Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Puasa dalam Suasana Berbeda


__ADS_3

Ada yang berbeda pada bulan puasa kali ini, untuk pertama kalinya bulan Ramadhan tiba dalam situasi pandemi. Sebagaimana anjuran dari pemerintah, seluruh umat Muslim diminta untuk menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan di dalam rumah. Mengurangi mobilisasi di tengah masa pandemi.


Sore itu, Bulan yang masih berada di rumah Bintang dan tengah berpamitan pun mendapatkan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dari Bintang.


"Selamat menunaikan ibadah puasa juga ya Bulan. Semoga puasanya lancar sampai Idul Fitri." ucap pria itu dengan tulus.


Lantas Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Kamu juga ya Bintang ... selamat menjalankan ibadah puasa." ucapnya sembari sedikit tersenyum kepada Bintang.


Bulan lantas melihat ke dalam rumah, dia ingin berpamitan dengan Bu Rina sebelum pulang. Tidak elok dan kurang sopan rasanya saat ada orang tua di rumah dan kita sedang berkunjung, tetapi tidak berpamitan saat pulang.


"Bin, Ibu mana? Aku mau pamitan." ucap Bulan yang sudah berdiri dan hendak berpamitan dengan Ibunya Bintang tersebut.


"Sebentar ya, aku panggilkan Ibu." Bintang pun berlalu masuk ke dalam rumahnya dan mencari keberadaan Ibunya yang mungkin saja sedang berada di dapur.


Tidak berselang lama, Bu Rina dan Bintang keluar bersama-sama.


"Bulan, mau pamit Bu...." ucap Bintang yang memberitahu langsung kepada Ibunya bahwa Bulan hendak berpamitan.


"Kok keburu-buru Mbak ... main di sini dulu enggak apa-apa. Lagian rumahnya juga deket kan." ucap Bu Rina yang sebenarnya memang berharap gadis berwajah ayu itu masih tinggal di rumahnya.


Bulan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Maaf Bu ... soalnya sudah ditunggu sama Ibu di rumah."

__ADS_1


"Sering-sering main ke sini, Mbak ... nanti bulan puasa, kita buka bersama, enggak apa-apa." celetuknya yang membuat wajah Bulan tiba-tiba memerah lantaran malu mendengar ajakan dari Ibunya Bintang untuk buka puasa bersama.


"Sudah Bu ... jangan begitu." Bintang memperingatkan Ibunya karena dia tidak mau Bulan merasa malu dan tidak nyaman.


Hanya tertawa dan membuang kecanggungan dari dirinya. "Saya pamit nggih Bu ... selamat menunaikan ibadah puasa nggih Bu." ucap Bulan sembari menundukkan kepalanya tanda dia menghormati Ibunya Bintang tersebut.


"Iya Mbak ... sama-sama. Hati-hati di jalan." ucapnya sembari mengantarkan Bulan hingga ke depan pintu.


Sementara Bintang masih berjalan mengekori Bulan. Pria itu mengantarkan Bulan hingga ke depan gerbang rumahnya. "Terima kasih Kue Bolunya ya. Euhm, Bulan ... kapan-kapan mau enggak buka puasa bersama?" ajaknya kepada Bulan. Sekalipun pria itu terlihat ragu, tetapi Bintang pun mengatakan apa yang menjadi keinginannya kepada Bulan. Berharap gadis yang dia cintai itu mau berbuka puasa bersama dengannya.


Mungkin ajakan Bintang biasa saja, tetapi Bulan masih teringat dengan peristiwa di Air Terjun Kedung Kayang yang berimbas pada hubungannya bersama Surya. Hal ini membuat gadis cantik ini untuk berpikiran lebih matang sebelum mengiyakan ajak Bintang.


"Maaf ... lain waktu saja ya Bin." ucapnya.


Setelah itu, Bulan mengendarai sepeda motor maticnya kembali ke rumah. Gadis itu berusaha menenangkan sendiri dirinya. Puasa pertama di masa pandemi dengan status hubungannya dengan Surya yang terjeda. Bebebrapa hari berlalu, tidak ada kabar dari Surya. Bulan pun juga tidak memberikan kabar kepada Surya. Keduanya sama-sama memilih diam. Semua momen terasa berubah, terlebih bulan puasa kali ini menjadi bulan Ramadhan pertama kali bagi Bulan dan Surya yang tengah menjalani pacaran jarak jauh.


