
“Aku berharap kita berdua sama-sama kuat. Menjalani hubungan jarak jauh memang tidak mudah, tetapi aku berharap perahu kita akan terus berlayar. Perahu kita tidak akan karam.” ucap Surya dengan penuh kesungguhannya.
Akan tetapi, Bulan hanya bisa mendengarkan apa yang Surya katakan. Dia tahu, kondisi dengan susah bahkan untuk bertemu muka dengan muka rasanya sangat susah. Ditambah dengan pesawat penumpang yang tidak mengudara, membuat pintu untuk bertemu semakin tertutup. Apa mau dikata, Bulan hanya bisa bersabar.
Menilik kembali kisah cinta mereka ke belakang, bukannya Bulan tidak bersabar. Bulan justru sosok yang selalu bersabar dengan Surya. Bahkan Bulan memilih diam saat Surya berkali-kali melakukan sesuatu tanpa persetujuannya, itu semua karena Bulan tahu bahwa posisinya sekarang hanya sebatas pacar. Pacar tidak memiliki otoritas penuh, sementara saat posisi sudah berganti menjadi seorang istri barulah otoritas yang dimiliki menjadi penuh. Kesabarannya lah yang membuat hubungan keduanya mampu bertahan hingga enam tahun lamanya.
Namun, semua telah berbeda. Kini bisa memandang wajah Surya secara langsung pun rasanya tidak bisa. Bulan hanya bisa menelpon Surya, dan melihat wajahnya melalui panggilan video yang beberapa kali mereka lakukan,semuanya sudah berubah, tetapi sampai di batas mana lagi dia harus bersabar.
Bulan merebahkan dirinya di atas tempat tidur, gadis berparas ayu itu menghela nafasnya. “Dengan kondisi seperti ini sejauh apa kita berdua bisa sama-sama kuat, Surya? Kondisinya sudah berubah bukan?”
Sebuah pertanyaan dari Bulan yang syarat akan keraguan di dengar oleh Surya. Merasa kekasihnya di sana mengalami keraguan, Surya lantas mengalihkan panggilan selulernya menjadi panggilan video. Dia ingin melihat langsung wajah dan ekspresi Bulan saat ini.
“Aku alihkan menjadi panggilan video. Tolong diterima Bulan ….” ucapnya.
Sepersekian detik kemudian, panggilan video berlangsung di sana terdapat wajah Surya yang tengah duduk dan mengamati wajah ayu kekasihnya dari layar handphonenya.
__ADS_1
“Apa kamu sudah tidak yakin lagi dengan perasaan kita berdua, Bulan?” tanya Surya dengan perlahan.
Bulan hanya mampu tersenyum pias, gadis itu kini kembali duduk dan merapikan rambut panjangnya yang menjuntai indah. “Entahlah Surya … aku tidak tahu. Terlebih sekarang, pesawat penumpang pun tidak mengudara. Akan semakin lama bukan kita berpisah seperti ini.”
Jawaban yang selalu Bulan berikan sejak keduanya resmi menjalankan Long Distance Relationship sesungguhnya sangat membuat Surya tidak tenang. Beberapa bulan telah berlalu, tetapi seakan Bulan hanya memberi jawaban “entahlah”. Bagi Surya itu adalah sebuah jawaban yang tidak pasti. Namun, apa mau dikata. Semuanya memang terjadi dan tidak bisa dibisa diulangi lagi. Menyesali setiap hari juga tiada guna. Hanya bisa bertahan dan berjuang, sembari berharap bahwa hubungan keduanya akan terus berlayar.
“Kuatkan hatimu, Bulan. Kumohon. Hanya dengan menguatkan hati saja, kita bisa bertahan. Sudah beberapa bulan bukan kita bertahan? Apa kau akan menyerah untuk hubungan kita yang sudah enam tahun lamanya ini?” tanya Surya sembari menatap lekat wajah Bulan dari layar gadgetnya.
