Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Curhat Bersama Bapak


__ADS_3

Usai pulang dari kediaman Surya banyak hal yang Bulan pikirkan, secara khusus tentang hubungannya dengan Surya dan langkah-langkah ke depan. Jika pepatah mengatakan bahwa kesabaran itu ada batasnya, Bulan nampaknya diminta untuk memiliki kesabaran yang tidak ada batasnya. Terlebih saat Ibunya Surya mengatakan bahwa hubungan mereka berdua sudah berjalan selama enam tahun. Bagi masyarakat Jawa khususnya mereka yang tinggal di daerah Solo dan Jogjakarta, masyarakat memang mengamati lama dan tidaknya sebuah hubungan. Selalu ada praduga bahwa pacaran yang lama memang lebih baik berlanjut hingga ke pelaminan. Namun, saat ini Bulan justru banyak berpikir tentang hubungannya dengan Surya.


Memang benar, semua tetangga dan kerabat sudah saling tahu bahwa Bulan adalah kekasih Surya, keduanya sudah bertunangan, nyaris menikah hanya saja pernikahan keduanya diundur hingga batas waktu yang tidak diinginkan. Namun, Bulan tidak setuju bisa selama apapun sebuah hubungan, tetapi tidak bisa saling mengisi dan memahami satu sama lain. Bulan merasa saat ini menggenggam bom waktu dalam genggaman tangannya yang siap untuk meledak kapan saja.


Kebanyakan orang hanya berkata supaya Bulan bersabar. Sementara tidak ada yang memberitahu Surya tentang apa yang seharusnya dia lakukan. 


Memang benar diikat dengan tradisi kebudayaan Jawa, pihak perempuan memang harus bersabar, setia menunggu pinangan dari laki-laki, tetapi Bulan merasa sudah terlalu lama dia menunggu. Perasaannya makin berkecamuk lantaran Surya kini berada di Makassar dan entah sampai kapan dia berada di sana. Penempatan seorang Pegawai Negeri Sipil tidak hanya hitungan bulan, tetapi tahun. Sudah pasti Surya akan tinggal di Makassar dalam hitungan tahun. Selama itu jugakah Bulan harus menunggu?


Begitu sampai di rumah, kedua orang tua Bulan pun menanyai bagaimana tadi saat bertemu dengan keluarga Surya. Apa yang diobrolkan dengan orang tuanya Surya.


“Jadi, tadi ngobrol apa saja di sana, Bulan?” tanya Pak Hartono kepada anaknya yang sedang melihat siaran televisi itu.


Bulan pun mulai mengecilkan suara siaran televisi itu terlebih dahulu. “Seperti biasa Pak, tanya kabar saja. Dikira sama Ibunya Surya itu Bulan sudah tidak lagi bersama Surya karena beberapa hari yang lalu Ibu melihat Bulan sedang makan Mie Ayam bersama Bintang.”


Pak Hartono hanya tersenyum mendengar penuturan putrinya itu. “Itu lumrah, wajar. Dia calon mertuamu. Jika calon menantunya terlihat bersama lawan jenis, dikiranya hubungannya dengan anaknya sudah berakhir. Orang tua itu perlu penjelasan. Mungkin suatu saat nanti Bapak dan Ibu juga demikian, jika melihat Surya sedang bersama dengan gadis lain, Bapak dan Ibumu bisa memanggil dan menanyai Surya.” jawab Pak Hartono.


Bulan pun lantas mengajukan pertanyaan kepada Bapaknya. “Pak, apa kalau berhubungan sudah lama memang sepantasnya harus berakhir di pelaminan Pak?” tanya Bulan dengan ragu-ragu.

__ADS_1


Jujur saja Bulan tidak ingin membenarkan alibinya sendiri, dia ingin pendapat dari orang tuanya. Sebab beberapa hari belakangan, baik Surya dan orang tuanya seolah mengatakan bahwa hubungan yang lama harus dipertahankan.


Mendengar pertanyaan Bulan, Pak Hartono tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu justru mengamati terlebih dahulu wajah cantik putrinya yang terlihat resah. “Kenapa bertanya seperti itu? Apa itu menyangkut hubunganmu dan Surya?” Pak Hartono justru bertanya balik kepada putrinya.


Bulan terlihat mengedikkan bahunya. “Begini loh Pak, beberapa hari yang lalu waktu Surya telepon dia mengatakan supaya Bulan bersabar. Barusan Ibunya Surya juga meminta supaya Bulan juga bertahan. Apa memang hubungan yang sudah lama terjalin sebaiknya memang harus berlanjut hingga janur kuning melengkung?” cerita Bulan kepada Bapaknya itu.


“Sebenarnya ada dua jawaban. Pertama berkaitan dengan norma masyarkat. Tetangga kita dan tetangga di sekitar rumah Surya pasti sudah pada tahu kalau Surya itu berhubungan denganmu dan itu sudah berjalan sangat lama. Tidak hanya satu atau dua bulan, tetapi enam tahun. Enam tahun itu waktu yang lama, Nduk. Nah, praduga dari masyarakat ya pacaran yang sudah lama alangkah lebih baik memang berlanjut hingga pernikahan. Kedua kalau Bapak sendiri sebagai orang tua, memang Bapak ini orang Jawa Kuno, tetapi pikiran Bapak ini cukup modern. Bagi Bapak dan juga Ibumu pasti mengharap kebahagiaan untuk anaknya. Lama atau sebentarnya suatu hubungan tidak menjamin. Apa kamu mulai ragu?” tanya Pak Hartono yang terlihat menyelidiki pikiran anaknya itu.


