku kira kamu sedang sibuk di sana." sahut Surya yang nampak agak sebal karena berkali-kali dia menghubungi Bulan, tetapi justru diabaikan.
Bulan pun mengernyitkan keningnya. "Aku hari ini akan ke Kios Batik milik Bapak di Pasar Beringharjo, Surya. Aku akan membantu Bapak di sana. Sekaligus aku akan bertemu dengan Bintang." ucap gadis ayu itu kepada Surya.
Mendengar nama Bintang, perlahan Surya teringat akan sahabatnya yang sudah cukup lama tidak berkomunikasi dengannya. Surya berpikir apakah selama ini Bulan sering berkomunikasi dengan Bintang?
Hatinya merasa cemas jika kekasihnya masih berkomunikasi dengan sahabatnya sejak di bangku SMA itu.
"Mengapa kau ingin menemui Bintang?" tanya Surya dengan nada suara yang tidak bersemangat.
__ADS_1
Bulan menghela nafasnya sejenak. "Aku ingin minta bantuannya untuk membuatkan toko online untuk Batik-Batik yang dijual Bapak. Omset penjualan Batik di kios kami terus menurun. Sementara ada pekerja yang bergantung kepada Bapak. Merambah ke penjualan online agaknya bisa membantu Bapak untuk terus menggaji para pekerja." ucap Bulan.
Surya di sana juga berpikir, benar ekonomi hancur lembur. Semua pengeluaran masyarakat di titik beratkan untuk usaha pangan dan kesehatan. Sementara orang tua Bulan yang bergerak dalam usaha Batik pastilah terdampak Corona.
"Apa tidak ada yang bisa menolong selain Bintang?"
Sekalipun Surya tahu bahwa Bulan dan Bintang sudah mengenal cukup lama, bahkan mereka bertiga juga sering nongkrong sejenak di kafe bertiga. Namun kali ini, hatinya terasa enggan. Apakah hubungan jarak jauh memang membuatnya tidak percaya kepada Bulan?
Sementara itu, Bulan pun merasa aneh dengan ucapan Surya. Mengapa seolah Surya menahannya supaya tidak menemui Bintang?
"Aku sekalian ingin bertanya tentang e-commerce kepada Bintang, Surya. Dia bekerja sebagai Programmer bukan? Setidaknya dia pasti tahu bagaimana teknisnya. Jika sudah, aku bisa menjalankannya sendiri dan mengajari para pegawai yang ada di kios." jelas Bulan kepada Surya.
Memilih mengalah, akhirnya Surya dengan berat hati membiarkan Bulan untuk bertemu dengan sahabatnya, Bintang. "Hmm, baiklah Bulan ... yang penting jaga hati. Ingat ada aku di sini yang selalu menyayangimu. Jaga cinta kita berdua." ucap Surya dengan lesu.
Di sisi lain, Bulan justru tertawa. "Apakah kamu cemburu dengan sahabatmu sendiri, Bintang? Bukankah kalian akrab selama ini? Lantas mengapa kamu seolah cemburu kepada Bintang?" tanya Bulan sembari menyiapkan sling bag nya.
Bulan hanya mendengarkan ucapan Surya. "Ini konsekuensi dari Long Distance Relationship yang kita jalani, Surya. Ku harap kita akan saling percaya satu sama lain. Baiklah aku tutup teleponnya ya Surya, hari keburu siang dan aku harus membantu Bapak di Pasar." ucap Bulan mengakhiri panggilannya.
"Iya, hati-hati Bulan. Jika sudah sampai di Pasar, jangan lupa mengabariku. I Miss U, My Moon...."
...🌸🌸🌸...
Usai menelpon Surya, Bulan pun menghubungi sahabatnya Bintang.
Bintang adalah sahabat Surya dan juga sahabat Bulan. Mereka bertiga sudah saling mengenal sejak SMA. Namun, dua bulan belakangan memang Bulan tidak pernah berkomunikasi dengan Bintang. Bulan terlalu sibuk mengurus pembatalan pernikahannya dengan Surya waktu itu, ditambah situasi Corona yang praktis membuat Bulan lebih sibuk mengajar.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Bulan mencari kontak Bintang di handphone-nya. Berharap, Bintang akan menerima panggilannya dan juga mau menolongnya.
Bintang
Calling
"Halo Bintang, ini Bulan...." ucap gadis berambut hitam itu begitu panggilan teleponnya tersambung.
Di seberang sana, Bintang nampak terkejut, mengapa Bulan menghubunginya. Selama dua bulan terakhir bahkan mereka seolah tengah lost contacts.
"Iya ... halo Bulan. Ada apa?" tanya Bintang sembari mengernyitkan keningnya.
"Euhm, apa aku bisa minta tolong padamu, Bintang?" tanya Bulan seolah ragu.
"Ya, katakan ... kamu perlu bantuan apa? Jika bisa aku pasti akan menolongmu." sahut Bintang.
Mendengar Bintang yang seolah memberi lampu hijau untuk menolongnya, Bulan lantas tersenyum. "Bisa membantuku membuat toko digital di salah satu aplikasi market place digital. Omset penjualan Batik Bapak turun drastis, sementara kami ada pekerja yang bergantung pada kami. Aku rasa melirik ke penjualan online mungkin saja bisa membantu." ucap Bulan dengan hati-hati.
Tanpa berpikir panjang, Bintang pun mengiyakan untuk membantu Bulan. "Baiklah Bintang, aku akan membantumu? Di mana kita bisa bertemu?"
"Di Kios Batik Bapak apa bisa? Di Pasar Beringharjo. Aku akan ke Kios sekarang." ucap Bulan memberitahu posisinya.
"Oke, baiklah. Kita bertemu di Kios batik Bapak kamu ya. Aku akan ke sana sekarang." ucap Bintang yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Bulan pun bersiap dengan jaket, masker, dan sling bag nya. Dia akan segera menuju Pasar Beringharjo dan bertemu Bintang di sana.
__ADS_1
Pagi menjelang siang di Kota Jogjakarta sudah cukup terik. Dengan mengendarai sepeda motor Matic nya Bulan menuju Kios tempat Bapaknya berjualan batik. Bulan sudah bertekad untuk bisa membantu Bapaknya.
Bukan semata-mata untuk omset penjualan dan laba yang bisa mereka dapatkan, tetapi untuk lima pegawai di kios Batik yang menggantungkan hidup kepada Bapaknya. Corona tidak hanya membuat banyak orang kehilangan lapangan pekerjaan, dan Bulan ingin setidaknya lima pegawai di kios batik itu tetap bisa mencukupi keperluan mereka sehari-hari. Dapur mereka tetap mengepul, anak-anak mereka tetap bisa makan. Dengan tekad itulah, Bulan berniat merambah ke toko online yang sekiranya memungkinkan usaha batik milik Bapaknya mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi para pedagang yang seolah mati suri.