Begitu sampai di rumah, Bulan lantas menemui Ibunya yang masih berada di dapur.


"Bulan pulang Bu ...." sapanya menemui Ibunya kemudian mencuci tangannya terlebih dahulu, sebelum mulai membantu pekerjaan di dapur bersama Ibunya.


"Sudah ketemu Bintang? Semoga Mas Bintang suka ya." ucap Bu Sundari yang berharap teman anaknya bernama Bintang itu akan suka dengan Kue Bolu yang dibuatnya bersama dengan Bulan.

__ADS_1


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya. Sudah Bu ... tadi ada Ibunya Bintang juga, Bu Rina. Rasanya Bulan jadi canggung, Bu. Sebenarnya tadi disuruh main di sana dulu, tetapi Bulan kan malu, Bu."


Mendengar cerita dari anaknya, Bu Sundari justru terkekeh geli. "Gak usah malu, nanti malahan malu-maluin. Yang penting dengan orang lain itu menghormati dan menghargai."


"Iya Bu ... Bulan ingat kok nasihat dari Ibu, kalau bertemu orang lain itu yang sopan. Cuma kan baru kali ini Bulan bertamu ke rumah Bintang, jadi ya Bulan malu Bu." ceritanya lagi yang mengatakan bahwa dirinya benar-benar malu saat bertamu ke rumah Bintang.


Meninggalkan sejenak obrolan tentang Bintang, Bu Sundari lantas bertanya kepada Bulan. "Kamu masih baik-baik sama Surya kan? Beberapa waktu ini keliatannya kalian berdoa tidak saling menelpon."


Seolah tercekat, Bulan hanya tersenyum kecut. Rupanya Ibunya begitu memperhatikannya, hingga dirinya yang jarang telponan akhir-akhir ini menjadi perhatian bagi Ibunya.


"Baik kok Bu ... kaminya yang baru sama-sama sibuk." jawab Bulan dengan singkat dan berusaha menutupi jeda yang diucapkan Surya.


Bu Sundari lantas tersenyum. "Ya sudah ... karena jauh dan kalian berdua sama-sama bekerja, kesibukan itu wajar. Ngomong-ngomong ini menjadi bulan puasa pertama bagi kalian menjalani LDR ya."


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... benar Bu. Puasa pertama di masa pandemi dan juga puasa pertama LDR-an sama Surya."


Seolah menasihati, Bu Sundari menepuk pundak putrinya itu. "Sekarang perbanyak ibadah, Nduk ... jika ada kerisauan di dalam hatinya, waktu ini menjadi waktu yang baik untuk memohon petunjuk dari Allah. Di bulan puasa, Allah membuka pintu rahmat sebesar-besarnya, mendekatkan diri, dan meminta petunjuk dari Allah. Termasuk untuk hubunganmu dengan Surya. Entah mengapa, Ibu sendiri merasa kok kalian berdua mulai hambar dan tidak saling memberi kabar. Tidak seperti dahulu. Jika Allah memberi petunjuk, hati ini rasanya lega, Nduk."


Nasihat yang begitu baik dan mulia dari Bu Sundari tentunya, sebagai orang tua dia paham benar bahwa hubungan putrinya dengan Surya seolah terasa hambar. Tanpa Bulan bercerita ternyata Bu Sundari pun sudah bisa menerka.


Di sisi lain Bulan juga menimbang-nimbang dalam hatinya, hubungannya memang terasa hambar, seperti sayur tanpa garam.Tidak berasa. Sayangnya, dengan jeda atau menggantungnya hubungan ini pun Bulan tidak bisa memprediksi bagaimana hubungan mereka berdua ke depannya.

__ADS_1


Nampak Bulan menghela napasnya dengan kasar. "Terima kasih nasihatnya Bu ... doakan juga untuk kami berdua. Apa pun petunjuk yang Allah berikan, Bulan ikhlas Bu. Kan sejak awal, sejak memulai pacaran jarak jauh ini, Bulan sudah berkata kepada Surya bahwa Bulan tidak bisa menjanjikan apa-apa. Bulan hanya berusaha menjalani saja Bu. Selebihnya memang Bulan serahkan kepada Tuhan."


__ADS_2