Bulan pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Dari awal aku bilang, aku hanya bertahan Surya. Lagipula akhir-akhir ini aku merasa kamu terlalu posesif kepadaku, terutama jika menyangkut tentang Bintang. Sudah berkali-kali aku bilang bukan, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Akan tetapi, rasanya kamu terlalu cemburu padaku dan Bintang. Cemburu boleh, Surya … tetapi, jangan berlebihan. Cemburu berlebihan justru mengidentifikasikan kalau kita tidak percaya dengan pasangan kita.”
Surya mendengarkan setiap perkataan Bulan, pria itu pun menganggukkan kepalanya. “Maaf Bulan … aku terlalu takut jika kamu tergoda dengan pria lain di sana, termasuk Bintang. Aku tidak bisa menjagamu secara langsung. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung. Sudah selayaknya aku menjadi lebih cemburu saat kamu bersama pria lain. Lebih baik kamu bicara padaku jika kamu bertemu Bintang, daripada aku mengetahuinya dari orang lain, termasuk dari Ibuku. Itu lebih menyakitkan.” ucap Surya dengan jujur.
Hening sejenak. Keduanya nampak larut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, Bulan memberanikan untuk bertanya kepada Surya.
“Surya … bolehkah aku bertanya?”
__ADS_1
Surya pun mengangguk tanda setuju. “Apa?”
“Jika hubungan kita berdua berhasil dan hingga ke jenjang yang serius, selanjutnya apa yang akan kita lakukan? Sementara pekerjaanmu ada di Makassar dan aku menjadi pengajar di Jogjakarta. Bagaimana pendapatmu, Surya? Mau tidak mau ini akan kita diskusikan bersama bukan?” tanya Bulan dengan serius.
“Pekerjaanku tidak menetap di Makassar, Bulan. Sebagai Abdi Negara, aku harus siap dimutasi kapanpun. Ditempatkan di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Bisa mengajukan mutasi, tapi dengan seizin pemerintah. Jika atasan tidak mengizinkan ya sudah, kami harus taat dan patuh pada Ibu Pertiwi. Hidup bergantung pada Surat Keputusan Mutasi yang membawa kami. Seperti itu hidupku, Bulan....” jawabnya dengan serius dan Surya pun berharap kali ini Bulan akan mengerti keadaannya.
Selebihnya Surya nampak diam dan dia mengamati ekspresi wajah Bulan yang seolah tidak puas dengan jawaban yang dia berikan. “Bulan, apa tidak bisa jika kita benar-benar sudah menikah, kamu meninggalkan pekerjaanmu di Jogjakarta dan dampingilah aku. Aku memintamu, dampingilah aku....” ucap Surya perlahan.
Permintaan yang sesungguhnya membuat lidahnya kelu dan baru kali ini Surya meminta Bulan untuk meninggalkan pekerjaannya.
Bulan hanya bisa tersenyum getir mendengar permintaan yang Surya ucapkan. “Berikan aku alasan, kenapa aku harus meninggalkan pekerjaanku dan mendampingimu, Surya?” tanya Bulan.
Sekali lagi Surya nampak berpikir, Bulan memang gadis yang berpikiran logis, dia selalu membutuhkan alasan yang tepat sebelum mengambil satu keputusan. Oleh karena itu, Surya ingin memberikan alasan yang tepat bagi Bulan.
“Karena kamu akan menjadi Istriku, maka dampingilah aku, Bulan. Ikutilah denganku ke setiap tempat yang aku tuju nantinya. Ke manapun Surat Mutasi membawaku, ikutlah dan dampingilah aku. Aku yang meminta padamu, Bulan.” jawab Surya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana dengan mimpi dan cita-citaku Surya?” tanya Bulan dengan wajah yang tak kalah serius.
Surya seketika dilema saat Bulan bertanya tentang mimpi dan cita-citanya. Seketika pria itu merasa sudah menjadi pribadi yang egois saat meminta Bulan untuk mendampinginya tanpa memikirkan cita-cita dan mimpi yang dimiliki oleh Bulan. Namun, di satu sisi dia ingin Bulan lah yang menemani dan mendampinginya. Ditempatkan di seluruh Indonesia bukan masalah asalkan Bulan tetap mendampinginya.