
Kedatangan Bintang diterima baik oleh kedua orang tua Bulan. Teman anaknya sejak SMA itu tidak hanya seorang pria yang sopan, tetapi juga baik. Tika pun juga bahagia saat Bintang ke sana dan memberikan es krim untuknya.
"Om Bintang, hanya beli es krim buat Tika? Bu Guru tidak dibeliin es krim?" tanya Tika dengan polosnya.
Bintang pun tersenyum dan sedikit melihat pada Bulan. "Ya besok kalau Om Bintang ke sini, Bu Guru juga Om beliin es krim ya. Sama kayak Tika." jawab Bintang sembari tersenyum.
"Enggak usah beliin aku, Bin...." sahut Bulan yang merasa bahwa dia tidak usah dibelikan es krim oleh Bintang.
"Nak Bintang kerjanya apa?" tiba-tiba Bu Sundari pun nimbrung dan menanyakan pekerjaan Bintang.
"Saya Programmer Bu. Ikut di perusahaan rintisan, tetapi sekarang sedang bekerja dari rumah, Bu." jawab Bintang.
Bu Sundari nampak menganggukkan kepalanya. "Sekarang keadaan baru susah, yang penting tetap bekerja. Jangan lupa menabung Mas Bintang. Udah ada calonnya belum?" lagi Bu Sundari bertanya kepada Bintang.
Dengan segera Bintang menggelengkan kepalanya. "Belum ada calonnya, Bu. Saya masih jomlo. Fokus ke kerjaan dulu, Bu. Jodoh menunggu dari Tuhan."
Pak Hartono justru tertawa mendengar jawaban Bintang. "Sekarang jodoh itu dicari, Mas ... dikejar. Tidak mungkin jodoh itu datang dari langit."
Berbicara jodoh nampaknya membuat Bintang kelabakan. Sebab setelah lama putus dengan Arunika, pria itu tidak pernah lagi berhubungan dengan seorang cewek.
"Nanti akan dicari, Pak ... doakan mendapat jodoh yang terbaik." sahut Bintang.
"Andai kami masih punya anak cewek, saya jadikan menantu, Mas...." celetuk Bu Sundari yang membuat Pak Hartono tertawa.
"Mas Bintang anaknya baik, rajin bekerja, sayang sama anak-anak, juga tampan. Sayangnya, anak kami cuma Bulan." lagi Bu Sundari memuji sosok Bintang yang membuat pria itu cukup malu.
Sementara Bulan hanya tersenyum mendengar obrolan orang tuanya dan juga Bintang. Di sela-sela obrolan mereka, nampaknya handphone Bulan berbunyi. Surya sedang menelponnya.
"Maaf, Bulan angkat telepon dulu. Tika sama Om Bintang dulu ya...."
Bulan pun memilih keluar dari rumah untuk menerima telepon dari Surya. Dengan segera jarinya menggeser ikon telepon berwarna hijau pada layar handphonenya.
"Ya halo ... ada apa Surya?" tanya Bulan ketika teleponnya telah tersambung.
__ADS_1
"Gak apa-apa Bulan. Biasa cuma telepon aja. Kamu baru ngapain?" tanya Surya dari seberang sana.
"Aku baru ngobrol aja sama Bapak dan Ibu. Ada Bintang juga yang main di sini, nengokin Kartika." jawab Bulan dengan jujur.
Akan tetapi tidak dengan Surya, akhir-akhir ini nama Bintang agaknya mampu mengusik hatinya. Sekalipun Bintang adalah sahabatnya sendiri, mengapa tiap kali mendengar nama itu hatinya terasa tidak baik-baik saja.
"Kenapa Bintang main ke sini? Emang dia kenal dengan Tika?" tanya Surya yang berusaha menekan perasaannya saat ini.
Bulan nampak menganggukkan kepalanya. "Ya, Tika adalah tetangganya. Dia datang membelikan es krim buat Tika. Membuat Tika gembira dan melupakan kesedihannya." cerita Bulan kepada Surya.
"Oh, jadi dia tetanggaan dengan Tika. Berapa lama lagi, Tika akan di rumahmu?" lagi tanya Surya kepada Bulan.
