
Setelah mengisi perut dengan Tempe Mendoan dan Teh Panas, Bintang kembali melajukan mobilnya. Membelah jalanan yang menunjukkan panorama yang begitu indah di sepanjang kiri dan kanannya. Pria itu diam dan sesekali melirik Bulan yang juga diam.
Mencairkan keheningnya dan seolah dinding es yang begitu tebal dibangun di antara keduanya, Bintang menyalakan musik yang berasal dari flashdisk yang terpasang di mobilnya. Lantaran Bintang adalah seorang Sobat Ambyar, tentu saja lagu-lagu dari The Lord of Broken Heart yaitu Almarhum Didi Kempot menjadi teman bersenandung bagi pria itu.
Dengan kedua tangan yang mengemudikan stir, Bintang pun bersenandung dalam alunan lagu Campursari yang mendayu-dayu itu.
Tulung sawangen ....
Sawangen aku ....
Sing nandhang rindu ....
(Tolong lihatlah ....
Lihatlah aku ....
Yang sedang merindu ....)
Sedelo wae aku ora bisa
Adoh kowe neng apa ninggalke lunga
Sekedep netra aku ora lilo
__ADS_1
Yen kowe nganti gandeng karo wong liyo
(Sebentar saja aku tidak bisa
Jauh darimu mengapa kamu tinggal pergi
Sekedipan mata pun aku tidak rela
Jikalau kamu justru berhubungan dengan yang lainnya)
Lagu itu memang hanya sebatas lagu, tetapi terasa seperti pria yang tengah patah hati yang sedang melantunkannya. Mendengar suara Bintang yang begitu dalam dan seolah terluka, sesekali Bulan hanya bisa menunduk. Seolah lagu-lagu patah hati itu ditujukan kepada dirinya. Dia menjadi sosok yang menyebabkan pria di sampingnya mengalami patah hati.
Sementara Bintang menikmati lagu-lagu Campursari sembari terus menyanyi, membiarkan Bulan untuk diam. Sebab, Bintang pun tidak tahu harus bagaimana dengan Bulan. Sebagai seorang pria sudah pasti, Bintang tahu bahwa saat ini Bulan sangat canggung. Gadis itu diam berusaha bertahan dari situasi yang penuh kecanggungan di antara keduanya.
Perlahan tetapi pasti, mobil citycar berwarna merah itu mulai memasuki kawasan Sleman, Jogjakarta. Tidak lama lagi mereka akan tiba di rumah Bulan. Pria itu sesekali menghela napas dan menatap Bulan melalui lirikan matanya.
Beberapa meter sebelum memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Bulan, Bintang menghentikan laju mobilnya.
"Bulan, dengarkan aku ... pertama, aku sungguh minta maaf untuk semua yang terjadi hari ini. Jika pengakuan cintaku dan ciuman kita tadi membuat kamu tidak nyaman. Aku benar-benar minta maaf. Kedua, aku hanya ingin memberitahu kepadamu, kalau pria ini tulus mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa pernah bermaksud menikung Surya. Jika memang aku menikungnya, itu sudah kulakukan sejak dulu karena aku memiliki peluang yang lebih banyak darinya. Kamu tahu sendiri, dari dulu aku tidak pernah melakukannya karena aku menghargai persahabatanku dengan Surya dan aku menghargai kamu. Sayangnya, hari ini aku kehilangan daya untuk menahan semuanya. Bulan, percayalah ... cintaku ini tulus dan suci. Jangan hiraukan aku dan perasaanku. Yang utama itu adalah kebahagiaanmu. Jika dengan Surya, kamu bahagia maka aku rela. Ini tanda cintaku Bulan. Cinta ini benar-benar tidak mengharap untuk bersambut. Karena aku tahu sejak awal karena kamu sudah memilih Surya sejak awal."
Hening untuk beberapa saat. Bintang mengubah posisi duduknya di kursi kemudi itu menjadi sedikit miring dan dia menatap Bulan. "Jangan merasa jika menolakku, kamu menyakitiku. Hati ini tidak pernah tersakiti. Hati ini yang memilih untuk mencintaimu dan juga memilih melepasmu dengan bahagia. Hati ini juga selalu berdoa supaya kamu dan Surya bahagia. Percayai hati ini. Percayai perasaan ini." ucapnya.
