Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Cukup Doakan Aku


__ADS_3

Mendengar kabar yang mencengangkan, Surya seolah tak percaya dan pria itu berpikir apa saja yang bisa dia lakukan sekarang ini.


"Apa yang bisa aku lakukan saat ini Bulan?" tanya Surya dengan suara yang begitu lirih.


Tidak hanya Bulan yang hancur, saat ini Surya juga kepikiran bagaimana caranya untuk bisa melakukan sesuatu hal untuk Bulan saat ini. Surya pun tidak menyangka, pacarnya di sana tengah terpapar Covid. Padahal menurut Surya, Bulan adalah gadis yang begitu menjaga kebersihan, rutin meminum vitamin, dan juga rutin memakai masker saat keluar dari rumah.


Nyatanya mereka yang menjaga diri sebaik mungkin saja masih bisa terpapar Corona. Virus ini memang menginfeksi orang tanpa memandang bulu.


Di seberang sana Bulan terdiam. Tidak dipungkiri di saat seperti ini, dia membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Akan tetapi, sekarang orang tuanya berada di Gunung Kidul, dan Surya berada di Makassar.


Menenangkan hatinya sendiri, Bulan pun menghela napasnya perlahan. "Cukup doakan aku, Surya...." ucap Bulan dengan sungguh-sungguh.


Bagi Bulan saat ini tidak dipungkiri bahwa dia membutuhkan doa. Ya, doa itu adalah sebuah lagu yang membimbing ke arah singgasana di mana Tuhan bertahta, meskipun ditinggalkan oleh suara ribuan orang yang sedang meratap, doa itu akan terdengar di telinga Tuhan.


Pun demikian dengan Bulan, dalam keadaannya yang sedang jatuh, hatinya meratap, doa itulah yang memberinya kekuatan.


Surya nampak menganggukkan kepalanya dengan tatapannya yang kosong. "Sudah pasti aku akan mendoakanmu, Bulan ... doalah salah satu caraku memelukmu dari jauh. Selanjutnya akan seperti apa?" lagi tanya Surya kepada Bulan.


Bulan nampak menggelengkan kepalanya. "Aku enggak tahu Surya ... aku masih menunggu pihak Puskesmas yang akan ke sini. Ku harap, aku bisa isolasi mandiri di rumah. Lagipula, aku hanya bergejala sedang. Aku demam dan batuk-batuk saja." ucap Bulan.


Surya mendengarkan cerita Bulan dengan baik, memang gejalanya hanya ringan, tetapi bagaimanapun yang namanya Covid tetap Covid. Surya tetap saja mengkhawatirkan kondisi Bulan saat ini.


"Apa lebih baik aku pulang, Bulan? Jika tidak ada pesawat terbang, aku bisa naik kapal laut." ucap Surya tiba-tiba.

__ADS_1


Seketika Bulan menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu...." gadis itu tersenyum getir. "Lagipula, kalau kamu pulang pun, kita tidak bisa bertemu. Aku masih harus memastikan diriku benar-benar sembuh."


Surya mengacak rambutnya kasar. Apapun yang akan dia lakukan agaknya buntu. Ingin pulang dan mendampingi Bulan, tetapi benar bahwa Bulan harus sembuh. Jika tidak pulang, Surya sungguh merasa bersalah.


"Aku ingin mendampingimu saat ini, Bulan...." Surya berbicara dengan lesu. Sungguh di dalam hatinya, dia ingin mendampingi Bulan. Dia ingin menjadi seorang pria yang bisa Bulan andalkan.


Bulan nampak tersenyum dan meminum air putih di dalam kamarnya sebelum mulai berbicara kepada Surya. "Doakan aku saja, Surya ... doakan aku segera sembuh dan sakitku ini bisa segera sembuh." ucap Bulan dengan tenang.


Surya pun menghembuskan napasnya secara kasar. "Jika hanya sekadar doa, sudah pasti aku mendoakanmu. Kamu tidak membutuhkan hal yang lain? Aku bisa membelikannya dari sini. Obat, vitamin, masker, atau apapun aku bisa belikan dari sini."


"Semua sudah ada Surya ... di rumah semuanya sudah ada. Bahkan tadi Bintang juga menaruh vitamin dan alat saturasi oksigen di depan pintu. Sehingga semuanya sudah ada." cerita Bulan kepada Surya.