“Bukan ragu, Pak … Bulan hanya bertanya. Curhat dengan Bapak. Memang benar Bulan seolah berpikir Bulan harus bersabar, Surya dan orang tuanya juga meminta Bulan bersabar. Namun, sampai kapan Pak? Bukannya perasaan Bulan untuk Surya pudar, bukan sama sekali. Euhm, hanya saja terkadang Bulan lelah, Pak … capek rasanya.” ungkapnya dengan jujur.


“Kalau menurut Bapak, selama perasaan di hatimu untuk Surya masih ada dan tidak pudar, coba saja bertahan. Sekuatmu, semampumu. Bapak tidak akan melarangnya. Kamu yang menjalaninya, kamu berhak menentukan apa yang terbaik bagimu. Namun, jangan asal mengambil keputusan karena Bapak itu akan setuju. Jangan gegabah saat bertindak. Pikirkan juga segala konsekuensinya.” ucap Pak Hartono.


Mendengar nasihat dari Bapaknya, Bulan pun menganggukkan kepalanya. Setidaknya Bapaknya tahu bahwa saat ini Bulan berada di fase lelah. Perasaannya bagi Surya masih ada, tetapi dia merasa lelah dengan kondisi dan situasi yang terjadi saat ini.


“Syukurlah jika Bapak merasa demikian. Bulan merasa jika suatu saat Bulan benar-benar lelah dan capek dengan semua ini, minimal Bapak sudah tahu dengan apa yang akan Bulan lakukan. Bulan pun berharap bahwa Bapak tetap menerima keputusan Bulan nantinya.” ucap Bulan dengan lirih.


Pak Hartono pun tersenyum sembari menatap wajah anaknya. “Jangan lari kemana-mana. Jika kamu merasa capek dan lelah, larilah ke rumah. Bapak dan Ibu selalu ada menyambut kamu, mengulurkan tangannya untuk membantumu, bahkan kami akan menolong kamu. Dunia bahkan tetangga boleh menghakimi, tetapi kami orang tuamu adalah orang-orang yang selalu ada di pihakmu dan menerimamu. Percayai itu, Bulan.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Bapaknya, mata Bulan nampak berkaca-kaca. Itulah yang Bulan harapkan, setidaknya ada keluarga tempatnya untuk pulang tanpa takut untuk dihakimi. Ada keluarga yang siap menerima dan menyambutnya apa adanya. 


“Terima kasih Bapak buat nasihatnya. Seolah Bulan merasa lelah dengan keadaan ini, ditambah beberapa kali Surya nampak cemburu jika Bulan mengatakan sedang bersama Bintang. Padahal kami pun bertemu tidak sengaja, Surya juga meminta Bulan untuk menjauhi Bintang.” kali ini nampaknya Bulan benar-benar curhat dengan Bapaknya. Dengan mudahnya dia menceritakan perihal hubungannya dengan Surya.


Pak Hartono hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh anaknya. “Kalau sebatas berteman tidak apa-apa, yang penting itu kamu harus tahu batasan kamu karena kamu adalah tunangannya Surya. Dalam pergaulan ada batasan antara laki-laki dan perempuan, itu yang harus diingat.”


Bulan pun mengangguk. “Kami hanya berteman, Pak … padahal Bulan pun tidak pernah melarang-larang Surya di sana. Bulan pun tidak tahu di sana Surya dekat dengan siapa saja. Itu Bulan lakukan karena Bulan percaya kepada Surya, Pak. Dalam menjalin hubungan diperlukan kepercayaan, akhir-akhir ini Bulan merasa seolah Surya tidak lagi mempercayai Bulan. Surya lebih mudah curiga setiap Bulan berkata sedang bersama dengan Bintang. Padahal pertemuan kami pun tidak disengaja.”


“Ya sabar … selama kamu bisa bertahan dan bersabar lakukan itu, sembari terus berdoa, meminta petunjuk dari Allah. Minta kepada Gusti untuk menunjukkan jodoh yang terbaik bagi kita. Pasti suatu saat Dia akan memberikan kepada kita tanda-tandanya. Asalkan kita percaya dan paham dengan setiap tanda yang Tuhan berikan.” ucap Pak Hartono.


Bulan pun tersenyum. “Pasti Pak … dalam setiap sujud syukur yang Bulan lakukan, Bulan selalu berdoa dan memohon Tuhan kirimkan yang terbaik buat Bulan. Saat ini terbaik menurut Bulan belum tentu baik di mata Allah. Akan tetapi, apa yang baik yang dari Allah, itu pasti yang terbaik bagi Bulan.” ucapnya dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.


“Amin … itu baru anak Bapak. Oh, iya … akhir pekan ini, Bapak dan Ibu akan ke Gunung Kidul, menginap di sana ya di rumah Simbah. Kamu di rumah sendiri tidak apa-apa kan?” tanya Pak Hartono kepada Bulan.


“Tidak apa-apa, Pak … silakan menginap di rumah Simbah. Bulan pasti aman berada di rumah ini.”


Obrolan malam keduanya berakhir dengan perasaan lega. Segala sesuatu yang sebelumnya dia resahkan, kini dapat Bulan bagi bersama dengan Bapaknya sendiri. Bagi Bulan, curhat bersama Bapak memang selalu menyenangkan. 

__ADS_1


__ADS_2