Kali ini Bulan sedikit berjalan. "Euhm, sampai Ibunya keluar dari Rumah Sakit. Doakan saja Ibunya segera pulih, sehingga Tika bisa segera berkumpul bersama Ibunya. Kasihan juga kalau dia lama-lama di sini." jawab Bulan.
"Oke Bulan ... baiklah. Jaga terlalu dekat dengan Bintang, jaga hati. Aku mau keluar cari makan dulu.
" pamitnya dan kemudian mematikan telepon.
"Dari siapa Bulan?" tanya Ibunya begitu Bulan kembali duduk di kursi yang berada di ruang tamu itu.
Bulan hanya tersenyum. "Biasa Bu, dari Surya." jawabnya sembari memasukkan handphonenya ke dalam saku celananya.
"Es krim nya sudah habis, Tik?" tanya Bulan yang melihat tidak ada lagi es krim cone di tangan Tika.
Anak itu pun menggelengkan kepalanya. "Sudah habis Bu Guru." jawabnya sembari tersenyum.
"Tidak lama setelah kamu keluar, es krim nya sudah habis kok." sahut Bu Sundari yang membuat Tika tertawa.
"Bapak kita masuk ke dalam yuk, sapa tau ada yang mau mereka obrolkan. Silakan ya Nak Bintang, makasih juga buat oleh-olehnya. Lain kali kalau mau main, datang saja. Gak usah bawa oleh-oleh." Kemudian Bu Sundari mengajak suaminya untuk masuk ke dalam. Mungkin saja ada yang ingin diobrolkan Bintang dengan Bulan.
Usai kedua orang tuanya masuk ke dalam, justru Bulan dan Bintang nampak canggung. Mau memulai obrolan rasanya kok susah. Akhirnya Bulan mencoba mengeluarkan suara.
"Mau minum apa Bin? Biar aku buatkan." Bulan menawarkan minuman kepada Bintang.
__ADS_1
"Gak usah repot-repot Bulan. Gak usah aja." sahut Bintang yang mengatakan supaya Bulan tidak usah repot.
"Kalau cuma minuman enggak repot kok. Mau apa?" jawab Bulan yang kini sudah berdiri.
"Terserah aja Bulan, yang penting enggak merepotkan. Malahan enggak enak aku, malahan ngerepotin kamu." jawab Bintang.
Akhirnya Bulan pun tersenyum. "Oke, tunggu dulu ya."
Bulan berjalan ke dapur, sementara Bintang masih mengobrol dengan Tika di ruang tamu. Tidak menunggu waktu lama, Bulan keluar dengan membawa nampan kecil yang di atasnya terdapat Teh Panas.
"Teh Panas ya Bin ... diminum ya, harus habis."
"Makasih ya, aku malahan ngerepotin." ucap Bintang sembari meminum sedikit Teh Panas yang dibuatkan oleh Bulan.
"Enggak repot kok, kan cuma bikin Teh aja. Diminum ya ... dihabisin." sahut Bulan sembari duduk di sebelah Tika.
Tika yang sejak tadi duduk dan sekali-kali berbicara dengan Bintang, tiba-tiba bertanya yang membuat Bintang dan Bulan nampak terkejut.
"Om Bintang ini apa pacarnya Bu Guru ya?" tanya Tika dengan polos.
"Bukan ... Om Bintang ini temannya Bu Guru. Teman sejak SMA dulu." jawab Bintang dengan segera.
Bulan pun juga menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu Guru hanya berteman dengan Om Bintang." jawab Bulan.
Akan tetapi, Tika nampaknya masih belum puas. "Om Bintang cocok dengan Bu Guru. Om Bintang cakep dan baik, Bu Guru juga cantik dan baik hati."
Bintang terkekeh mendengar celetukan Kartika. "Kami cocok sebagai teman, Tika. Bu Guru sudah ada yang punya namanya Om Surya. Nanti kalau Om Surya pulang ke Jogja, kenalan ya...." ucap Bintang yang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Tika.
"Om Surya nya di mana Bu Guru?" tanya Tika kepada Gurunya itu.
"Ada di Makassar ... kerja di sana." jawab Bulan dengan tenang.
"Yah ... kenapa Bu Guru tidak sama Om Bintang aja." sahut Tika dengan cemberut.
__ADS_1