Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Cinta Ini Akhirnya Memiliki Nama


__ADS_3

Masih di Secret Garden Kafe, Bulan justru nampak menundukkan wajahnya. Suasana canggung nampak melingkupi keduanya. Akan tetapi, Bintang justru menatap dengan begitu lekat, gadis ayu yang kini menjadi kekasih hatinya itu. Rasa bahagia bercampur lega menjadi satu dalam dada pria itu.


"Aku seneng ... karena akhirnya cinta ini memiliki nama." Bintang mengeluarkan suaranya sembari terus memandang Bulan.


Gadis yang semula menunduk itu pun perlahan mengangkat wajahnya, demi bisa menatap Bintang, "maksud kamu apa Bin?" Tanyanya sembari mencerna maksud perkataan Bintang bahwa sekarang cinta itu memiliki nama.


Bintang pun nampak mengukir senyuman di sudut bibirnya, "dulu ... aku mencintaimu seorang diri, memendam rasa ini sendirian. Sekarang saat cinta ini berbalas, berarti ada satu nama yang tersemat di dalamnya. Ada nama kita berdua dalam jalinan cinta itu, Bulan dan Bintang," ucapnya dengan begitu lega rasanya.


Saat perasaan yang sekian lama tersimpan, hingga akhirnya berlabuh, rasa membuncah dalam dada seolah begitu terasa dalam hati pria itu. Bulan pun tersenyum menatap Bintang, "apa kamu benar-benar mencintaiku sebesar itu?"


Anggukan yang diberikan oleh Bintang cukup menjadi jawaban bagi Bulan, diikuti oleh pengakuannya, "ya ... sangat mencintaimu. Bahkan bertahun-tahun aku menjadi sad boy pun sudah aku lakukan. Kendati demikian, dalam setiap tahun, doaku tetap sama semoga kamu selalu bahagia."


Perkataan dan sekaligus pengakuan yang mampu membuat hati Bulan begitu bergetar rasanya. Di mana sekarang di hadapannya ada pria yang mau menjadi seorang sad boy dan selalu mendoakan untuk kebahagiaannya. Dicintai sebesar itu, jujur saja membuat Bulan terharu.


"Makasih ya Bin ... sudah menyimpan perasaan itu untuk waktu yang lama," ucapnya sembari tersenyum menatap wajah Bintang, "Sekarang, katakan padaku semua hal tentangmu, Bin ... supaya aku bisa lebih mengenalmu."


Bintang pun tergelak dalam tawa, ternyata Bulan memang benar-benar ingin mengenalnya, "namaku Bintang Alan Pratama, pekerjaan IT Engineering, rumahku tentu kamu sudah tahu kan?" Tanya sembari tertawa.


"Serius Bin ... jangan bercanda," sahut Bulan dengan cepat.


"Kamu yang bertanya, dan aku akan menjawab," ucap Bintang pada akhirnya.


Bulan nampak mengangguk, gadis itu lantas berpikir pertanyaan apa yang harus dia berikan kepada Bintang. Bulan bahkan mempersiapkan pikirannya untuk mengingat segala hal tentang Bintang.

__ADS_1


"Makanan kesukaan?"


"Gudeg ... ya, aku sangat suka Nasi Gudeg," jawab Bintang dengan cepat.


"Minuman kesukaan?"


"Teh, lebih suka jika teh tubruk dan bukan teh celup."


"Warna kesukaan?"


"Hitam."


Warna yang sudah menjadi favorit para kaum Adam, jadi Bulan pun sedikit banyak tahu jika pria memang menyukai warna hitam.


Bukan langsung menjawab, kali ini Bintang justru memandang Bulan dengan kedua netranya, pria itu kemudian tersenyum terlebih dahulu, "semua kriterianya ada di dalam diri kamu. Gadis yang baik, lembut, santun, baik hati. Semuanya ada dalam diri Bulan Maheswari," jawabnya dengan menunjukkan keseriusan di wajahnya.


Bulan hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "gombal banget. Aku kira seorang Bintang yang selalu diam dan tenang tidak akan bisa mengucapkan perkataan seperti ini. Ternyata kamu sangat bisa."


Bintang pun lantas tertawa, "aku sedang tidak menggombal loh, tetapi aku sedang berbicara fakta. Makasih ya, akhirnya sudah memberiku kesempatan. Nanti pulang, aku ikut ke rumah ya."


