Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Kejengahan


__ADS_3

Untuk pertama kali dalam beberapa bulan terakhir, Bulan terasa jengah dengan Surya. Menurut Bulan, Surya bertingkah terlalu posesif dan mengekangnya. Untuk pertama kali, gadis itu memilih mematikan panggilan telepon dari Surya. Tidak sampai di situ, Bulan bahkan juga menon-aktifkan handphonenya.


Setelahnya Bulan berusaha menenangkan kembali dirinya sendiri dan menghela napasnya perlahan. Melakukan relaksasi terlebih dahulu sebelum menemui Bintang yang masih duduk di depan teras rumahnya.


Tidak langsung menemui, Bulan nyatanya memilih pergi terlebih dahulu ke dapur untuk membuatkan minuman bagi Bintang. Secangkir teh panas dia buat dengan tangannya sendiri untuk Bintang.


Setelahnya Bulan pergi ke luar, menuju teras dengan menyerahkan secangkir teh panas itu kepada Bintang.


"Diminum dulu Bin...." ucapnya sembari mengambil duduk tidak jauh di sebelah Bintang.


Di kursi kayu yang memang sengaja ditaruh di teras rumah untuk mengobrol sembari melihat taman kecil berisi aglonema yang ditanam di sana.


Bintang nampak menganggukkan kepalanya. "Makasih Bulan ... malahan repot-repot loh."


"Enggak repot Bin... cuma sekadar membuat teh saja. Kamu justru menolongku lebih banyak dari ini." ucap Bulan yang memang menilai pertolongan yang Bintang berikan selama dirinya positif kemarin memang tidak ternilai.


Bahkan Bintang pun menyempatkan diri nyaris setiap hari hanya untuk mengunjungi Bulan dan menatap wajah gadis itu dari jauh. Jika di masa lalu, Romeo akan mengendap-endap dan menaiki jendela untuk menemui Juliet, di masa ini Bintang cukup berdiri di depan pintu gerbang dan memandang Bulan dari jauh.


Pria nampak sedikit menyunggingkan senyuman. "Jangan seperti itu, kita akan berteman. Harus saling tolong menolong. Sapa tahu, suatu saat kamu yang akan menolongku." ucap Bintang.


Bulan nampak mengernyitkan keningnya dan gadis itu nampak menggeleng dengan pias. "Jika bisa, jangan sampai terpapar corona dan positif, Bin ... rasanya enggak enak banget. Seolah kita menghitung hari, berada di antara hidup dan mati. Bukan hanya badan kita yang sakit, tetapi secara mental pun ikut sakit, lelah rasanya. Aku saja kemarin nyaris down, aku takut kalau aku tidak bertahan." cerita Bulan secara langsung kepada Bintang.

__ADS_1


Bintang dengan sungguh-sungguh mendengarkan cerita Bulan. Pria itu merasakan bagaimana kalutnya Bulan saat positif kemarin. Memang sebuah hal yang normal dan wajar, terlebih saat itu belum ditemukannya obat untuk mereka yang terpapar Corona. Dokter hanya memberikan obat berdasarkan pada gejala yang ditimbulkan. Misalkan pasian mengalami gejala demam, maka obat yang diberikan paracetamol.


Sementara vaksin yang digadang-gadang bisa mengurangi gejala yang ditimbulkan masih dalam tahap uji klinis. Tidak hanya Bulan, siapapun yang mengalaminya pasti akan dilema dan layaknya tengah berdiri di tepi jurang.


"Akan tetapi, aku tahu kalau kamu kuat Bulan ... kamu sudah membuktikan bahwa kamu adalah seorang pejuang negatif dan perjuanganmu memberikan hasil bukan?" ucap Bintang seraya membesarkan hati Bulan.


Mengangguk perlahan, Bulan pun lantas tersenyum. "Aku berjuang untuk bisa kembali hidup berdampingan dengan orang tuaku dan bagi mereka yang selalu mensupportku. Aku memang down, tetapi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku harus semangat. Aku harus bertahan. Aku akan sembuh." ucap Bulan dengan mata yang nampak berkaca-kaca.


Sisi sensitivitasnya sebagai seorang wanita sedang begitu terlihat di sana. Bintang pun menyadari bahwa tidak mudah bagi Bulan untuk hidup sendiri menjalani masa karantina selama 14 hari lamanya.