Mendengar lagi nama 'Bintang', Surya nampaknya merasa sedang tidak baik-baik saja.


Surya dalam hati, pria itu tersenyum kecut. Ya, di saat genting seperti ini, Bintang lah yang justru memberikan apa yang Bulan butuhkan.


Rasanya Surya ingin marah, tetapi jika dia marah dan membuat Bulan berpikir keras, Surya takut itu akan berdampak pada menurunnya sistem imunitasnya.


Alhasil, Surya hanya bisa menahan kekesalannya dalam hati. "Bintang memberimu apa?" tanya Surya yang sesungguhnya hanya sekadar formalitas semata.


Sekali lagi Bulan membuka kantong plastik yang tadi diberikan Bintang. "Ada vitamin, inhaler, dan alat saturasi oksigen. Bintang menaruhnya di depan pintu." ceritanya kepada Surya.


Surya kemudian mengangguk lesu, tetapi dia ingin menawarkan hal yang lainnya kepada Bulan. "Kamu yakin tidak butuh apa-apa lagi Bulan? Termometer atau sebagainya?"

__ADS_1


Kepala Bulan menggeleng dengan lemah. "Tidak... Aku sudah punya termometer di rumah. Baik Surya, aku tutup teleponnya dulu ya. Aku yang datang ke rumah, kelihatannya dari Puskesmas. Aku bukakan pintu buat mereka dulu."


"Iya Bulan ... Speedy recovery ya. Aku Sayang kamu...." Ucap Surya kemudian menutup panggilan teleponnya.


Setelah mematikan teleponnya, Bulan kembali turun ke bawah dan membukakan pintu bagi tenaga kesehatan yang datang ke rumah.


"Selamat singa ... dengan Ibu Bulan ya?" tanya tenaga kesehatan yang datang ke rumahnya dengan menggunakan Alat Pelindung Diri lengkap itu.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya, benar ... Saya Bulan."


Tenaga kesehatan itu masuk, lalu mengecek kembali kondisi Bulan. "Jadi apa yang dirasakan Mbak?" begitu mengetahui bahwa Bulan masih muda, tenaga kesehatan lantas memanggil 'Mbak' kepada Bulan.


"Saya beberapa hari lalu demam dan batuk-batuk. Kelihatannya cuma itu saja yang saya rasakan." jawab Bulan yang menjawab pertanyaan dari tenaga kesehatan itu.


Kemudian tenaga kesehatan melalui tes usap lagi kepada Bulan sebagai prosedur pengecekan kesehatan pasien yang terpapar virus Corona. Bulan pun bersiap duduk dan menengadahkan wajahnya, saat tenaga kesehatan kembali memasukkan alat tes usap ke dalam rongga hidung dan rongga tenggorokannya.


Saat dicolok di rongga hidungnya, Bulan hingga meneteskan air mata. Lantaran tes usap kali terasa lebih sakit.


"Tolong ditunggu tiga hari lagi ya Mbak ... jika memang gejalanya sedang, sementara Mbak Bulan bisa isolasi mandiri dahulu di rumah. Perhatikan prosedur isolasi mandiri seperti selalu memakai masker dan membuang masker bekas di tempat yang sudah ditentukan, Jika sakit (ada gejala demam, flu dan batuk), maka tetap di rumah. Jangan pergi bekerja, sekolah, ke pasar atau ke ruang publik untuk mencegah penularan masyarakat. Manfaatkan fasilitas telemedicine atau sosial media kesehatan dan hindari transportasi publik. Beritahu dokter dan perawat tentang keluhan dan gejala, serta riwayat bekerja ke daerah terjangkit atau kontak dengan pasien COVID-19. Selama di rumah, bisa bekerja di rumah. Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, dan jaga jarak 1 meter dari anggota keluarga. Tentukan pengecekan suhu harian, amati batuk dan sesak nafas. Hindari pemakaian bersama peralatan makan dan mandi dan tempat tidur. Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit berlanjut seperti sesak nafas dan demam tinggi, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut."


Bulan mendengarkan baik-baik penjelasan dari tenaga kesehatan itu dengan sungguh-sungguh.


"Nanti tiga hari lagi, kami akan datang lagi untuk melakukan tes usap lagi ya Mbak ... tetap semangat, semoga segera negatif." ucap tenaga kesehatan yang kemudian pamit dari rumah Bulan.

__ADS_1


__ADS_2