Gadis itu nampak mengernyitkan keningnya, mengapa Bintang justru ingin mengikutinya untuk pulang ke rumah, "kenapa ikut pulang ke rumahku, Bin?" Tanya kepada Bintang.


"Aku perlu berbicara dengan Bapak dan Ibu, sekaligus meminta izin bahwa aku serius sama kamu, Bulan. Aku bukan pria yang mau main-main, perasaanku kepadamu sangat serius. Oleh karena itu, aku pun tidak ingin main-main denganmu. Seperti ucapanku dulu, cintaku akan memberimu kepastian." Bintang berbicara dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Perasaan cinta dan sukanya kepada Bulan bukanlah perasaan main-main, dia akan benar-benar membuktikan bahwa cintanya akan memberi Bulan kepastian. Cintanya tidak akan membuat Bulan menunggu, dan cintanya akan selalu menang. Pria itu hanya ingin mengejar cintanya dan mengamankan posisinya bahwa dia adalah pria yang sangat serius.


"Secepat itu ingin menemui Bapak dan Ibu, Bin?" Tanyanya kepada Bintang.


"Iya... lebih baik jika memulai hubungan ini dengan restu dari kedua orang tua kita. Semoga ke depannya, hubungan kita selalu baik adanya. Aku percaya, dengan restu dari orang tua kita, menjalani hubungan jauh lebih tenang." sahutnya dan meyakini bahwa restu dari orang tua memang akan memberikannya ketenangan.


Tidak berselang lama, dengan mengendarai sepeda motor masing-masing, Bulan dan Bintang pulang dari Secret Garden kafe dan menuju rumah Bulan. Seperti yang diucapkan Bintang barusan bahwa dirinya ingin berbicara dengan kedua orang tua Bulan.


Begitu telah sampai di rumah Bulan, pria itu pun turut mengekori Bulan memasuki rumah gadis itu. "Duduk dulu, Bin ... sebentar ya aku panggilkan Bapak dan Ibu." Bulan mempersilakan Bintang untuk duduk terlebih dahulu dan memasuki rumah untuk memanggil Bapak dan Ibunya.


"Bapak ... Ibu ... ada temen Bulan yang mau bertemu sama Bapak dan Ibu," ucapnya menyampaikan bahwa ada temannya yang ingin berbicara dengan Bapak dan Ibu.


Pasangan paruh baya itu nampak saling pandang, kemudian berjalan keluar menuju ruang tamu, melihat siapa yang berada di sana. Ternyata yang mereka lihat sekarang ini, tidak lain dan tidak bukan adalah Bintang.


"Malam Bapak dan Ibu ...," sapa Bintang dengan begitu sopan kepada Bapak dan Ibunya Bulan.


"Ya ya ya ... malam Mas Bintang. Tumben, setelah cukup lama, baru sekarang main ke sini," sahut Pak Hartono kepada Bintang.


Pria itu pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "iya Pak ... sebenarnya mau mampir, tetapi beberapa waktu terakhir pekerjaan saya sedang banyak."


"Tidak apa-apa Mas Bintang ... mumpung masih muda, bekerja keras. Anak muda kan semangatnya tinggi. Bekerja dulu Mas." sahut Pak Hartono lagi kepada Bintang.


"Nggih Pak ... masih bersyukur bisa terus bekerja, di saat kondisi sedang tidak baik seperti ini." Bintang lantas menghela napasnya sejenak, kemudian dia memulai membuka suaranya kembali, "Bapak dan Ibu, sebenarnya selain mampir, Bintang ke sini untuk meminta izin kepada Bapak dan Ibu. Sebenarnya saya menyukai Bulan, Pak, Bu ... bagi saya lebih baik memulai sebuah hubungan dengan meminta restu dari Bapak dan Ibu terlebih dahulu, sehingga ke depannya lebih baik." Bintang menyampaikan niatan kali ini dengan sungguh-sungguh. Sekalipun pria itu begitu grogi, tetapi karena ini serius dengan anak gadis orang, maka Bintang pun memilih menemui kedua orang tua Bulan terlebih dahulu.

__ADS_1


Berharap keinginannya meminta restu akan disambut baik dan hubungan dengan Bulan bisa berjalan dengan baik dan tidak perlu melakukan backstreet.


__ADS_2