"Semangat selalu ya...." ucap Bintang dengan menatap lekat wajah Bulan.


"Euhm, Bin ... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Bulan perlahan.


"Pernahkah kamu merasa jengah dengan sesuatu? Jika kamu jengah apa yang akan kamu lakukan?"


Tidak langsung menjawab, Bintang justru terlebih dahulu melihat Bulan. Mencoba menggali makna dari pertanyaan yang Bulan ajukan. Sebab tidak biasanya, Bulan bertanya hal seperti itu kepadanya.


"Apa kamu sedang jengah terhadap sesuatu?" Bintang bertanya balik dan sedikit menoleh pada Bulan.


Sayangnya gadis itu hanya tersenyum pias. Senyuman yang hanya terlihat dari balik masker yang saat ini tengah dia kenakan.

__ADS_1


"Bukan sih ... maksudnya aku cuma sebatas bertanya saja kok. Enggak perlu dijawab juga." ucapnya sembari tertawa sumbang.


"Kalau jengah itu wajar, ada kalanya seseorang menjadi jengah terhadap suatu hal atau keadaan. Jika sedang jengah, coba ingat kembali momen-momen manis yang bisa membangkitkan semangat kamu. Sapa tau itu bisa mengatasi kejengahan yang saat ini kamu rasakan." jawab Bintang, dan pria itu terlihat begitu hati-hati saat menjawab Bulan.


"Makasih Bin ... jawabannya. Oh, iya ... sampai lupa diminum dulu. Gak terasa sebentar lagi bulan puasa ya Bin ... puasa pertama di masa pandemi." ucap Bulan yang memang mengalihkan pembicaraan dan mengingat bahwa tidak lama lagi akan memasuki bulan puasa.


"Iya ... Euhm, karena kamu sudah pulih. Jadi enggak kita jalan-jalan? Katamu pengen jalan-jalan setelah sembuh. Kapan yuk, kita jalan-jalan bareng." ajak Bintang yang mengingatkan pada keinginan Bulan bahwa setelah dia sembuh ingin jalan-jalan.


Bulan pun tersenyum. "Boleh ... hari minggu aja, kan aku libur. Kalau hari biasa kan aku tetap ngajar, Bin ... pekerjaanku malahan lebih banyak di sekolah daring ini. Sampai malam masih kerja."


"Boleh ... besok minggu gimana? Kamu pengen kemana?" lagi tanya Bintang yang bertanya kemana Bulan pergi untuk jalan-jalan.


Kening Bulan nampak berkerut, sontak saja dia memikirkan tempat mana yang ingin dia datangi. Sebab Bulan sesungguhnya adalah anak rumahan, sekalipun dia lahir dan besar di Jogja, beberapa tempat memang belum dia kunjungi.


"Ajak aku ke tempat yang bagus dan instagramable, Bin ... aku pengen ke tempat-tempat yang bagus. Manut aja sih aku." ucap Bulan dengan cepat.


Seketika Bintang pun berpikir tentang berbagai tempat di Jogjakarta yang bagus dan instagramable. Agaknya pria itu harus mengumpulkan beberapa tempat yang instagramable yang akan dia tunjukkan kepada Bulan. Jujur saja di Jogjakarta sendiri menyimpan wisata alam dan wisata budaya yang indah dan tentunya instagramable.


"Baik ... coba nanti aku cari-cari dulu tempat-tempat yang bagus dan instagramable itu. Aku jemput kamu jam berapa besok Minggu? Mau naik sepeda motor atau mobil?" tanya Bintang dengan panjang lebar.


"Aku ngikut kamu aja, Bin ... mau naik apapun enggak masalah kok buatku. Aku justru senang akhirnya aku bisa jalan-jalan, menghirup udara segar, melihat tempat-tempat yang bagus." ucapnya dengan penuh antusias.

__ADS_1


"Berangkat jam 7 pagi kepagian enggak? Kita bisa sarapan dulu bersama setelah mengunjungi tempat-tempat itu. Jika kamu memberikan waktu satu hari, agaknya kita bisa mengunjungi dua hingga tiga tempat. Gimana?" tawarnya kepada Bulan.


Nampak Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Okey. Boleh...."


__ADS_2