Bulan pun mengerjap dan sedikit menoleh kepada Bintang. "Sayangnya, semua yang terjadi hari ini membuatku gelisah, Bin ... tidak mudah untuk kembali bersikap normal kepadamu. Tidak mudah merasa tidak terjadi apa-apa di antara kita." jawabnya dengan jujur.
__ADS_1
Bintang tersenyum dan meraih satu tangan Bulan. "Hmm, jangan merasa seperti itu. Juga, suatu hari nanti jika mungkin kamu dan Surya tidak berjodoh. Larilah padaku, Bulan. Seperti kataku tadi, kedua tangan ini akan siap menerimamu. Memastikan untuk membahagiakanmu. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun, tetapi aku memastikan kamu akan bahagia hidup bersamaku. Terima kasih untuk sepanjang hari ini. Terima kasih sudah memberikan telingamu untuk mendengar pengakuan cintaku ini. Tak terbalas pun tidak apa-apa, aku menerimanya."
Bulan menghela napasnya perlahan dan menatap Bintang. "Aku hargai pengakuan cintamu, Bin ... itu adalah hakmu untuk mengutarakannya. Sayangnya, kamu tahu sendiri posisiku kan Bin. Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Maaf ...." jawab Bulan dengan bibir yang bergetar.
Bahkan jantungnya terasa sakit, serasa diremas karena untuk pertama kali seorang Bulan menolak pengakuan cinta dari seorang pria. Sudah pasti Bintang tidak baik-baik saja saat ini, tetapi pria itu selalu berucap bahwa dia baik-baik saja dan perasaannya tidak menuntut balas.
"Tidak apa-apa Bulan, sejak lama aku sudah memutuskan untuk menyukaimu, mencintaimu seorang diri. Ini caraku mencintaimu. Aku sungguh berharap, jika memang Surya adalah pria yang tepat bagimu, dia akan membahagiakanmu. Menghujanimu dengan cinta dan kasih sayang. Sekalipun aku tidak akan berusaha merebutmu dari Surya. Biarkan Tuhan dan semesta yang bekerja, aku hanya mempercayai satu hal bahwa jodoh pasti bertemu. Bagaimanapun caranya, ini adalah misteri dari Tuhan." ucap Bintang perlahan dan dia kembali melajukan mobilnya memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Bulan.
Kali ini Bintang mengemudikan mobilnya dengan begitu pelan, begitu sampai di depan gerbang rumah Bulan, pria itu menghentikan mobilnya sejenak dan melepas sit bealt di badannya. Dia beringsut dan memeluk Bulan.
"Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk semuanya. Aku mencintaimu Bulan ...." ucapnya sembari memeluk erat Bulan.
Pelukan hangat itu pun tidak bersambut karena kedua tangan Bulan sama sekali tidak bergerak untuk membalas pelukannya. Sementara Bintang membiarkan saja seperti itu. Memahami situasi dan gejolak yang mungkin saja dirasakan oleh Bulan.
Sekian detik berlalu, Bintang mengurai pelukannya. "Sudah boleh turun, ayo ... aku antar masuk ke dalam. Aku yang mengajakmu dan berpamitan dengan Bapak dan Ibu, aku juga akan memulangkanmu dengan sopan. Sekaligus aku berpamitan dengan Bapak dan Ibu lagi." ucapnya kemudian turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobilnya bagi Bulan.
Setelahnya Bintang turut memasuki rumah Bulan, ternyata Bapak Hartono dan Ibu Sundari sedang duduk-duduk di depan teras rumahnya.
"Sugeng dhalu (selamat malam dalam bahasa Jawa) Bapak dan Ibu, ini saya mengantarkan Bulan untuk pulang. Terima kasih sudah diberi kesempatan jalan-jalan dengan Bulan." ucap Bintang dengan sopan.
"Sama-sama Mas Bintang, mau mampir dulu atau masuk?" ucap Bu Sundari yang bertanya kepada Bintang.
"Karena sudah malam, saya pamit nggih Bapak dan Ibu ...."
__ADS_1